Mencari keindahan dalam kesederhanaan, tapi tak pernah ragu melangkah ke pengalaman baru

Saya nonton "Pesta Babi" sambil makan. Joke yang garing, tapi nyata sementara orang Papua sedang disingkirkan dari hutan leluhur mereka, saya nyaman di rumah dengan perut kenyang. Dokumenter Watch Dog ini bukan sekadar film tentang ritual budaya atau keindahan Papua. Tidak. Ini adalah bom sosiologi yang meledak di ruang putih otak Anda, meninggalkan pertanyaan yang tidak bisa dihapus Apakah aku bagian dari sistem yang menghancurkan negara sendiri?
Tidak perlu filosofi rumit. Sederhananya saat pemilu, kita voting. Voting itu membentuk pemerintah. Pemerintah itu approve proyek. Proyek itu buka 2,5 juta hektar hutan Papua jadi perkebunan sawit. Jadi ya... terhitung saya punya tanggung jawab di sini, kan?
Kolonialisme Pakai Setelan Rapi dan Izin Resmi
Jangan salah Kolonialisme zaman sekarang lebih licin daripada yang dulu. Dulu penjajah datang dengan senjata dan berteriak-teriak. Sekarang? Mereka pakai PowerPoint, surat resmi, dan bahasa "pembangunan berkelanjutan." Presiden bilang"Food estate ini untuk kemakmuran rakyat." Pengusaha bilang "Ini investasi buat ekonomi nasional." Pemerintah bilang"Ini sudah melalui studi kelayakan." Tetapi coba tanya orang Papua yang sudah tinggal di sana berabad-abad. Mereka lihat apa? Hutan mereka jadi lahan kosong. Upacara adat mereka kehilangan tempat. Anak cucu mereka tidak tahu lagi bagaimana caranya hidup dari alam karena alamnya sudah diambil alih sebanyak 2,5 juta hektar. Bayangkan seberapa besar lahan "kosong yang belum dikembangkan."
Upacara Sebagai Perlawanan
Saya terguncang saat nonton bagian ini, tetapi masyarakat Papua tidak cengeng. Mereka tidak minta kasihan, mereka juga tidak merengek ke pemerintah. Mereka malah balik langkah dengan pulang ke upacara adat. Mereka tarik ikat pinggang dan bilang "Hutan ini milik leluhur kamidan kami akan jaga." Ritual "Awan Atap" dan upacara-upacara lain itu bukan sekadar nostalgia budaya yang romantis. Ini adalah taktik survival kalau hutan habis, sistem ekonomi mereka colaps. Tidak ada safety net dari pemerintah. Tidak ada program pensiun. Hutan adalah program pensiun mereka. Sementara Jakarta khawatir soal GDP, Papua khawatir soal bisakah anak-anakku makan minggu depan? Sebuah perbedaan perspektif yang tidak bisa dijembatani sama PowerPoint apapun.
Film "Pesta Babi" tidak memberikan solusi mudah. Tidak ada ending yang menyenangkan. Yang ada adalah pertanyaan yang mengganggu: "Apakah aku cukup peduli untuk berubah?"
Kalau jawab ya, ini beberapa cara untuk tidak sekadar merasa bersalah:
1. Nonton, sungguh-sungguh nonton. Jangan sekadar nonton sambil males. Nonton sampai kamu merasa tidak nyaman.
2. Jangan cuma share di stories Instagram orang sudah tahu bahwa kena dampak negatif yang perlu mereka tahu adalah kenapa ini masih berlanjut Dan siapa yang memiliki keuntungan.