Saya Seorang Akademisi di STKIP Majenang, yang senang berorganisasi dan olah raga beladiri Karate
Harapan yang Ditan
Dari Dusun Bojongsari, Desa Mulyasari, Majenang, Cilacap
Saya lahir dan besar di Bojongsari. Selama itu, ada satu bunyi yang tidak pernah hilang dari ingatan: suara air mengalir di pematang saat musim tanam, disusul bau tanah basah yang khas. Orang kota mungkin menyebutnya "bau lumpur". Bagi saya itu bau harapan.
Setiap musim, para petani di dusun ini menanam sesuatu yang lebih besar dari sekadar padi.
Cerita dari Orang Tua
Waktu kecil, saya mengalami dan sering mendengar orang-orang tua bercerita tentang zaman sebelum 1990. Padi masih tinggi dan lama dipanen, sedangkan hama bisa datang kapan saja. Lalu bibit unggul diperkenalkan, disusul pupuk dan saluran irigasi. Pada 1984, Indonesia mencapai swasembada beras, dan cerita itu selalu diceritakan dengan nada bangga, seakan seluruh desa ikut menang.
Di masa itu, saya masih kecil. Tetapi saya mengenal akibatnya. Di dapur-dapur kampung kami, nasi nyaris tidak pernah kosong. Kami menganggapnya biasa, padahal ada kerja keras bertahun-tahun dibaliknya. Zaman itu belum se modern sekarang, ketika orang tua kami masih sangat familiar dengan cara-cara proses tradisional dan serba diolah dengan kemampuan tangan sendiri.
Ketika Pinggir Jalan Berubah
Yang paling saya ingat justru perubahan yang terjadi di depan mata. Memasuki awal 2000-an, jalan yang melewati kampung kami makin ramai. Kendaraan bertambah, orang lalu-lalang, dan sawah di pinggir jalan mulai di lirik.
Tidak sedikit petak sawah yang dulu hijau berganti menjadi warung, bengkel, kios, atau bangunan usaha lain. Saya tidak bisa menyalahkan pemiliknya. Siapa yang tidak ingin penghasilan lebih pasti? Warga jadi lebih mudah mencari kebutuhan sehari-hari, dan ada pekerjaan baru bagi mereka yang sebelumnya hanya mengandalkan sawah.
Namun setiap kali melewati tempat yang dulu sawah itu, ada sesuatu yang terasa hilang. Saya menyadari sawah kita ternyata bisa habis, perlahan, satu petak demi satu petak.
Di tempat yang jauh, seperti Sumatra dan Kalimantan, perubahan datang dalam bentuk lain: kebun kelapa sawit tumbuh pesat dan membuka lapangan kerja. Minyak goreng di dapur kami salah satu hasilnya. Hasil panen berbeda, tetapi polanya sama: tanah selalu berubah mengikuti kebutuhan zaman.
Mesin Besar dan Bangku Kosong di Sawah
Lalu datanglah mesin combine harvester. Kali pertama melihatnya, saya terpana. Dalam hitungan jam, satu petak sawah yang dulu digarap berhari-hari oleh banyak orang selesai dipanen. Padi langsung masuk karung. Bagi petani yang sudah sepuh, mesin ini rasanya seperti bantuan yang datang tepat waktu.
Tetapi ada pertanyaan yang diam-diam mengganggu: kalau mesin sudah memanen, siapa yang akan menanam? Para buruh tani yang dulu memanen dengan tangan kini harus mencari pekerjaan lain. Dan anak-anak muda? Banyak yang memilih bekerja di toko, pabrik, atau berjualan lewat ponsel. Di sawah, yang terlihat tetap bapak-bapak dan kakek-kakek yang punggungnya mulai membungkuk.
Pak Haji Muhlasin dan Tanah yang Memanggil Pulang
Di tengah semua perubahan itu, ada satu sosok di dusun kami yang selalu membuat saya berpikir ulang: Pak Haji Muhlasin.
Beliau lama tinggal di Mekah, hampir puluhan tahun bekerja sekalian beribadah menjadi Munthoif di sekitar Masjid Haram, Bagi banyak orang, tinggal bertahun-tahun di Tanah Suci adalah impian yang sulit dijangkau. Orang yang pernah mengalaminya biasanya pulang dengan banyak pilihan. Bisa membuka usaha di pinggir jalan, berdagang, atau menikmati hari tua tanpa harus berpanas-panas.
