
Video: Bersyukur di Tahun 2025 dan Menulis Resolusi 2026
Oleh: Widodo, S.Pd
Pada malam Tahun Baru 2026, saya diajak untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk pergantian waktu. Bukan untuk pesta atau kembang api, melainkan untuk merenung dan berefleksi. Dalam keheningan doa dan permenungan, satu pertanyaan sederhana muncul: "Bersyukur atas apa aku selama satu tahun ini?"
Bersyukur: Belajar Melihat yang Sering Terlupa
Bersyukur ternyata bukan perkara besar saja. Ia justru sering hadir dalam hal-hal yang tampak biasa.
Pertama, bersyukur atas rezeki.
Bukan hanya soal jumlah, tetapi tentang kecukupan. Ada hari-hari ketika penghasilan terasa pas-pasan, namun selalu ada jalan sehingga kebutuhan terpenuhi. Dari situlah saya belajar bahwa rezeki bukan semata angka, melainkan penyertaan.
Kedua, bersyukur atas kesehatan.
Sebagai guru, kesehatan adalah modal utama. Tubuh yang masih mampu berdiri di depan kelas, suara yang masih bisa menyapa murid-murid, dan pikiran yang masih sanggup berpikir jernih---semua itu adalah anugerah yang sering baru disadari ketika hilang.
Ketiga, bersyukur atas kesempatan bekerja.
Tidak semua orang mendapat kesempatan untuk berkarya sesuai panggilan hidupnya. Menjadi guru bukan sekadar profesi, tetapi ladang pelayanan. Setiap hari adalah kesempatan untuk menanam nilai, bukan hanya menyampaikan materi.
Bersyukur atas Pencapaian Menulis di Kompasiana

Tahun 2025 menjadi tahun yang patut dikenang dalam perjalanan menulis saya. Di tengah kesibukan sebagai guru, saya bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menulis dan berbagi gagasan. Salah satu anugerah yang patut disyukuri adalah pencapaian peringkat #36 dari 5.831.621 kompasianer, Penulis Kompasiana sepanjang waktu tahun 2025.

Peringkat ini bukan sekadar angka atau pengakuan publik. Bagi saya, ini adalah tanda bahwa ketekunan kecil yang dilakukan secara konsisten memiliki makna. Menulis di sela-sela waktu mengajar, malam hari, atau saat libur singkat, ternyata dapat berbuah hasil yang tidak disangka.
Pencapaian ini juga menjadi pengingat bahwa guru tidak hanya mengajar di ruang kelas, tetapi juga dapat mendidik melalui tulisan. Gagasan, refleksi, dan pengalaman yang dibagikan semoga dapat menginspirasi pembaca lain, sekaligus memotivasi diri sendiri untuk terus belajar dan berkarya.
Rasa syukur ini bukan akhir perjalanan, melainkan penyemangat untuk menulis dengan lebih jujur, bertanggung jawab, dan bermakna di tahun-tahun berikutnya.
Dari rasa syukur inilah, langkah berikutnya menjadi lebih bermakna: menulis resolusi.
Menulis Resolusi: Harapan yang Dibuat Bertanggung Jawab
Resolusi bukan sekadar daftar keinginan. Ia adalah niat baik yang diberi arah dan ukuran. Agar tidak berhenti sebagai angan-angan, resolusi perlu disusun dengan prinsip yang jelas, sering dikenal dengan prinsip SMART:
* Specific (Spesifik)
Resolusi harus jelas. Misalnya bukan hanya "menjadi guru yang lebih baik", tetapi meningkatkan kualitas pembelajaran literasi di kelas.
* Measurable (Terukur)
Ada indikator pencapaian. Contohnya, membuat minimal dua karya tulis reflektif setiap semester atau menyusun modul pembelajaran tematik.
* Achievable (Dapat Dicapai)
Resolusi harus sesuai dengan kemampuan dan kondisi. Tidak memaksakan, tetapi juga tidak terlalu mudah.
* Realistic (Realistis)
Resolusi disesuaikan dengan tugas, waktu, dan tanggung jawab yang ada sebagai guru dan anggota keluarga.
* Time-bound (Berbatas Waktu)
Setiap resolusi perlu batas waktu, agar ada komitmen dan evaluasi yang jelas.
Resolusi Menjadi Guru yang Terus Bertumbuh
Sebagai guru, resolusi saya sederhana namun bermakna:
menjadi pendidik yang terus belajar, bertumbuh, dan memberi teladan.
Belajar lebih sabar menghadapi perbedaan karakter murid.
Bertumbuh dalam kreativitas mengajar.
Memberi teladan dalam sikap, tutur kata, dan cara bersyukur.
Resolusi 2026: Tetap Menulis dan Berbagi di Kompasiana
Memasuki tahun 2026, saya meneguhkan satu resolusi sederhana namun konsisten: tetap menulis di Kompasiana. Menulis bukan lagi sekadar hobi, melainkan ruang belajar, sarana refleksi, dan bentuk tanggung jawab moral untuk berbagi gagasan yang membangun.
Di tengah tugas sebagai guru, menulis menjadi cara untuk merawat kepekaan, menajamkan nalar, dan mengabadikan pengalaman pendidikan yang sering berlalu begitu saja. Melalui Kompasiana, saya belajar bahwa tulisan guru dapat menjangkau lebih luas, melampaui dinding kelas.
Resolusi ini saya susun dengan prinsip yang jelas: menulis secara rutin, menjaga kualitas isi, serta menghadirkan tulisan yang jujur, edukatif, dan inspiratif. Bukan mengejar peringkat semata, tetapi menjaga konsistensi dan makna.
Semoga di tahun 2026, langkah kecil ini tetap setia dijalani---menulis, berbagi, dan bertumbuh bersama pembaca Kompasiana.
Penutup
Bersyukur mengajarkan kita untuk melihat ke belakang dengan damai, sementara resolusi menuntun kita untuk melangkah ke depan dengan harapan. Ketika keduanya berjalan bersama, hidup---termasuk panggilan sebagai guru---menjadi lebih terarah dan bermakna.
Semoga tahun 2026 bukan hanya tahun baru dalam hitungan kalender, tetapi juga tahun baru dalam sikap hati dan langkah hidup.