Opa Jappy
Opa Jappy Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Jika Tak Ingin Kritik, Jangan Menulis dan Publikasi

3 November 2026   07:17 Diperbarui: 3 November 2026   07:17 113 2 1

Opa Jappy | Dokpri
Opa Jappy | Dokpri



Saat ini media publikasi berkembang sangat pesat; mulai dari buku fisik, jurnal ilmiah, blog, hingga media sosial. Bahkan, ada sekitar 44.000 Website Media Berita Online Mainstream dan Non Mainstream. Dengan itu, muncul atau ada ribuan orang yang menulis dan mempublikasi (sesuai tujuan masing-masing).

Menulis merupakan salah satu bentuk ekspresi diri dan penyampaian gagasan yang paling tua serta efektif.  Siapa saja dapat menyampaikan idenya kepada khalayak luas hanya dengan satu klik (apalagi di Era Teks Instan AI). Namun, perlu diingat bahwa, ruang publik bukan tempat steril (tulisan dan publikasi Anda) disetujui tanpa syarat.

Ketika gagasan, hasil olah pikir, opini, dll dirangkai menjadi tulisan dan dipublikasikan; semua yang keluar dari ranah pribadi tersebut menjadi milik publik. Dampak tercepatnya adalah publikasi tersebut mendapat penilaian dari siapa pun; mulai dari yang remeh-remeh, kritik, kritisi, bahkan makian tak jelas. Konsekuensi logis yang mutlak adalah jika seseorang tidak siap dikritik, sebaiknya ia tak menulis dan mempublikasikan karyanya.


Ruang Publik dan Dialektika Pemikiran

Publikasi secara harfiah berarti "membuat sesuatu menjadi umum/terbuka untuk umum." Ketika tulisan masuk ke ranah publik, secara otomatis mengundang tanggapan, reaksi, dan evaluasi dari pembaca dengan latar belakang, sudut pandang, serta pengetahuan yang beragam. Hal tersebut bukan bentuk serangan pribadi, melainkan bagian dialektika pemikiran yang menguji kesahihan argumentasi, logika, dan kebenaran data dalam tulisan tersebut.


Menulis Tanpa Publikasi vs. Menulis untuk Dipublikasikan

Menulis di buku harian atau catatan pribadi adalah aktivitas tertutup, penulis memiliki kendali mutlak tanpa sanggahan dari luar. Namun, ketika memilih mempublikasikan berarti menandatangani kesepakatan tak tertulis agar siap berdialog dengan publik. Mengharapkan hanya puji-pujian tanpa kritik saat mempublikasikan karya adalah ekspektasi tidak realistis.

Kritik Sebagai Bahan Bakar Kedewasaan Berpiki

  • Meningkatkan Kualitas Karya. Tanpa kritik, seorang penulis tak khan pernah mengetahui titik lemah  argumentasi, gaya bahasa atau pun opini serta hasil olah pikirnya. Kritik yang konstruktif justru menjadi cermin agar terjadi perbaikan pada karya-karya berikutnya.
  • Melatih Kedewasaan Mental. Ketakutan atau penolakan terhadap kritik  bersumber pada ego atau "masalah kepribadian" lainnya. Belajar menerima kritik mengajarkan integritas intelektual dan rendah hati bahwa tidak ada pemikiran manusia yang sempurna.
  • Menulis dan mempublikasikan karya adalah keberanian membagikan isi pikiran kepada dunia. Namun, keberanian itu harus satu paket dengan kesiapan menerima respons; misalnya saran, sanggahan, maupun kritik tajam.

    Jika penulis menutup diri atau menolak kritik, sejatinya ia sedang menghentikan proses belajarnya sendiri. Karena publikasi tanpa kritik ibarat berbicara di dalam ruang keheningan dan hampa,
    • tidak ada percakapan
    • tidak ada pertumbuhan
    • tidak ada dinamika pemikiran

Hari Ini, 3 Nop 2026

Opa Jappy  | Lukisastra

Note:

Kepada yang bertanya, "Sebenarnya Siapa Anda kok Kritisi Tulisan Orang Lain."

Jawabannya, "Saya adalah seorang Lukisastra"