Pendidikan SD hingga SMA di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kuliah D3 IKIP Negeri Yogyakarta (sekarang UNY) dilanjutkan ke Universitas Terbuka (S1). Bekerja sebagai guru SMA (1987-2004), Kepsek (2004-2017), Pengawas Sekolah jenjang SMP (2017- 2024), dan pensiun PNS sejak 1 Februari 2024.
Suasana Malam Hari Jalan Malioboro Yogyakarta (30/8/25)
Demonstrasi atau unjuk rasa pada pekan terakhir bulan Agustus 2025 cukup marak di berbagai kota di Indonesia. Banyak orang berkumpul di depan kantor DPRD dan mapolda. Aksi anarkis sempat terekam dan diekspos di media massa.

Pada malam hari Sabtu (malam Minggu) tanggal 30 Agustus 2025 saya berkesempatan berjalan-jalan di Malioboro, ikon Kota Yogyakarta. Saya benar-benar tidak menyangka, wisatawan cukup banyak. Boleh dikata membludak!

Akhir bulan, bukan masa libur sekolah atau cuti bersama tetapi cukup banyak wisatawan mondar-mandir di Jalan Malioboro dan sekitarnya.
Saya mulai keluar dari hotel sehabis waktu salat magrib dan sehabis makan malam di sebuah warung sederhana dekat hotel.

