Ketiga, bersyukur atas kesempatan bekerja.
Tidak semua orang mendapat kesempatan untuk berkarya sesuai panggilan hidupnya. Menjadi guru bukan sekadar profesi, tetapi ladang pelayanan. Setiap hari adalah kesempatan untuk menanam nilai, bukan hanya menyampaikan materi.
Bersyukur atas Pencapaian Menulis di Kompasiana

Tahun 2025 menjadi tahun yang patut dikenang dalam perjalanan menulis saya. Di tengah kesibukan sebagai guru, saya bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menulis dan berbagi gagasan. Salah satu anugerah yang patut disyukuri adalah pencapaian peringkat #36 dari 5.831.621 kompasianer, Penulis Kompasiana sepanjang waktu tahun 2025.

Peringkat ini bukan sekadar angka atau pengakuan publik. Bagi saya, ini adalah tanda bahwa ketekunan kecil yang dilakukan secara konsisten memiliki makna. Menulis di sela-sela waktu mengajar, malam hari, atau saat libur singkat, ternyata dapat berbuah hasil yang tidak disangka.
Pencapaian ini juga menjadi pengingat bahwa guru tidak hanya mengajar di ruang kelas, tetapi juga dapat mendidik melalui tulisan. Gagasan, refleksi, dan pengalaman yang dibagikan semoga dapat menginspirasi pembaca lain, sekaligus memotivasi diri sendiri untuk terus belajar dan berkarya.
Rasa syukur ini bukan akhir perjalanan, melainkan penyemangat untuk menulis dengan lebih jujur, bertanggung jawab, dan bermakna di tahun-tahun berikutnya.
Dari rasa syukur inilah, langkah berikutnya menjadi lebih bermakna: menulis resolusi.
Menulis Resolusi: Harapan yang Dibuat Bertanggung Jawab