Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Sustainability Pilihan

Ketika Selat Hormuz Bergejolak, Omjay Menatap Wajah Murid-Muridnya

3 Maret 2026   15:57 Diperbarui: 8 Maret 2026   15:42 563 7 3

Selat Hormuz/ChatGPT
Selat Hormuz/ChatGPT

Kisah Omjay kali ini membawas tentang Ketika Selat Hormuz Bergejolak, Omjay Menatap Wajah Murid-Muridnya. Omjay terinspirasi membuat tulisan baru setelah membaca tulisan Denny JA di sini.


Pagi itu, Omjay---nama yang begitu akrab bagi dunia literasi pendidikan Indonesia---menutup layar gawainya dengan napas panjang. Omjay berpikir keras dan merenung. Seandainya Indonesia di bom dan perang terjadi di negara kita.

Berita tentang kemungkinan pembalasan Iran atas tewasnya Ayatollah Ali Khamenei memenuhi linimasa. Ancaman penutupan Selat Hormuz kembali menjadi tajuk utama. Dunia kembali bergetar oleh satu lorong laut sempit yang dilalui sekitar dua puluh juta barel minyak per hari.

Omjay terdiam. Omjay bukan diplomat. Omjay bukan analis geopolitik. Omjay hanya seorang guru. Namun sebagai guru, ia tahu satu hal: setiap gejolak dunia pada akhirnya akan sampai ke ruang kelas.


Dari Ohio ke Jakarta, dari Grafik ke Dapur

Dalam tulisannya, Denny JA mengisahkan musim dingin 2012 di Amerika. Di bawah kepemimpinan Barack Obama, harga minyak melonjak ketika ketegangan Iran--Amerika Serikat memuncak. Ancaman penutupan Selat Hormuz saja sudah cukup membuat harga Brent menembus 110 dolar per barel.

Tak perlu selat benar-benar ditutup.

Cukup ancaman.
Cukup kecemasan.

Omjay membayangkan sopir truk kecil di Ohio yang menggenggam struk bensin seperti memegang putusan takdir. Biaya naik. Keuntungan menyusut. Harapan mengecil.

Lalu Omjay menatap keluar jendela rumahnya di Jakarta.

"Kalau ini terjadi lagi," gumamnya pelan, "apa kabar orang tua murid-muridku?"

Guru yang Menghubungkan Dunia dan Ruang Kelas

Sebagai Guru Blogger Indonesia, Omjay terbiasa membaca peristiwa global dengan kacamata pendidikan. Omjay tahu Indonesia adalah pengimpor bersih minyak. Omjay tahu setiap kenaikan harga minyak dunia berarti tekanan pada APBN. Subsidi membengkak. Anggaran pendidikan bisa terdesak.

Dan yang paling Omjay pahami:
inflasi tidak pernah terasa sebagai teori ekonomi.

Inflasi terasa sebagai beras yang lebih mahal.
Sebagai ongkos ojek yang naik.
Sebagai uang saku anak yang harus dikurangi.

Omjay menatap murid-muridnya/ChatGPT
Omjay menatap murid-muridnya/ChatGPT

Di kelasnya, Omjay pernah mengajarkan tentang energi dan ketahanan nasional. Omjay menyebut dua buku penting karya Daniel Yergin:
The Prize: The Epic Quest for Oil, Money and Power dan
The New Map: Energy, Climate and the Clash of Nations
.

The Prize: The Epic Quest for Oil, Money and Power danThe New Map: Energy, Climate and the Clash of Nations/chatgpt
The Prize: The Epic Quest for Oil, Money and Power danThe New Map: Energy, Climate and the Clash of Nations/chatgpt

Omjay menjelaskan kepada murid-muridnya bahwa minyak bukan sekadar cairan hitam dari perut bumi. Ia adalah politik. Ia adalah kekuasaan. Ia adalah kecemasan global.

Namun hari itu, pelajaran itu terasa lebih nyata.

Luka di Timur Tengah, Getarannya di Indonesia

Iran yang sedang luka memegang satu tuas besar: Selat Hormuz.
Tak perlu perang besar.
Tak perlu tank atau invasi darat.

Cukup ganggu nadinya.

Omjay belajar setm/dokpri
Omjay belajar setm/dokpri

Omjay menuliskan di blognya:

"Di atas peta, Selat Hormuz tampak kecil. Tetapi ia bisa mengatur napas dapur di Indonesia."

