


Bandung, 24 September 2026 -- Sebuah film pendek karya mahasiswa ISBI Bandung, Rizki Novriyan, untuk memenuhi Tugas Akhir Semesternya telah di garap pada tahun 2024. Fuzzbox bercerita mengenai bagaimana tenang yang Jimi cari di tengah badai dari berbagai masalah yang melanda hidupnya menjadi sebuah masalah baru yang makin memperburuk keadaan. Diceritakan, Jimi seorang mahasiswa yang kesehariannya lari dari masalah dan memilih meredamnya dengan obat antidepresan di setiap harinya hingga akhirnya ia terjatuh pada siklus yang berulang.
Kisah Jimi ini diambil dari apa yang Rizki Novriyan lihat pada lingkungannya. Banyak orang-orang kabur dari masalah-masalah berat. Mereka bingung dan gelisah bagaimana itu semua bisa di akhiri dan akhirnya mereka memilih banyak jalur untuk mengakhiri. Jimi salah satunya memilih meredam emosi dan perasaan dengan antidepresan yang membuatnya tenang untuk sementara. Dan ketika tubuh sudah terlalu banyak menelan kimia, reaksi yang dikeluarkan bukanlah tenang melainkan distorsi.
Fuzzbox tidak mencoba menjadi cerita tentang bagaimana seseorang harus menyelesaikan masalahnya. Film ini justru berdiri di tengah kekacauan itu sendiri di ruang ketika manusia sudah terlalu lelah untuk melawan, tetapi juga terlalu takut untuk benar-benar menghadapi apa yang ada di kepalanya. Jimi menjadi gambaran dari manusia yang memilih tombol mute ketika hidup mulai terlalu berisik. Ia menekan semuanya ke dalam: amarah, kecemasan, rasa bersalah, ketakutan, juga berbagai hal yang tidak pernah selesai dibicarakan. Antidepresan kemudian hadir bukan sekadar sebagai benda dalam cerita, tetapi sebagai simbol dari keinginan manusia untuk mendapatkan ketenangan secara instan. Tenang yang dibeli dengan cara apa pun, meski hanya bertahan sebentar.
Apa yang ditekan akan mencari jalan untuk kembali. Apa yang direndam akan mengendap. Dan sesuatu yang terlalu lama disimpan pada akhirnya tidak lagi keluar dalam bentuk yang sama. Di titik inilah Fuzzbox mulai bekerja bukan sebagai kisah tentang kegilaan, tetapi sebagai gambaran tentang bagaimana realitas dapat berubah bentuk ketika seseorang terlalu lama berusaha melarikan diri darinya. Secara visual, Fuzzbox membawa suasana yang dekat dengan kegelisahan kota: sempit, bising, dingin, repetitif, dan penuh ruang kosong. Lingkungan Jimi menjadi perpanjangan dari kepalanya sendiri. Ruang yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru perlahan terasa seperti jebakan. Rutinitas yang berulang berubah menjadi semacam mesin yang terus menggiling penghuninya tanpa pernah benar-benar berhenti. Judul "Fuzzbox" sendiri berangkat dari gagasan mengenai distorsi. Fuzz adalah suara yang pecah, kasar, dan tidak lagi bersih. Ia bukan sekadar kebisingan, melainkan suara yang mengalami gangguan hingga bentuk aslinya sulit dikenali. Begitu pula dengan Jimi, Semakin ia berusaha membuat hidupnya terdengar tenang, semakin keras distorsi yang muncul dari dalam dirinya.
Fuzzbox bukan ajakan untuk lari. Bukan pula cerita dengan jawaban yang rapi. Ia adalah potongan kecil dari kegelisahan yang mungkin terlalu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tentang manusia yang ingin baik-baik saja, tetapi tidak pernah benar-benar tahu bagaimana caranya. Tentang kepala yang terlalu penuh dan dunia yang tidak pernah memberikan tombol pause. Pada akhirnya, Jimi bukanlah seseorang yang sedang mencari cara untuk menang. Ia hanya sedang mencari cara untuk bertahan.