R MUHAMADAL AL MAKINUN
R MUHAMADAL AL MAKINUN Dosen

Saya Seorang Akademisi di STKIP Majenang, yang senang berorganisasi dan olah raga beladiri Karate

Selanjutnya

Tutup

Video

Suara dari pematang sawah : Harapan yang Ditanam Setiap Musim

5 November 2026   23:00 Diperbarui: 6 November 2026   05:21 185 2 0

Di tempat yang jauh, seperti Sumatra dan Kalimantan, perubahan datang dalam bentuk lain: kebun kelapa sawit tumbuh pesat dan membuka lapangan kerja. Minyak goreng di dapur kami salah satu hasilnya. Hasil panen berbeda, tetapi polanya sama: tanah selalu berubah mengikuti kebutuhan zaman.

Mesin Besar dan Bangku Kosong di Sawah

Lalu datanglah mesin combine harvester. Kali pertama melihatnya, saya terpana. Dalam hitungan jam, satu petak sawah yang dulu digarap berhari-hari oleh banyak orang selesai dipanen. Padi langsung masuk karung. Bagi petani yang sudah sepuh, mesin ini rasanya seperti bantuan yang datang tepat waktu.

Tetapi ada pertanyaan yang diam-diam mengganggu: kalau mesin sudah memanen, siapa yang akan menanam? Para buruh tani yang dulu memanen dengan tangan kini harus mencari pekerjaan lain. Dan anak-anak muda? Banyak yang memilih bekerja di toko, pabrik, atau berjualan lewat ponsel. Di sawah, yang terlihat tetap bapak-bapak dan kakek-kakek yang punggungnya mulai membungkuk.

Pak Haji Muhlasin dan Tanah yang Memanggil Pulang

Di tengah semua perubahan itu, ada satu sosok di dusun kami yang selalu membuat saya berpikir ulang: Pak Haji Muhlasin.

Beliau lama tinggal di Mekah, hampir puluhan tahun bekerja sekalian beribadah menjadi Munthoif di sekitar Masjid Haram, Bagi banyak orang, tinggal bertahun-tahun di Tanah Suci adalah impian yang sulit dijangkau. Orang yang pernah mengalaminya biasanya pulang dengan banyak pilihan. Bisa membuka usaha di pinggir jalan, berdagang, atau menikmati hari tua tanpa harus berpanas-panas.

Tetapi Pak Haji memilih pulang ke Bojongsari dan kembali menjadi petani. Bukan petani sambilan atau sekadar memiliki sawah untuk dilihat dari jauh. Beliau petani tulen: turun ke sawah, mengurus air, menanam, dan merawat padi dengan tangannya sendiri.

Saya pernah bertanya dalam hati, apa yang membuat seseorang yang pernah hidup jauh di tanah rantau mau kembali menekuni pekerjaan yang oleh banyak anak muda dianggap melelahkan? Ada jawaban yang sangat lugas disampaikan, ternyata selain kecintaan beliau dengan bakat bertaninya, juga ada cerita betapa tawadhunya beliau terhadap pesan guru seorang kyai yaitu kembali ke sawah setelah puluhan tahun mengabdi di Mekkah. Mungkin jawabannya disederhanakan : sawah adalah tempat ia merasa pulang.

Bagi saya, Pak Haji Muhlasin adalah jawaban hidup atas pertanyaan tadi. Mesin boleh memanen, aturan boleh berubah, tetapi sawah baru benar-benar hidup jika ada orang yang setia merawatnya.

Wacana yang Ikut Tumbuh

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3