Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Serunya Berburu Takjil di Labschool UNJ Rumah Keduaku

24 Februari 2026   05:01 Diperbarui: 24 Februari 2026   05:01 219 11 5

buku terbaru Omjay di bulan Ramadhan/dokpri
buku terbaru Omjay di bulan Ramadhan/dokpri

Judul dan tema kisah Omjay kali ini adalah serunya Berburu Takjil, Menanam Nilai: Inspirasi Ramadan dari Masjid Baitul Ilmi Labschool UNJ. Hampir setiap tahun Omjay diminta menjadi panitia gema Ramadhan masjid Baitul Ilmi Labschool UNJ. Salah satu programnya adalah membagikan takjil untuk berbuka puasa untuk masyarakat di sekitar Labschool UNJ.

Selain membagikan takjil di bulan Ramadhan, kami juga melaksanakan buka puasa antar angkatan. Salah satunya buka puasa kelas 8 SMP Labschool Jakarta. Ini rekaman videonya 2 tahun lalu dengan penceramah almarhum pak Mustafa. Beliau guru Kimia SMA Labschool Jakarta, dan Ramadhan tahun ini beliau sudah tak ada lagi karena sudah dipanggil Allah SWT.


Ramadan selalu menghadirkan cerita. Bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang bagaimana hati dilatih untuk lebih peka, lebih peduli, dan lebih bersyukur. Salah satu momen yang paling sederhana namun sarat makna adalah saat berburu takjil menjelang waktu berbuka. Oleh karena itu kami menyiapkan takjil untuk para musafir yang datang ke masjid sekolah Labschool UNJ.

Bagi sebagian orang, berburu takjil hanyalah rutinitas tahunan. Namun bagi Omjay atau Dr. Wijaya Kusumah, momen ini adalah ruang belajar yang hidup di luar kelas, di luar buku pelajaran, tetapi justru sangat membekas dalam jiwa.

Cover belakang buku terbaru Omjay/dokpri
Cover belakang buku terbaru Omjay/dokpri

Setiap Ramadan, suasana di sekitar Labschool Jakarta UNJ berubah menjadi lebih hangat. Pedagang kecil berjejer menawarkan kolak, gorengan, kurma, dan aneka minuman segar. Senyum mereka merekah, penuh harap agar dagangan laris sebelum azan magrib berkumandang. Itulah yang Omjay saksikan sendiri ketika melihat mereka berdagang.

Omjay adalah sapaan akrab Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd di sekolah. Omjay tidak pernah sekadar membeli. Omjay selalu menyempatkan diri menyapa. Menanyakan kabar. Menguatkan dengan doa. 

Bagi Omjay, berburu takjil bukan hanya transaksi ekonomi, tetapi interaksi kemanusiaan. Omjay membeli makanan buat takjil untuk Omjay bagikan lagi kepada orang yang berpuasa. Senang dan bahagai ketika membagikannya.

Di situlah pelajaran pertama Ramadan hadir: menghargai usaha orang lain.

Omjay sering berkata kepada murid-muridnya, "Setiap gorengan yang kita beli, ada doa dan harapan yang menyertainya." Kalimat sederhana itu membuat anak-anak memahami bahwa uang yang mereka keluarkan bukan sekadar untuk mengisi perut, tetapi juga membantu roda kehidupan sesama.

Masjid Baitul Ilmi: Tempat Ilmu, Amal, dan Iman Bertemu

Setelah takjil terkumpul, langkah kaki Omjay biasanya menuju Masjid Baitul Ilmi di lingkungan sekolah. Di sana, para siswa sudah duduk rapi. Ada yang membaca Al-Qur'an, ada yang berdiskusi ringan, ada pula yang membantu menata makanan untuk dibagikan bersama. Pengurus masjid ikut mendampinginya.

Suasana menjelang berbuka selalu menggetarkan hati. Tidak ada perbedaan antara guru dan siswa. Semua duduk sejajar. Semua menanti satu suara yang sama: azan magrib.

Di momen inilah pendidikan menemukan bentuknya yang paling tulus. Kita semua menyatu dalam aliran nafas yang sama dan mengharapkan Ridha dari Allah SWT , sanga Penguasa langit dan bumi.

Bukan tentang angka rapor. Bukan tentang peringkat kelas. Tetapi tentang kebersamaan, kesabaran, dan rasa syukur. Kami sama-sama bersyukur masih diberikan nikmat hidup dan kesehatan serta mau berbagi rezeki.

Omjay sering memandang murid-muridnya dengan rasa haru. Di tengah dunia yang serba cepat dan digital, mereka masih mau duduk bersama, berbagi makanan, dan mendengarkan nasihat dengan hati terbuka. Ini adalah harapan. Ini adalah cahaya.

Detik-Detik yang Mengubah Cara Pandang

Saat azan berkumandang, tangan-tangan kecil terangkat berdoa. Ada yang memohon kelulusan, ada yang mendoakan orang tua, ada yang berharap menjadi pribadi yang lebih baik.

