Puspa Yunita adalah penulis lepas yang aktif menuangkan cerita melalui cerpen, puisi, dan artikel dengan tema kehidupan, sosial, dan pengalaman personal. Berangkat dari keseharian yang dekat dengan dunia pendidikan dan komunitas, ia menghadirkan tulisan yang sederhana namun sarat makna. Baginya, menulis adalah cara untuk menyuarakan hal-hal kecil yang sering terabaikan, sekaligus merawat rasa dalam setiap perjalanan hidup.
Kita berdiri di tanah yang sama…
tapi apakah kita masih satu rasa? 🇮🇩
Ada satu momen yang sederhana… tapi terasa dalam.
Di bawah tiang bendera, kita berdiri.
Melihat merah putih berkibar.
Dan entah kenapa… hari ini terasa berbeda.
Bukan karena benderanya berubah.
Tapi karena kita.

Lagu “Di Bawah Tiang Bendera” karya Iwan Fals kembali terasa relevan. Ia bukan sekadar lagu, melainkan cermin—yang memantulkan keadaan kita hari ini sebagai bangsa.
Kita yang dulu diajarkan tentang persatuan,
tentang gotong royong,
tentang menjadi satu meski berbeda.
Kini, perlahan, kita seperti berjalan menjauh.
Perbedaan yang seharusnya menjadi kekuatan, justru kerap berubah menjadi alasan untuk saling berhadapan.
Di tengah situasi hari ini, kegelisahan itu terasa nyata.
Ada kekhawatiran bahwa persatuan bisa retak… bukan karena rakyatnya, tetapi karena kepentingan-kepentingan yang bermain di atasnya.
Kita sering melihat bagaimana arah kebijakan terasa semakin jauh dari denyut kehidupan masyarakat kecil.
Seolah ada jarak yang melebar—antara keputusan yang diambil, dan realitas yang dijalani.
Dalam situasi seperti ini, penting untuk kita tetap sadar:
jangan sampai kita, sebagai sesama anak bangsa, justru terpecah karena kepentingan yang bukan milik kita.
Padahal kita lahir dari tanah yang sama.
Minum dari air yang sama.
Dan berdiri di bawah langit yang sama.
Lalu kenapa terasa semakin jauh?
Mungkin, yang hilang bukan kebersamaan itu sendiri.
Melainkan kesadaran untuk menjaganya.
Melalui cover sederhana yang saya bagikan, ini bukan tentang kesempurnaan.
Ini hanya upaya kecil untuk mengingatkan—bahwa kita pernah, dan seharusnya masih, menjadi satu.
Bahwa Indonesia tidak dibangun dari suara yang saling mengalahkan,
melainkan dari hati yang saling menguatkan.
Karena pada akhirnya…
kita tidak butuh menjadi sama untuk tetap bersama.
Cukup ingat satu hal:
kita masih berada di bawah tiang bendera yang sama.
Apakah kita masih satu?
Atau hanya merasa satu… saat upacara saja?