Pendidikan SD hingga SMA di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kuliah D3 IKIP Negeri Yogyakarta (sekarang UNY) dilanjutkan ke Universitas Terbuka (S1). Bekerja sebagai guru SMA (1987-2004), Kepsek (2004-2017), Pengawas Sekolah jenjang SMP (2017- 2024), dan pensiun PNS sejak 1 Februari 2024.

Saat tanda waktu di handphone masih menunjukkan pukul 03.05 dini hari, saya segera kembali ke pembaringan. Beberapa menit sebelumnya saya terbangun karena merasa ingin buang air kecil. Begitulah kondisi saya beberapa bulan terakhir. Sering terbangun menjelang pagi. Rasa ingin buang air kecil yang mendesak. Saya pasti segera bangun. Kamar kecil langsung saya tuju. Usai buang air, saya singgah di dapur untuk meminum sedikit air putih hangat.

Hari Senin tanggal tujuh Oktober 2019 mendung menggelayut pada pukul enam pagi. Suara guntur terdengar dari kejauhan. Warna langit kehitam-hitaman. Orang-orang yang akan beraktivitas di luar rumah tentu sudah berjaga-jaga untuk menghadapi kemungkinan hujan yang akan turun.
Pada pukul 06.29 wita saya masih bersiap-siap untuk meninggalkan rumah. Agenda sudah disusun. Alternatif atau pengalihan agenda sudah disiapkan. Dengan membuat plan A dan plan B saya tidak akan terlalu kecewa bila rencana awal batal. Sebagai pengawas sekolah saya harus lebih bersabar menghadapi berbagai perubahan jadwal. Situasi dan kondisi di lapangan sering berubah-ubah.

Hujan kemarin pagi membuat agenda berkunjung ke SMPN 15 PPU di Kelurahan Gersik sedikit mengalami kendala. Saya dan Pak Anas Baenana seharusnya naik kapal speedboat panjang yang muat sekitar 25 orang. Namun, kami berdua harus naik speedboat lain. Hal itu disebabkan speedboat panjang sudah penuh. Kapal cepat itu sudah memiliki pelanggan tetap. Jika semua pelanggan masuk kerja semua, kapal akan penuh. Berhubung kemarin hari Senin, kelihatannya semua pelanggan kapal masuk kerja semua.

Penumpang baru yang ikut dalam kapal itu adalah para kepala sekolah baru di SD 007 dan SD 035 Penajam yang keduanya laki-laki. Kepala sekolah lama juga ikut kapal tersebut. Untunglah, Bu Nurul, bendahara SMPN 15 PPU berinisiatif mencarter speedboat kecil. Dengan begitu kami tetap dapat berangkat. Bahkan kapal kami lebih dahulu tiba di tempat tujuan, yaitu Pelabuhan Jenebora.
Acara serah terima jabatan kepala SMPN 15 PPU berlangsung lancar. Demikian pula serah terima jabatan kepala SMPN 19 PPU. Pak Sukisno bertukar tempat dengan Bu Dwi Astutik. Pelaksanaan serah terima hanya dilakukan di satu tempat, yaitu di SMPN 15 PPU. Guru-guru SMPN 19 dan SMPN 15 bergabung dalam satu ruangan. Demikian pula undangan dari kedua sekolah.
Acara serah terima jabatan pada hari Senin kemarin juga berlangsung di SMPN 2 PPU. Ada tiga kepala sekolah yang 'berputar' posisi. Pak Hanafi mutasi dari SMPN 2 PPU ke SMPN 20 PPU, Pak Sugeng Subandi mutasi dari SMPN 20 PPU ke SMPN 6 PPU, dan Pak Supardi mutasi dari SMPN 6 PPU ke SMPN 2 PPU. Acara serah terima jabatan di Sepaku itu dihadiri oleh Pak Tri Wahjoedi.
Di sela-sela menyaksikan prosesi acara serah terima, saya mendapatkan berita duka. Rupanya hujan hari Senin kemarin membawa korban jiwa. Dari RT 13 Desa Telemow, Kecamatan Sepaku, ada dua orang yang tewas tersambar petir. Keduanya sedang berteduh di bawah pohon setelah mengetahui hujan turun. Sebelumnya, mereka sedang membersihkan kebun/ladang. Ada dua orang lain yang selamat tetapi mengalami luka-luka. Berita orang tersambar petir memang sudah beberapa kali terjadi di wilayah Kalimantan.
Hari ini tanggal delapan Oktober 2019. Para kepala sekolah diundang untuk menerima SK mutasi tersebut. Mereka diminta membawa bukti serah terima jabatan dari sekolah lama ke sekolah baru. Acara seremonial mutasi sudah dilaksanakan pada hari Senin tanggal 23 September 2019 di aula kantor bupati. Waktu itu, SK mutasi belum ditandatangani sehingga belum diserahkan kepada yang bersangkutan mengingat jumlah SK lebih dari 120. Perlu waktu ekstra untuk penandatanganan SK kepsek yang baru tersebut mengingat bupati yang harus tanda tangan.
Cuaca hari Selasa ini agak cerah. Berbeda dengan kemarin pagi. Saat saya meninggalkan rumah sekitar pukul tujuh pagi, mendung tampak begitu mencekam. Saya singgah sebentar ke SMPN 1 PPU. Pak Budi Lestarianto berdiri di dekat pintu masuk. Ia menyalami para siswa yang baru datang. Saya sampaikan kepada Pak Budi bahwa saya perlu tanda tangan dan stempel sekolah sebagai tanda kehadiran pagi (finger print).
Kemarin hanya sebentar saya di SMPN 1 PPU. Sepeda motor segera saya lajukan ke tempat penitipan langganan Sehan Abadi. Kemudian saya segera berjalan kaki menuju dermaga pelabuhan speedboat.
Pagi hari Selasa tanggal delapan Oktober 2019 hari ini, saya tidak perlu terburu-buru saat berangkat kerja. Tiba di kantor disdikpora, petugas cleaning service sedang membuka pintu depan. Waktu memang belum pukul tujuh. Saat saya duduk di ruang pengawas ber-AC, tanda waktu di HP baru menunjukkan pukul 06.49 wita.

