Reno Radzabi
Reno Radzabi Seniman

Sutradara dan penulis naskah film Ig: @renoism__

Selanjutnya

Tutup

Video

Come and See (1985): Sampai Tidak Ada Lagi yang Tersisa dari Manusia

6 November 2026   05:27 Diperbarui: 6 November 2026   05:27 192 0 0

Klimov tidak memperlakukan suara hanya sebagai pelengkap gambar. Suara tembakan, ledakan, percakapan yang terdistorsi, hingga perubahan intensitas suara digunakan untuk membangun perspektif psikologis Flyora.

Penonton tidak sekadar mengetahui bahwa perang merupakan sesuatu yang bising dan mengerikan. Kita diajak merasakan bagaimana suara dapat memengaruhi persepsi, menciptakan ketakutan, dan menghancurkan ketenangan seseorang.

Dalam konteks ini, desain suara memiliki fungsi naratif yang sangat kuat. Bahkan ketika gambar tidak secara langsung memperlihatkan kekerasan, suara mampu mempertahankan atmosfer ancaman yang terus menghantui karakter.

Hal tersebut semakin diperkuat melalui penggunaan musik. Pemilihan Lacrimosa dari Requiem karya Wolfgang Amadeus Mozart pada bagian akhir terasa sangat tepat. Komposisi tersebut menghadirkan suasana perkabungan yang begitu kuat, seolah-olah kita sedang menyaksikan sebuah requiem bagi kemanusiaan.

Bagi saya, musik tersebut bukan sekadar penutup sebuah cerita. Ia menjadi penegasan emosional atas segala penderitaan yang telah diperlihatkan sepanjang film.

Sejarah, Kekerasan, dan Ironi Masa Kecil

Salah satu adegan yang paling membekas bagi saya adalah ketika Flyora menemukan sebuah senjata di pantai. Senjata tersebut kemudian digunakan untuk menembaki foto Adolf Hitler.

Adegan ini memiliki lapisan simbolis yang menarik. Seorang anak kecil yang seharusnya menggunakan masa mudanya untuk mengenal dunia justru telah dipaksa berhadapan dengan kekerasan dan kehilangan.

Dalam pembacaan semiotika, senjata dapat dimaknai sebagai simbol kekuasaan sekaligus kekerasan, sedangkan foto Hitler menjadi representasi dari figur dan ideologi yang berkaitan dengan kehancuran tersebut.

Rangkaian gambar Hitler yang diputar mundur menghadirkan gagasan tentang keinginan untuk membatalkan sejarah. Seolah-olah dengan menghancurkan sumber kejahatan, seluruh penderitaan yang telah terjadi dapat dikembalikan seperti semula.

Namun, terdapat ironi yang sangat menyakitkan. Sejarah mungkin dapat dibayangkan untuk diputar kembali, tetapi pengalaman traumatis manusia tidak bisa begitu saja dihapus.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4