Tetapi Pak Haji memilih pulang ke Bojongsari dan kembali menjadi petani. Bukan petani sambilan atau sekadar memiliki sawah untuk dilihat dari jauh. Beliau petani tulen: turun ke sawah, mengurus air, menanam, dan merawat padi dengan tangannya sendiri.
Saya pernah bertanya dalam hati, apa yang membuat seseorang yang pernah hidup jauh di tanah rantau mau kembali menekuni pekerjaan yang oleh banyak anak muda dianggap melelahkan? Ada jawaban yang sangat lugas disampaikan, ternyata selain kecintaan beliau dengan bakat bertaninya, juga ada cerita betapa tawadhunya beliau terhadap pesan guru seorang kyai yaitu kembali ke sawah setelah puluhan tahun mengabdi di Mekkah. Mungkin jawabannya disederhanakan : sawah adalah tempat ia merasa pulang.
Bagi saya, Pak Haji Muhlasin adalah jawaban hidup atas pertanyaan tadi. Mesin boleh memanen, aturan boleh berubah, tetapi sawah baru benar-benar hidup jika ada orang yang setia merawatnya.
Wacana yang Ikut Tumbuh
Belakangan, ada gagasan yang ramai diperbincangkan: bagaimana kalau petani dijadikan PNS atau ASN? Perlu diluruskan, sejauh yang saya temukan, belum ada kebijakan resmi yang mengangkat petani penggarap menjadi PNS. Yang sudah ada adalah pengangkatan penyuluh pertanian, yaitu petugas pendamping petani, menjadi ASN pada 2021. Pada September 2025, Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar juga menyoroti anak muda yang lebih memilih menjadi ASN daripada bertani.
Saya paham mengapa gagasan itu muncul. Penghasilan tetap adalah hal yang diinginkan siapa pun. Namun melihat sosok seperti Pak Haji Muhlasin, saya berpikir kesetiaan pada sawah tidak lahir dari status pekerjaan, melainkan dari rasa cinta dan penghargaan. Karena itu, kepastian bagi petani mungkin lebih tepat hadir lewat harga gabah yang adil, bibit dan pupuk yang terjangkau, bantuan alat, serta perlindungan ketika gagal panen. Anak muda tidak akan kembali ke sawah hanya karena diminta. Mereka kembali jika sawah menjanjikan masa depan dan dihargai.
Yang Ingin Saya Tanam
Setiap musim, petani di Bojongsari menanam benih yang sama, tetapi dengan harapan yang selalu baru: semoga air cukup,
Saya sendiri lebih sering berada di ruang kelas dan di depan layar daripada di pematang. Tetapi melihat orang seperti Pak Haji Muhlasin, saya belajar bahwa kesetiaan tidak harus besar. Cukup dilakukan setiap musim.
Saya mungkin tidak punya sawah untuk digarap. Tetapi saya bisa menanam hal lain: menghargai nasi di piring, membeli hasil tani dari tetangga sendiri, dan menuliskan cerita ini supaya sawah kampung kami tidak hanya dikenang, tetapi juga dijaga. Sebab di setiap butir nasi yang kita makan, ada musim yang dilewati, tangan yang bekerja, dan harapan yang ditanam dengan sabar.
Hasil panen yang ideal bagi masa depan bukan hanya lumbung yang penuh, tetapi panen yang membuat semua pihak ikut tersenyum. Saya membayangkan Bojongsari di tahun-tahun mendatang: padi tumbuh subur di sawah yang tetap terjaga, mesin membantu pekerjaan berat tanpa mengusir manusia darinya, dan harga gabah cukup adil sehingga petani bisa menyekolahkan anaknya setinggi yang ia mau. Di pematang, bukan lagi hanya bapak-bapak sepuh yang terlihat, tetapi juga anak-anak muda yang pulang membawa ilmu, teknologi, dan rasa bangga menjadi penjaga pangan. Panen seperti itu tidak hanya menghasilkan beras, tetapi juga kepercayaan bahwa bertani adalah pekerjaan yang layak dibanggakan, sebagaimana kesetiaan Pak Haji Muhlasin pada tanahnya. Dan semoga, setiap musim, kita tidak hanya menuai padi, tetapi juga harapan yang terus tumbuh untuk generasi berikutnya.