Saya muncul melewati gerbang bertuliskan Kawasan Wisata Dagen. Sepanjang jalan (gang) tersebut banyak berdiri hotel dan rumah makan serta warung pinggir jalan, termasuk angkringan yang menjual nasi kucing.
Jalan yang saya lewati itu padat orang lewat. Selain itu, mobil harus berbagi jalan dengan becak, andong, dan pejalan kaki dari dua arah berlawanan.
Kesabaran dan kehati-hatian sangat dibutuhkan dalam situasi seperti itu. Posisi badan perlu dimiringkan agar dapat melewati sisa jalan yang menyempit. Kita tidak dapat menunggu orang lain lewat lebih dahulu. Perlu ada usaha memanfaatkan jalan sempit dengan memiringkan badan.
Kalau dalam keadaan terburu-buru, janganlah sekali-kali melewati jalan seperti itu. Apalagi saat perut dalam keadaan kosong, tentu emosi akan naik.
Saya merasa beruntung karena sudah menikmati nasi goreng dan minum teh hangat di warung dekat hotel. Dalam keadaan perut kenyang dan kondisi fisik sehat, jalur jalan yang sempit tidak menjadi masalah.
Pengunjung Padat, Saya Kira Sedang Berdemo
Pada saat tiba di jalan utama Malioboro, saya merasa kaget. Pengunjung begitu banyak. Saya pikir sedang ada demo mengingat tidak jauh dari sana ada gedung DPRD Yogyakarta.
Namun, saya merasa lega saat melihat pengunjung adalah masyarakat biasa yang tampak sedang berwisata. Ada pasangan suami istri, ada muda-mudi, dan ada rombongan keluarga kecil, rombongan organisasi, dan banyak ragam pengunjung pada malam hari itu.
Saya tidak dapat berjalan dengan tergesa-gesa karena banyaknya orang yang berjalan dalam dua arah berkebalikan. Saat satu sisi penuh orang saya berusaha mencari sisi lain yang agak sepi pengunjung.
Bangku-bangku di sepanjang jalan rata-rata sudah diduduki pengunjung. Ada yang duduk sambil memegang ponsel. Ada yang duduk bercakap-cakap dengan kawan di sebelahnya.
Suara dari dalam toko di sepanjang jalan itu terdengar bersahut-sahutan. Para pramuniaga meneriakkan jenis barang dagangannya yang diklaim cukup murah. Promosi secara verbal memang diperlukan di tengah hiruk-pikuk pengunjung yang hanya lewat dan berlalu di depan toko suvenir dan oleh-oleh.
Lampu berwarna-warni dari dalam toko dipasang dengan harapan dapat menarik para wisatawan yang lalu-lalang. Penataan barang dagangan dibuat semenarik mungkin sehingga dapat mengundang wisatawan untuk singgah.
Banyaknya toko berjajar di pinggir jalan tesebut menimbulkan persaingan untuk menarik minat pembeli yang mayoritas merupakan wisatawan dari luar daerah Yogyakarta.
Merekam Suasana Depan Plaza Malioboro
Pada saat saya berada di seberang jalan Plaza Malioboro, saya menyaksikan suasana yang menarik. Beberapa pengunjung atau wisatawan sedang duduk di atas bangku. Kemudian ada tukang pijat atau tukang urut yang sedang mengurut kaki mereka.
Bukan hanya satu. Ada beberapa wisatawan yang sedang duduk dan kakinya diurut. Bukan hanya laki-laki. Ada kaum ibu yang tanpa malu-malu, kakinya diurut di tempat terbuka.
Umumnya para wisatawan yang datang ke Yogyakarta banyak melakukan perjalanan. Umumnya perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki. Hal itu membuat mereka mudah lelah. Kaki terasa pegal. Jadwal kunjungan yang terbatas, membuat mereka harus mengejar waktu.
Saat berada di suatu tempat mereka tidak bisa berlama-lama karena ada tempat wisata lain yang harus segera dikunjungi. Wisatawan yang tidak terbiasa berjalan kaki dalam waktu lama tentu akan merasa lelah, letih, dan loyo.
Pada saat ada tukang pijat, mereka seperti mendapatkan angin surga. Tanpa banyak pertimbangan mereka langsung bersedia dipijat saat ada tukang pijat yang menawarkan jasanya.
Selain tukang pijat, dalam waktu bersamaan, saya juga menyaksikan pedagang asongan yang sedang melayani pembeli. Pedagang itu tampak menjual tisu wajah.
Tidak jauh dari pedagang asongan terlihat ada pengamen yang tampaknya dalam kondisi buta (tunanetra). Ada dua orang pengamen dalam kondisi seperti itu bekerja sama, berjalan beriringan.
Mereka berjalan menyusuri jalur khusus, yaitu jalur dengan model lantai keramik yang ada tonjolannya. Keduanya tidak takut dengan banyaknya pengunjung yang memadati sepanjang trotoar. Mereka sudah terlatih berjalan dalam jalur seperti itu.
Kalau Anda pernah berkunjung ke Malioboro, tentu sudah tidak asing dengan pemandangan seperti itu. Ada pengamen, pedagang asongan, bahkan pengemis pun sering muncul tiba-tiba di depan wisatawan yang sedang duduk-duduk santai menikmati suasana.
Tips Berwisata Nyaman di Yogyakarta
Untuk berwisata ke Yogyakarta perlu perencanaan matang. Hal itu mengingat banyaknya wisatawan yang sering menumpuk pada suatu objek wisata tertentu.
Berikut beberapa tips untuk wisatawan yang ingin berkunjung ke Yogyakarta:
1. Rencanakan berapa lama akan tinggal di Yogyakarta
2. Pilih tempat menginap yang dekat dengan objek wisata utama
3. Carilah objek wisata yang satu jalur (bukan berlawanan arah) agar hemat waktu
4. Cari tempat makan yang sesuai isi kantong bukan tempat makan yang viral
5. Jaga kondisi fisik agar tidak kelelahan selama berwisata
Jika lama tinggal di Yogyakarta hanya dua atau tiga hari, pemilihan objek wisata harus cermat. Tentukan lebih dahulu objek wisata utama. Setelah menentukan objek wisata utama, musalnya di Jalan Malioboro, segera mencari tempat menginap sesuai budget. Pilih tempat menginap dengan teliti. Jangan mudah tergiur dengan iklan di media sosial.
Kalau saya pribadi merasa lebih nyaman mencari tempat menginap menggunakan aplikasi. Baca dengan cermat reviu para pengunjung yang pernah menginap di sana.
Selanjutnya, carilah objek wisata yang satu jalur dengan objek wisata utama. Hal itu akan menghemat waktu. Jatah waktu yang tersedia tidak akan banyak terbuang di jalanan (selama menuju objek wisata lain).
Untuk urusan makan perlu diperhatikan. Jangan tergoda dengan tempat makan yang viral di media sosial. Biasanya, pengunjung akan membludak pada tempat makan yang viral. Waktu akan terbuang untuk antre mendapatkan giliran makan.
Jika tujuan utama (objek wisata utama) adalah tempat kuliner, pastikan sudah melakukan reservasi (pesan tempat) jauh hari agar mendapatkan pelayanan tepat waktu.
Apabila makanan bisa dibungkus (nasi kotak) itu lebih baik. Waktu dalam perjalanan (naik bus, misalnya) Anda dapat makan sambil menuju objek wisata yang akan dikunjungi.
Satu hal yang tidak kalah penting, jaga kondisi fisik. Berwisata ibarat sedang maju "berperang". Untuk mendapatkan penampilan yang prima, kondisi fisik perlu dijaga. istirahat harus cukup. Jangan begadang!
Selamat berwisata!
Ditulis di Klaten, 1 September 2025