Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Kisah omjay atau Wijaya Kusumah kali ini adalah tentang cerdas digital dan mandiri finansial. Semoga bermanfaat buat pembaca kompasiana tercinta.
Cerdas Digital, Mandiri Finansial: Kisah Omjay dari 1998 hingga Hari Ini
Oleh: Wijaya Kusumah -- Omjay, Guru Blogger Indonesia
Ketika saya Omjay menatap kembali perjalanan hidup sejak tahun 1998 dan tahun ketika saya menggenapkan separuh agama dengan menikahi perempuan terbaik yang Allah kirimkan untuk saya membangun keluarga sakinah mawadah.
Dan ada satu kata yang terus menggema dalam hati: syukur.
Syukur karena hidup ini penuh liku, tetapi setiap liku itu membawa pelajaran.
Syukur karena setiap kesulitan ternyata menyiapkan diri saya menuju masa yang lebih baik.
Omjay sangat bersyukur karena perjalanan panjang ini akhirnya membuat saya memahami arti dua hal penting: cerdas digital dan mandiri finansial.
Kisah ini bukan hanya tentang seorang guru. Ini tentang seorang suami, ayah, pencari nafkah, pejuang literasi, dan manusia biasa yang berjuang meniti langkah kecil demi langkah kecil hingga akhirnya bisa berdiri tegak seperti hari ini.
Awal Pernikahan: Hidup Sederhana yang Penuh Makna
Saya menikah pada tahun 1998, tahun yang penuh gejolak. Indonesia sedang diguncang krisis moneter, harga-harga melambung, dan banyak orang kehilangan pekerjaan. Namun di tengah badai itu, saya justru memulai kehidupan baru bersama istri tercinta.
Gaji guru honorer saat itu tidak cukup untuk hidup nyaman. Jangankan menabung, untuk makan sehari-hari pun kami harus benar-benar mengatur. Tetapi kami punya satu hal yang membuat hidup tetap hangat: keyakinan bahwa Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang mau berusaha jatuh terlalu lama.
Saya bekerja apa saja. Mengajar, menulis, membuat modul, menjaga warnet, mengelola lab komputer, bahkan menerima job kecil-kecilan memperbaiki laptop dan komputer teman. Dari sinilah saya mulai mengenal dunia digital lebih dalam, jauh sebelum istilah cerdas digital menjadi tren seperti hari ini.
Internet, Blog, dan Jalan Rezeki yang Tak Disangka
Tahun 2005 menjadi titik balik penting. Saya mulai menulis blog. Awalnya hanya sebagai catatan harian---tempat saya menyalurkan keresahan dan menyimpan pengalaman. Tak disangka, blog itu membuka pintu rezeki yang tak pernah saya bayangkan.
Dari menulis blog, saya mulai diminta mengisi pelatihan. Dari pelatihan, saya dipanggil sekolah-sekolah untuk membantu program digitalisasi. Lalu tulisan-tulisan itu berubah menjadi buku, buku menjadi royalti, dan royalti menjadi salah satu sumur rezeki yang terus mengalir hingga kini.
Dari situlah saya belajar:
Cerdas digital bukan soal jago teknologi, tapi mampu memanfaatkan teknologi untuk memberi manfaat dan menambah nilai hidup.
Saya hanya guru biasa. Tapi internet membuat saya bisa berbagi ilmu kepada ribuan orang.
Saya hanya menulis dari rumah kontrakan. Tapi tulisan itu bisa dibaca dari Sabang sampai Merauke.
Saya hanya mengetik dari ruang tamu kecil. Tapi efeknya menjangkau ruang-ruang kelas yang tak pernah saya datangi secara fisik.
Itulah keajaiban dunia digital yang saya alami langsung.
Belajar Mandiri Finansial: Dari 0 hingga Lebih Percaya Diri
Saya dibesarkan dalam keluarga sederhana. Karena itu, sejak awal menikah saya tak ingin hidup menggantungkan masa depan pada gaji saja. Guru harus cerdas, bukan hanya dalam mengajar, tetapi juga dalam mengatur masa depan.
