
Upacara tersebut telah menjadi kegiatan rutin setiap hari Senin dengan melibatkan petugas Rutan bersama warga binaan. Pelaksanaannya berlangsung sebagaimana upacara bendera pada umumnya, tetapi kehadiran warga binaan di dalamnya memberi makna tersendiri sebagai bagian dari proses pembinaan selama menjalani masa pidana.
Di tengah barisan, petugas bersama warga binaan juga membacakan Tri Dharma. Sementara itu, seluruh warga binaan mengikuti pembacaan Catur Dharma Narapidana. Keduanya menjadi bagian dari pengingat mengenai kewajiban, sikap, dan nilai yang perlu dijaga selama berada di lingkungan pemasyarakatan.
Suasana upacara berlangsung tertib. Tidak ada jarak yang dibuat untuk sekadar membedakan siapa yang petugas dan siapa yang warga binaan. Masing-masing berdiri pada perannya, mengikuti kegiatan yang sama, dan menjaga sikap selama upacara berlangsung.
Dalam amanatnya, Inspektur Upacara mengingatkan agar seluruh warga binaan dan petugas senantiasa menjaga ketertiban di lingkungan Rutan. Ia menekankan bahwa Rutan merupakan tempat yang sehari-hari dihuni dan digunakan bersama sehingga keamanan dan ketertiban perlu dijaga bersama.
"Ini adalah rumah kita. Karena itu, mari sama-sama menjaga ketertiban dan keamanan di dalamnya," pesan Inspektur Upacara dalam amanatnya.
Upacara setiap Senin tersebut menjadi bagian dari pembinaan yang tidak hanya berbicara tentang barisan dan kedisiplinan. Di dalamnya terdapat kesempatan untuk kembali mengingat nilai kebangsaan, menjalankan kewajiban, serta membangun kebiasaan tertib selama berada di Rutan.
Bagi warga binaan, Senin pagi menjadi awal pekan dengan suasana yang mengingatkan bahwa proses menjalani masa pidana juga diisi dengan pembinaan. Di lapangan yang sama, Merah Putih berkibar dan seluruh peserta berdiri bersama---sebuah rutinitas yang sederhana, tetapi terus dijaga sebagai bagian dari kehidupan di Rutan Pasangkayu.