Omjay membayangkan seorang ibu di Pasartanahtinggi berdiri di warung. Harga minyak goreng naik. Gas melon sulit dicari. Ongkos angkot bertambah. Ia pulang dengan belanja yang lebih sedikit dan hati yang lebih berat.

Dan mungkin, di malam hari, anaknya bertanya,
"Bu, kenapa uang jajanku dikurangi?"

Apa jawabnya?
Apakah ia harus menjelaskan tentang geopolitik?
Tentang dua puluh juta barel per hari?
Tentang pasar energi dan premi asuransi kapal tanker?

Atau cukup berkata,
"Karena dunia sedang tidak baik-baik saja, Nak."

ketika Omjay menatap semua muridnya/chatgpt
ketika Omjay menatap semua muridnya/chatgpt

Omjay dan Tanggung Jawab Seorang Guru

Di tengah kecemasan itu, Omjay tidak memilih marah. Ia memilih menulis.

Baginya, guru bukan hanya pengajar kurikulum. Guru adalah penjaga harapan. Jika dunia terasa gelap, guru harus menyalakan lampu kecil di kelasnya.

Ia menulis tentang pentingnya kemandirian energi. Tentang hemat listrik. Tentang energi terbarukan. Tentang bagaimana generasi muda Indonesia harus belajar dari setiap krisis.

"Kalau kita terus bergantung pada impor minyak," tulisnya, "maka setiap konflik jauh di sana akan menjadi kecemasan di meja makan kita."

Omjay tidak ingin murid-muridnya hanya menjadi penonton dunia. Ia ingin mereka menjadi solusi.

Omjay ingin ada di antara mereka yang kelak menjadi insinyur energi surya.
Menjadi peneliti biofuel.
Menjadi pemimpin yang berani mengurangi ketergantungan energi fosil.

Karena ia tahu, perubahan besar sering lahir dari ruang kelas sederhana.

Dari Ketakutan Menjadi Kesadaran

Ketegangan Iran dan ancaman di Selat Hormuz mungkin hanya satu episode dari drama panjang geopolitik dunia. Namun bagi Omjay, setiap episode adalah bahan pelajaran.


Omjay mengajak murid-muridnya berdiskusi:
Mengapa dunia begitu bergantung pada satu selat?
Mengapa energi bisa menjadi senjata?
Mengapa ekonomi global bisa goyah oleh rasa takut?

Diskusi itu tidak hanya tentang minyak.
Ia tentang ketahanan.
Tentang kemandirian.
Tentang bagaimana bangsa harus belajar dari sejarah.

Dan di akhir pelajaran, Omjay berkata dengan suara yang lembut:

"Anak-anakku, dunia ini saling terhubung. Apa yang terjadi ribuan kilometer dari sini bisa memengaruhi hidup kita. Tapi jangan pernah merasa kecil. Ilmu yang kalian pelajari hari ini bisa menjadi jawaban bagi krisis esok hari."

Selat yang Sempit, Harapan yang Luas

Selat Hormuz mungkin sempit.
Tetapi harapan tidak pernah sempit.

Omjay percaya, Indonesia tidak boleh hanya menunggu harga minyak turun. Indonesia harus mempercepat energi alternatif, memperkuat produksi dalam negeri, dan mendidik generasi yang sadar energi.

Karena yang paling dulu kehilangan ketenangan bukan para jenderal, bukan para trader, bukan para analis.

Melainkan ibu-ibu di warung.
Ayah-ayah yang menghitung ulang ongkos kerja.
Dan anak-anak yang bertanya mengapa uang jajannya berkurang.

Di tengah dunia yang bergetar oleh satu selat sempit, Omjay tetap berdiri di depan kelas.

Dengan kapur di tangan.
Dengan doa di hati.
Dan dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah jawaban paling sunyi, tetapi paling kuat, bagi setiap krisis yang melintasi samudra.

Jika suatu hari harga-harga kembali melonjak dan dunia terasa tidak pasti, semoga kita ingat: di tengah selat yang sempit dan badai yang tak kita kuasai, selalu ada satu kekuatan yang tak bisa ditutup siapa pun—pendidikan yang menyalakan harapan, dari ruang kelas kecil, untuk masa depan yang jauh lebih luas.

Jakarta, 3 Maret 2026. Salam Blogger Persahabatan

Omjay/Kakek Jay

Guru Blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com

Pak Taufiq teman Omjay/dokpri
Pak Taufiq teman Omjay/dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6