Seteguk air putih terasa begitu nikmat. Sebutir kurma terasa begitu manis. Mengapa? Karena setelah menahan diri seharian, kita belajar bahwa kenikmatan sejati lahir dari kesabaran.

kami biasanya mmebagikan takjil di sekitar sekolah/dokpri
kami biasanya mmebagikan takjil di sekitar sekolah/dokpri

Ramadan mengajarkan satu prinsip penting: yang sederhana bisa menjadi luar biasa jika disertai syukur.

Omjay kerap mengingatkan murid-muridnya bahwa hidup tidak selalu tentang kemewahan. Kebahagiaan bukan pada banyaknya yang kita miliki, tetapi pada seberapa dalam kita menghargai apa yang ada.

Berbuka bersama di masjid menjadi ruang refleksi. Anak-anak belajar bahwa kebersamaan lebih penting daripada ego pribadi. Mereka belajar bahwa berbagi lebih membahagiakan daripada menerima.

Pendidikan Karakter yang Nyata

Sebagai seorang guru sekaligus penulis, Omjay percaya bahwa pendidikan karakter tidak cukup hanya diajarkan lewat teori. Ia harus dihidupkan. Ia harus ada dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Saat siswa membantu membagikan takjil kepada teman-temannya, mereka belajar tentang kepedulian.
Saat mereka membersihkan sisa makanan tanpa disuruh, mereka belajar tentang tanggung jawab.
Saat mereka mendahulukan orang lain untuk mengambil makanan, mereka belajar tentang keikhlasan.

Nilai-nilai itu tidak tertulis di papan tulis, tetapi tertanam kuat di hati. Itulah mengapa pendidikan karakter sangat dipentingkan di sekolah Labschool UNJ, dan alhamdulillah sekolah kami selalu penuh peminat setiap tahunnya.

Ramadan menjadi laboratorium kehidupan. Masjid menjadi ruang kelasnya. Takjil menjadi medianya. Dan kebersamaan menjadi kurikulumnya.

Inspirasi untuk Kita Semua

Kisah berburu takjil dan berbuka bersama ini sejatinya bukan hanya tentang Omjay atau siswa Labschool. Ini adalah cermin bagi kita semua. Indahnya berbagi kepada sesama manusia.

Sering kali kita terlalu sibuk mengejar target, jabatan, dan pengakuan, hingga lupa menikmati momen kecil yang penuh makna. Kita lupa bahwa kebahagiaan bisa ditemukan dalam senyum pedagang kecil. Dalam doa bersama menjelang magrib. Dalam tawa sederhana di lantai masjid.

Ramadan mengingatkan kita untuk berhenti sejenak. Merenung. Menguatkan niat. Memperbaiki diri.

Jika seorang guru bisa menjadikan momen berburu takjil sebagai sarana menanamkan nilai, maka kita pun bisa menjadikan aktivitas sehari-hari sebagai ladang kebaikan.

Tidak perlu menunggu sempurna untuk berbuat baik. Tidak perlu menunggu kaya untuk berbagi. Tidak perlu menunggu terkenal untuk memberi inspirasi.

Mulailah dari hal kecil. Dari langkah sederhana. Dari niat yang tulus.

Menjadi Cahaya bagi Sekitar

Omjay selalu meyakini bahwa tugas guru bukan hanya mencerdaskan otak, tetapi juga menghidupkan hati. Dan itu tidak terjadi dalam satu malam. Ia tumbuh perlahan, melalui keteladanan yang konsisten.

Berburu takjil mungkin terlihat biasa. Namun jika dilakukan dengan kesadaran dan niat yang benar, ia bisa menjadi jalan menuju perubahan karakter.

Bayangkan jika setiap orang tua menjadikan momen berbuka sebagai ruang dialog hangat dengan anak-anaknya.
Bayangkan jika setiap guru memanfaatkan Ramadan untuk menanamkan nilai empati dan kepedulian.
Bayangkan jika setiap individu memilih untuk lebih banyak bersyukur daripada mengeluh.

Dunia akan menjadi tempat yang jauh lebih indah.

Penutup: Ramadan adalah Sekolah Kehidupan

Pada akhirnya, Ramadan adalah sekolah kehidupan yang paling lengkap. Ia mengajarkan disiplin, kesabaran, empati, dan syukur dalam satu paket yang utuh.

Berburu takjil hanyalah satu bab kecil dari perjalanan itu. Namun dari bab kecil tersebut, kita belajar bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada apa yang kita makan saat berbuka, tetapi pada siapa yang kita ajak berbagi.

Semoga Ramadan ini tidak hanya mengisi perut kita, tetapi juga menguatkan jiwa kita.
Semoga setiap langkah kecil kita---termasuk saat membeli takjil---menjadi bagian dari perjalanan menjadi pribadi yang lebih baik.
Dan semoga kita semua mampu menjadi cahaya, sekecil apa pun, bagi lingkungan sekitar kita.

Karena sejatinya, hidup yang bermakna bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa besar manfaat yang kita berikan. Serunya Berburu Takjil di Labschool UNJ Rumah Keduaku menjadi refleksi utama dalam kisah Omjay kali ini. Semoga bermanfaat buat pembaca kompasiana tercinta.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay/Kakek Jay

Guru Blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com

Omjay Guru Blogger Indonesia/dokpri
Omjay Guru Blogger Indonesia/dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5