Pendidikan SD hingga SMA di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kuliah D3 IKIP Negeri Yogyakarta (sekarang UNY) dilanjutkan ke Universitas Terbuka (S1). Bekerja sebagai guru SMA (1987-2004), Kepsek (2004-2017), Pengawas Sekolah jenjang SMP (2017- 2024), dan pensiun PNS sejak 1 Februari 2024.

Tinggal di Kalimantan bukan berarti harus meninggalkan budaya asal nenek moyang. Orang tua pengantin pria dan wanita mempunyai nenek moyang etnis Jawa. Tidak mengherankan kalau tradisi pengantin Jawa digunakan dalam acara resepsi pernikahan putri pertama Pak Syafii.
Pada saat saya hampir selesai menikmati hidangan resepsi, diumumkan oleh pembawa acara bahwa tidak lama lagi akan dilaksanakan prosesi temu pengantin adat Jawa.

Durasi atau waktu pelaksanaan upacara tradisi temu pengantin itu sekitar dua puluh menit. Demikian informasi yang sempat saya dengar dari pembawa acara.
Saya merasa senang karena akan menyaksikan tradisi yang sudah cukup lama tidak saya saksikan secara langsung. Tradisi temu pengantin adalah tradisi yang memiliki simbol-simbol yang sangat menarik.
Sebelum acara temu pengantin dimulai, dari arah belakang panggung ada iring-iringan pembawa "kembar mayang". Ada empat kembar mayang yang dibawa.
Dua kembar mayang dibawa oleh remaja laki-laki dan dua kembar mayang yang lain dibawa oleh remaja perempuan. kembar mayang adalah rangkaian hiasan dengan janur dan dedaunan yang tampak menonjol.
Bahan-bahan untuk membuat kembar mayang memiliki simbol atau filosofi yang sangat mendalam. Bukan sembarang daun atau hiasan yang dirangkai dalam sebuah kembar mayang.
Untuk mengenal lebih terinci makna atau simbol kembar mayang, silakan membaca dalam referensi yang dapat dijadikan bahan bacaan:
1. http://amp.kompas.com/apa-itu-kembar-mayang-dalam-pernikahan-adat-jawa-ini-arti-makna-
2. https://jurnal.stkippgriponorogo.ac.id/index.php/DIWANGKARA/article/view/144
3. https://www.detik.com/makna-dan-filosofi-kembar-mayang-di-pernikahan-adat-jawa
Sambil menunggu prosesi temu pengantin, saya menyempatkan waktu untuk mengamati keadaan sekeliling ruang aula tempat pelaksanaan resepsi pernikahan putri pertama Pak Syafii, Risya.
Pada saat masuk ruang resepsi, saya sudah bertemu banyak teman. Setelah bertemu Bu Wagiyamawati dan suaminya serta satu guru agama Islam SMP 3 PPU dan istrinya, saya bertemu Pak Syamsudin, pengawas SD.
Pada saat mengambil makanan, saya juga berjumpa dengan Pak Pramana, mantan kepala SMP Dharma Husada. Selain itu, banyak orang yang mengenal saya sdan mendekati saya untuk bertegus sapa. Saya sudah tidak dapat menghitung berapa banyak teman atau kenalan yang menyapa dan mengajak berbincang sebentar.
Dalam video pendek yang disertakan dalam tulisan sederhana ini tampak pembawa kembar mayang sedang berjalan menuju tempat prosesi adat temu pengantin.
Mereka tampak diberi komando atau aba-aba dari panitia. Harap dimaklumi para remaja yang membawa kembar mayang masih "anak-anak" dalam artian mereka belum menikah.
Acara dilangsungkan di Kalimantan. Mereka mungkin belum pernah menyaksikan acara serupa sehingga perli dibimbing dan diarahkan agar tidak keliru atau salah dalam melangkah.
Penajam Paser Utara, 10 Januari 2026