pieter sanga lewar
pieter sanga lewar Penulis

Hobi membaca dan menulis artikel, puisi, cerpen, novel, dan baca puisi

Selanjutnya

Tutup

Video

Utang kepada Affan

11 Oktober 2026   12:33 Diperbarui: 11 Oktober 2026   12:33 62 1 0


Utang kepada Affan


Di tengah riuh demonstrasi dan asap jalanan,
Affan rebah di bawah roda kekuasaan,
seorang pengemudi yang hanya mencari nafkah,
namun namanya kemudian tercatat
sebagai pertanyaan yang belum dijawab negara.

Rakyat datang membawa tuntutan dan kegelisahan,
tentang hidup yang semakin mahal dan terasa berat,
tentang keadilan yang kerap berjalan pincang,
lalu kematian Affan mengubah amarah menjadi luka,
dan luka itu menjelma seruan reformasi.

Komisi dibentuk, rapat digelar, rekomendasi ditulis,
kata-kata indah berbaris dalam lembar-lembar laporan,
transparansi, akuntabilitas, integritas, dan hak asasi,
semuanya terdengar seperti janji musim hujan,
yang deras saat diucapkan lalu menguap sesudahnya.

Negeri ini memang pandai menyusun harapan,
tetapi sering gagap saat menunaikannya,
sebab ketika rakyat meminta pembatasan kuasa,
yang datang justru perluasan kewenangan,
dibungkus rapi dalam bahasa peraturan.

Reformasi dipanggil ke ruang sidang,
namun pulang tanpa banyak bekal,
sementara pintu-pintu lama tetap terbuka,
dan persoalan yang dahulu dipersoalkan,
masih berdiri tegak di tempat semula.

Betapa satir perjalanan bangsa ini:
ketika kritik meminta cermin,
yang diberikan justru bingkai baru,
ketika rakyat meminta perbaikan fondasi,
yang dipoles hanya cat di permukaannya.

Kini nama Affan masih berembus di jalan-jalan,
seperti utang moral yang jatuh tempo setiap hari,
mengingatkan bahwa reformasi bukan slogan,
melainkan keberanian mengoreksi diri,
agar hukum benar-benar berpihak pada keadilan.

Sumber: "Mempertanyakan Niat Reformasi Polri" dalam Kompas, Jumat, 12 Juni 2026, hlm. 6.