Saya belajar mengelola uang sedikit demi sedikit. Menabung dengan sangat disiplin, meskipun hanya lima ribu atau sepuluh ribu per hari. Ini kebiasaan yang saya bawa sampai hari ini.
Saya juga belajar:
membuat sumber pendapatan tambahan
menjadikan keterampilan digital sebagai aset
menulis buku sebagai investasi jangka panjang
mengikuti pelatihan agar kemampuan terus berkembang
menghindari hutang konsumtif
dan membuka peluang usaha kecil-kecilan bersama keluarga.
Kemandirian finansial bukan berarti menjadi kaya raya.
Bagi saya, mandiri finansial adalah ketika kita bisa hidup tenang tanpa khawatir berlebihan tentang uang.
Mampu menghidupi keluarga dengan layak, membantu orang tua, menyekolahkan anak-anak hingga jenjang tinggi, serta menyisihkan sebagian untuk sedekah dan berbagi.
Begitulah makna kemandirian yang saya yakini.
Ujian Hidup yang Menguatkan
Dalam perjalanan panjang itu, tentu tidak semuanya mulus. Ada masa-masa saya merasa gagal sebagai suami. Ketika ekonomi serba sulit, saya sering merenung panjang: Apakah saya sudah cukup berjuang? Apakah saya sudah menjadi kepala keluarga yang baik?
Namun setiap tantangan justru membentuk karakter. Kami pernah menabung bertahun-tahun hanya untuk sebuah keinginan sederhana: bisa memiliki rumah sendiri. Dan akhirnya, dengan kerja keras dan banyak keajaiban, kami berhasil.
Kami pernah hampir menyerah membiayai kuliah anak-anak. Tapi lagi-lagi, Allah menunjukkan jalan. Rezeki datang dari arah yang tidak disangka-sangka: dari menulis, mengajar, pelatihan, undangan seminar, bahkan dari pertemuan-pertemuan kecil yang saya lakukan sebagai guru blogger.
Semua itu membuat saya semakin yakin:
Rezeki itu bukan tentang jumlah, tetapi tentang keberkahan.
Cerita Hari Ini: Tetap Mengabdi, Tetap Belajar
Kini waktu berjalan begitu cepat. Dari suami muda berusia 30-an, saya menjadi ayah yang anak-anaknya sudah dewasa. Dari guru biasa, saya diberi amanah untuk berbagi ilmu ke banyak daerah. Dari penulis amatir, saya diberi kesempatan menulis puluhan buku.
Namun satu hal tetap sama: saya tetap belajar setiap hari.
Dunia digital berubah begitu cepat. Guru harus terus update, harus adaptif, harus mau terus meningkatkan diri. Karena itulah saya selalu mendorong para guru Indonesia untuk:
melek teknologi
menulis
mengelola media sosial dengan bijak
membangun jejaring positif
dan berdaya secara finansial
Guru yang cerdas digital akan lebih mudah menjadi guru yang mandiri finansial.
Dan guru yang mandiri finansial akan lebih tenang dalam mengajar.
Penutup: Hidup Adalah Perjalanan, Bukan Perlombaan
Setelah lebih dari 27 tahun menikah, saya memahami satu hal sederhana:
Hidup bukan perlombaan menuju kesuksesan, tapi perjalanan panjang menuju kebijaksanaan.
Jika hari ini Anda sedang berjuang dalam ekonomi, dalam karier, atau dalam keluarga, ingatlah:
Setiap orang punya waktunya.
Setiap keluarga punya perjuangannya.
Setiap rezeki punya jalurnya.
Yang penting kita terus bergerak, terus belajar, terus berbuat baik, dan terus menjaga integritas.
Saya, Omjay, hanyalah contoh kecil bahwa guru biasa bisa hidup luar biasa jika mau berjuang dan memanfaatkan teknologi dengan bijak.
Semoga kisah sederhana ini menguatkan siapa pun yang membacanya.
Terima kasih sudah setia mengikuti perjalanan hidup saya hingga hari ini.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com
