Opa Jappy Official
Opa Jappy Official Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Video dan Esai "Restu Sang Ibu"

7 Juni 2026   11:52 Diperbarui: 7 Juni 2026   11:52 222 2 0

Restu| Jakarta News
Restu| Jakarta News


Putra Sang Fajar dan Keagungan Restu Bunda

Ibu | Jakarta News 
Ibu | Jakarta News 


Sejarah Hidup dan Kehidupan seseorang tak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik pemimpin  mampu menggetarkan panggung dunia, ada akar spiritual dan emosional yang menopangnya. Topangan itu ada pada Ir. Soekarno, Proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia; akar itu tertanam kuat pada sosok ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai Srimben.

"Bung Karno | Penyambung Lidah Rakyat Indonesia" karya Cindy Adams; bukan romantisasi masa lalu, melainkan refleksi mendalam tentang bagaimana sebuah restu, ramalan kasih, dan bahasa tubuh ibu mampu membentuk takdir.

Fajar Abad Baru dan Takdir berawal di beranda kecil yang gelap, sesaat sebelum matahari terbit. Dalam keheningan pagi, Sang Ibu duduk memandangi ufuk timur, menanti fajar menyingsing dengan penuh kesabaran. Ia menarik Soekarno kecil ke dalam pelukannya; pelukan hangat pelepas kantuk sekaligus ritus transfer kekuatan spiritual.

Soekarno lahir pada setengah enam pagi di tahun 1901, gerbang pembuka abad ke-20, ia dibaptis oleh ibunya sebagai "Putra Sang Fajar."  Dalam kosmologi Jawa, waktu kelahiran di saat Matahari Terbit membawa guratan takdir yang kuat.

Sang ibu dengan penuh keyakinan membisikkan bahwa kelak putranya menjadi pemimpin besar yang membawa rakyatnya keluar dari kegelapan penjajahan Abad ke-19 menuju terang benderangnya Abad Revolusi Kemanusiaan. Kata-kata yang diucapkan dengan suara lunak itu menjelma menjadi sugesti kosmik yang tertanam kuat dalam bawah sadar Soekarno muda, menumbuhkan kesadaran  "tugas-tugas kepahlawanan" yang harus dipikul pada kemudian hari.

Keunikan Soekarno juga tidak lepas dari penanda astrologis. Lahir di bawah naungan bintang Gemini pada tanggal enam bulan enam (6 Juni), ia dianugerahi karakter kembar yang kontradiktif namun harmonis. Menunjukkan bagaimana ia bisa tampil laksana baja keras dalam berprinsip dan berorasi, namun memiliki kelembutan hati berirama, puitis, dan penuh empati. Keseimbangan karakter yang membuat mampu merangkul berbagai elemen bangsa agar bersatu di bawah panji revolusi.

Bahasa tubuh sang ibu melampaui batas kata-kata. Saat Soekarno hendak merantau ke Surabaya; menempuh pendidikan di HBS, ritual sakral terjadi. Sang ibu memintanya rebah di tanah menghadap langit semesta, lalu melangkahinya sebanyak tiga kali.

Tindakan itu adalah manifestasi penumpahan seluruh restu Bumi Pertiwi melalui perantara sang ibu, suatu proteksi spiritual agar sang putra kuat menghadapi badai perjuangan di tanah rantau.

Keterikatan batin itu tak khan luntur dimakan waktu dan jabatan. Bahkan ketika telah menjadi orang nomor satu di Indonesia, Soekarno tetap menjadi anak kecil patuh di hadapan ibundanya. Di antara  kesibukan memimpin Negara, ia selalu menyempatkan diri sowan ke Blitar demi "meng-update" restu dari Sang Bunda. Karna restu Bunda adalah prioritas utama, ketika memulai pelajaran, menapaki kehidupan rumah tangga, mengambil keputusan-keputusan krusial bagi masa depan bangsa.

"Restu dari Ibu" mengingatkan semua tentang kebesaran Soekarno; ia bukan melulu produk dari teks-teks Marxisme, Nasionalisme, atau Retorika Politik. Namun, fondasi paling bawah adalah jiwa yang menyala-nyala, kehangatan pelukan fajar, dan doa tanpa putus Sang Ibu.

Dan akhirnya, Anda dan Saya menemukan pesan universal yang menggetarkan hati bahwa

"DI balik setiap langkah mengubah sejarah, ada jemari Ibu yang melambai, merestui, dan mendoakan di dalam sunyi."

"Restu ibu adalah kompas spiritual yang menjaga seseorang agar tetap berpijak Bumi, sekaligus sayap  terbang menggapai takdir hidup dan kehidupan."


6 Juni 2026

Opa Jappy | Pro Life Indonesia


 

Kampanye Anti Predator Child Grooming | Opa Jappy 
Kampanye Anti Predator Child Grooming | Opa Jappy