
Saya sudah sering diingatkan oleh tetangga, istri, dan anak, katanya:
" Hati - hati Pak, parkir motor yang aman, masuk rumah, dikunci ganda."
" Sekarang banyak motor hilang, sedang rawan."
" Tetangga satu gang kemarin sore, kemalingan motor."
Peringatan itu bagi saya hal biasa, saya sudah berhati - hati, gak perlu khawatir. Masak motor dibeli dengan hasil keringat hilang begitu saja ? Itulah kata hati saya.

Padahal motor sering dianggap sebagai kendaraan biasa. Namun, bagi sebagian keluarga, motor adalah aset berharga yang diperoleh dengan kerja keras dan pengorbanan. Saya baru benar-benar menyadari hal itu ketika kehilangan motor baru yang belum lama saya beli.
Beberapa waktu lalu, saya menjual motor lama dan menggantinya dengan Honda Supra X 125 yang masih baru. Hati saya sangat senang. Motor itu bukan sekadar alat transportasi, tetapi juga simbol hasil jerih payah yang berhasil saya kumpulkan sedikit demi sedikit. Saya membayangkan motor itu akan menemani aktivitas keluarga selama bertahun-tahun.
Namun, kebahagiaan itu ternyata tidak berlangsung lama.
Suatu sore menjelang malam, sekitar pukul 18.00 saat waktu magrib tiba, saya pergi membeli sate untuk makan malam bersama istri dan anak. Setelah pulang, saya memarkir motor di depan rumah. Pikiran saya hanya tertuju pada makanan yang harus segera disajikan agar kami bisa makan bersama.
Motor saya tinggalkan sebentar tanpa pengamanan tambahan. Saya masuk ke rumah, menyiapkan sate, bercengkerama dengan keluarga. Sebentar kemudian
tidak sampai lima meniy, saya keluar rumah.
Betapa terkejutnya saya ketika melihat tempat parkir itu kosong.
Motor baru saya sudah hilang.
Saya berlari ke kanan dan kiri, berharap mungkin saya salah melihat. Saya bertanya kepada tetangga sekitar, tetapi tidak ada yang mengetahui ke mana motor itu pergi. Saat itulah saya sadar bahwa motor saya telah dicuri. Mungkin saya sudah diikuti oleh pencuri, waktu beli sate dari belakang, tanpa saya tahu.
Malam itu menjadi malam yang sangat panjang.
Yang pertama saya sesali adalah kecerobohan diri sendiri. Saya tahu bahwa waktu magrib merupakan salah satu jam yang rawan. Banyak orang sedang beribadah atau berkumpul bersama keluarga sehingga pengawasan lingkungan berkurang. Namun saya justru lengah. Saya merasa hanya meninggalkan motor sebentar. Ternyata, bagi pencuri yang sudah mengincar, beberapa menit saja sudah cukup.
Penyesalan kedua adalah karena saya menolak asuransi kehilangan kendaraan ketika membeli motor tersebut. Saat itu petugas dealer menawarkan perlindungan tambahan. Saya berpikir biaya itu hanya akan menambah pengeluaran. Lagi pula saya merasa lingkungan tempat tinggal saya cukup aman.
Kini saya menyadari bahwa rasa aman sering kali membuat seseorang lengah. Jika saat itu saya mengambil asuransi kehilangan, setidaknya masih ada harapan untuk mendapatkan penggantian atau bantuan sesuai ketentuan yang berlaku.
Penyesalan berikutnya terasa lebih berat lagi.
Motor itu sebenarnya juga saya persiapkan untuk membantu kebutuhan keluarga, termasuk mengantar dan mendukung keperluan kuliah anak. Kehilangan motor berarti kehilangan sarana transportasi yang sangat penting. Setelah kejadian itu, saya harus memikirkan kembali bagaimana mencari dana untuk membeli motor pengganti.
Rasanya seperti memulai dari nol.
Uang yang sudah terkumpul bertahun-tahun seakan lenyap dalam satu malam. Saya harus kembali menabung, mengatur pengeluaran, dan menunda beberapa rencana keluarga.
Berhari-hari saya terus memikirkan kejadian tersebut. Andai saja saya memasukkan motor ke dalam rumah. Andai saja saya memasang kunci tambahan. Andai saja saya tidak meninggalkannya tanpa pengawasan. Andai saja saya mengambil asuransi.
Namun hidup tidak berjalan dengan kata "andai".
Peristiwa itu mengajarkan saya bahwa penyesalan memang selalu datang terlambat. Ketika musibah sudah terjadi, yang tersisa hanyalah pelajaran berharga. Kini saya menjadi lebih berhati-hati dalam menjaga kendaraan. Saya juga tidak lagi menganggap remeh pentingnya pengamanan dan perlindungan asuransi.
Motor yang hilang mungkin tidak akan kembali. Akan tetapi, dari kehilangan itu saya memperoleh pelajaran yang sangat mahal:
kewaspadaan tidak boleh ditunda, karena kelalaian beberapa menit bisa menghapus hasil kerja keras selama bertahun-tahun.
Yah, namanya penyesalan tak berujung. Namun saya memilih menjadikannya sebagai guru kehidupan agar kesalahan yang sama tidak terulang lagi di masa depan.
Mari kita tingkatkan kewaspadaan dan doa agar para pencuri insaf untuk kembali mencari rejeki yang halal. Amin.