Saya Seorang Akademisi di STKIP Majenang, yang senang berorganisasi dan olah raga beladiri Karate
Belakangan, ada gagasan yang ramai diperbincangkan: bagaimana kalau petani dijadikan PNS atau ASN? Perlu diluruskan, sejauh yang saya temukan, belum ada kebijakan resmi yang mengangkat petani penggarap menjadi PNS. Yang sudah ada adalah pengangkatan penyuluh pertanian, yaitu petugas pendamping petani, menjadi ASN pada 2021. Pada September 2025, Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar juga menyoroti anak muda yang lebih memilih menjadi ASN daripada bertani.
Saya paham mengapa gagasan itu muncul. Penghasilan tetap adalah hal yang diinginkan siapa pun. Namun melihat sosok seperti Pak Haji Muhlasin, saya berpikir kesetiaan pada sawah tidak lahir dari status pekerjaan, melainkan dari rasa cinta dan penghargaan. Karena itu, kepastian bagi petani mungkin lebih tepat hadir lewat harga gabah yang adil, bibit dan pupuk yang terjangkau, bantuan alat, serta perlindungan ketika gagal panen. Anak muda tidak akan kembali ke sawah hanya karena diminta. Mereka kembali jika sawah menjanjikan masa depan dan dihargai.
Yang Ingin Saya Tanam
Setiap musim, petani di Bojongsari menanam benih yang sama, tetapi dengan harapan yang selalu baru: semoga air cukup,
Saya sendiri lebih sering berada di ruang kelas dan di depan layar daripada di pematang. Tetapi melihat orang seperti Pak Haji Muhlasin, saya belajar bahwa kesetiaan tidak harus besar. Cukup dilakukan setiap musim.
Saya mungkin tidak punya sawah untuk digarap. Tetapi saya bisa menanam hal lain: menghargai nasi di piring, membeli hasil tani dari tetangga sendiri, dan menuliskan cerita ini supaya sawah kampung kami tidak hanya dikenang, tetapi juga dijaga. Sebab di setiap butir nasi yang kita makan, ada musim yang dilewati, tangan yang bekerja, dan harapan yang ditanam dengan sabar.
Hasil panen yang ideal bagi masa depan bukan hanya lumbung yang penuh, tetapi panen yang membuat semua pihak ikut tersenyum. Saya membayangkan Bojongsari di tahun-tahun mendatang: padi tumbuh subur di sawah yang tetap terjaga, mesin membantu pekerjaan berat tanpa mengusir manusia darinya, dan harga gabah cukup adil sehingga petani bisa menyekolahkan anaknya setinggi yang ia mau. Di pematang, bukan lagi hanya bapak-bapak sepuh yang terlihat, tetapi juga anak-anak muda yang pulang membawa ilmu, teknologi, dan rasa bangga menjadi penjaga pangan. Panen seperti itu tidak hanya menghasilkan beras, tetapi juga kepercayaan bahwa bertani adalah pekerjaan yang layak dibanggakan, sebagaimana kesetiaan Pak Haji Muhlasin pada tanahnya. Dan semoga, setiap musim, kita tidak hanya menuai padi, tetapi juga harapan yang terus tumbuh untuk generasi berikutnya.