Agenda hari ini adalah menyaksikan penyerahan SK kepala sekolah di ruang pertemuan SMPN 21 PPU. Hanya dua pengawas SMP yang ada kesempatan datang, yaitu saya, Suprihadi dan Pak Habel Hewi. Beberapa pengawas menjalankan tugas ke luar daerah. Pak Mokhamad Syafii dan Pak Sugeng Mardisantoso menjalankan tugas sebagai asesor ke Malinau mulai kemarin hingga hari Jumat yang akan datang. Kemudian Pak Mukafik menjalankan tugas yang sama ke Kabupaten Pasir mulai hari Senin kemarin juga.

Sebelum SK kepala sekolah dibagikan, ada sambutan dari asisten III Bupati, Pak Alimuddin. Ada beberapa hal disampaikan terkait tugas kepala sekolah. Sebagai kepanjangan tangan dari bupati, kepala sekolah harus mendukung program-program yang dicanangkan bupati, misalnya seragam sekolah gratis. Kepala sekolah harus segera mengambil seragam sekolah untuk sekolah yang dipimpinnya pada periode ini. Seragam siswa baru 2019/2020 itu sempat menjadi perbincangan beberapa waktu yang lewat.

Selasa siang saya melakukan perjalanan ke Kota Balikpapan. Tujuan utama saya hanya satu, yaitu berbelanja di stokis produk herbal di belakang Pasar Pandansari. Sebelum menuju ke sana, saya singgah makan nasi soto lamongan langganan, di sudut jalan (belokan) dekat papan nama pelabuhan Kampung Baru Tengah. Seperti biasa, saya memesan porsi 'separuh', artinya porsi kecil. Seusai menyantap soto yang hangat itu saya baru memesan minuman teh hangat yang dimasukkan dalam kantong plastik. Ada sedotan. Sedikit-sedikit minuman itu saya sedot sepanjang perjalanan menaiki angkot nomor lima.
Saat perjalanan pulang, sewaktu saya berada di atas kapal klotok, ada pesan WA datang dari Mas Bana, staf pada bagian umum (tata usaha) disdikpora. Ia menampilkan nama-nama pengawas yang sudah mengumpulkan fotokopi SK pangkat terakhir. Saya pun memelototi satu per satu nama yang dirinci. Astaga! Dari sembilan pengawas, ada tiga orang yang belum ada dalam daftar. Mereka adalah : Pak Anas Baenana, Pak Mukafik, dan Bu Hj. Sri Sutjiati.
Dengan spontan saya kopi data itu, kemudian saya share ke grup Pengawas SMP. Selain itu, saya wapri dua teman pengawas dan saya telepon lewat WA. Alhamdulillah, mereka sangat responsif. Foto SK pangkat terakhir segera mereka kirimkan ke wapri Mas Bana. Beruntunglah ada fasilitas kamera HP dan WA. Hal itu memudahkan kerja. Apabila kita harus membawa sendiri fotokopian SK dalam bentuk fisik ke kantor disdikpora, tentu akan memerlukan waktu yang tidak sebentar.
(Bersambung)
#Catatan Ringan Pengawas Sekolah (166)
#Catatan tanggal 7 dan 8 Oktober 2019
#Penyerahan SK Pengangkatan Kepala Sekolah TK, SD, dan SMP PPU