R MUHAMADAL AL MAKINUN
R MUHAMADAL AL MAKINUN Dosen

Saya Seorang Akademisi di STKIP Majenang, yang senang berorganisasi dan olah raga beladiri Karate

Selanjutnya

Tutup

Video

Suara dari pematang sawah : Harapan yang Ditanam Setiap Musim

5 November 2026   23:00 Diperbarui: 6 November 2026   05:21 186 2 0

Harapan yang Ditan

Sumber : Foto Pribadi
Sumber : Foto Pribadi
am Setiap Musim

Dari Dusun Bojongsari, Desa Mulyasari, Majenang, Cilacap

Saya lahir dan besar di Bojongsari. Selama itu, ada satu bunyi yang tidak pernah hilang dari ingatan: suara air mengalir di pematang saat musim tanam, disusul bau tanah basah yang khas. Orang kota mungkin menyebutnya "bau lumpur". Bagi saya itu bau harapan.

Setiap musim, para petani di dusun ini menanam sesuatu yang lebih besar dari sekadar padi.

Cerita dari Orang Tua

Waktu kecil, saya mengalami dan sering mendengar orang-orang tua bercerita tentang zaman sebelum 1990. Padi masih tinggi dan lama dipanen, sedangkan hama bisa datang kapan saja. Lalu bibit unggul diperkenalkan, disusul pupuk dan saluran irigasi. Pada 1984, Indonesia mencapai swasembada beras, dan cerita itu selalu diceritakan dengan nada bangga, seakan seluruh desa ikut menang.

Di masa itu, saya masih kecil. Tetapi saya mengenal akibatnya. Di dapur-dapur kampung kami, nasi nyaris tidak pernah kosong. Kami menganggapnya biasa, padahal ada kerja keras bertahun-tahun dibaliknya. Zaman itu belum se modern sekarang, ketika orang tua kami masih sangat familiar dengan cara-cara proses tradisional dan serba diolah dengan kemampuan tangan sendiri.

Ketika Pinggir Jalan Berubah

Yang paling saya ingat justru perubahan yang terjadi di depan mata. Memasuki awal 2000-an, jalan yang melewati kampung kami makin ramai. Kendaraan bertambah, orang lalu-lalang, dan sawah di pinggir jalan mulai di lirik.

Tidak sedikit petak sawah yang dulu hijau berganti menjadi warung, bengkel, kios, atau bangunan usaha lain. Saya tidak bisa menyalahkan pemiliknya. Siapa yang tidak ingin penghasilan lebih pasti? Warga jadi lebih mudah mencari kebutuhan sehari-hari, dan ada pekerjaan baru bagi mereka yang sebelumnya hanya mengandalkan sawah.

Namun setiap kali melewati tempat yang dulu sawah itu, ada sesuatu yang terasa hilang. Saya menyadari sawah kita ternyata bisa habis, perlahan, satu petak demi satu petak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3