Reno Radzabi
Reno Radzabi Seniman

Sutradara dan penulis naskah film Ig: @renoism__

Selanjutnya

Tutup

Video

Come and See (1985): Sampai Tidak Ada Lagi yang Tersisa dari Manusia

6 November 2026   05:27 Diperbarui: 6 November 2026   05:27 192 0 0

Di sinilah saya melihat salah satu gagasan paling kuat dalam film ini: peperangan bukan hanya menghancurkan bangunan, wilayah, atau kehidupan manusia, tetapi juga merampas sesuatu yang tidak mungkin dikembalikan, yaitu masa kecil.

Keindahan Sinema di Tengah Kebiadaban Manusia

Hal lain yang membuat saya begitu kagum adalah bagaimana Elem Klimov menggabungkan berbagai elemen sinematik menjadi satu kesatuan yang sangat terkontrol.

Pacing film terasa begitu terukur. Setiap sequence memiliki fungsi dramaturgis yang jelas. Tidak ada bagian yang terasa sekadar mengisi durasi. Perkembangan cerita dibangun secara bertahap, sehingga penderitaan Flyora tidak hadir sebagai kejadian yang terpisah, melainkan sebagai akumulasi pengalaman yang semakin menghancurkan kondisi psikologisnya.

Sinematografi, penyuntingan, akting, desain suara, dan musik tidak bekerja secara terpisah. Semuanya saling mendukung untuk menciptakan pengalaman yang utuh.

Saya juga tertarik pada kontras antara keindahan komposisi gambar dan keburukan peristiwa yang ditampilkan. Lanskap alam, pepohonan, rawa, serta lingkungan pedesaan divisualisasikan dengan pendekatan fotografi yang sangat kuat. Namun, keindahan tersebut justru menjadi kontras dengan kekejaman yang berlangsung di dalamnya.

Klimov tidak sedang membuat perang terlihat indah. Ia menggunakan keindahan bahasa sinema untuk memperlihatkan sesuatu yang sama sekali tidak indah.

Sebuah Pengalaman yang Sulit Diterjemahkan Menjadi Kata-Kata

Saya bisa merasakan seolah-olah mencium bau darah, merasakan getirnya penderitaan, menyaksikan amarah, kesedihan, bahkan tawa yang lahir dari kegilaan dunia ini.

Pengalaman menonton Come and See membuat saya menyadari bahwa kekuatan sinema tidak selalu terletak pada kemampuannya menyampaikan sebuah cerita. Terkadang, kekuatan terbesar sebuah film justru terletak pada kemampuannya membuat penonton mengalami sesuatu yang sebelumnya hanya dapat mereka bayangkan.

Saya mencoba melihat film ini secara objektif melalui penulisan, sinematografi, mise-en-scne, penyuntingan, tata suara, dan performa para pemerannya. Namun, semakin saya membedahnya, semakin saya menyadari betapa sulitnya memisahkan penilaian teknis dari pengalaman emosional yang ditinggalkannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4