Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Ketika Para Presiden Berkumpul, Mengapa Ibu Megawati Tidak Hadir? Sebuah Catatan Omjay
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah (Omjay), Guru Blogger Indonesia

Pertemuan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dengan para mantan presiden selalu menjadi momen yang menarik perhatian publik. Apalagi jika yang mengundang adalah Presiden terpilih yang ingin merajut kebersamaan dan menunjukkan bahwa bangsa ini dibangun oleh kesinambungan kepemimpinan.
Belakangan ini publik ramai membicarakan sebuah pertemuan hangat antara Presiden dan para mantan presiden RI. Dalam suasana penuh keakraban, tampak para tokoh bangsa saling berjabat tangan, tersenyum, dan berbincang santai. Momen itu seperti mengirim pesan kuat kepada rakyat: bahwa perbedaan politik boleh saja terjadi, tetapi persatuan bangsa harus tetap dijaga.
Namun di tengah suasana hangat itu, publik bertanya-tanya. Mengapa Ibu Megawati Soekarnoputri tidak hadir? Banyak orang yang menanyakannya di media sosial. Kabarnya ibu Megawati sedang berada di Bali untuk konsolidasi Partainya.
Sebagai seorang guru yang juga menulis di dunia blog, saya mencoba melihat peristiwa ini bukan dari sudut pandang politik semata, melainkan dari sudut pandang pembelajaran kehidupan.
https://www.youtube.com/watch?v=ZliCjcXlzBo
Politik Adalah Dinamika
Dalam dunia pendidikan, kami sering mengajarkan kepada siswa bahwa kehidupan selalu penuh dinamika. Begitu pula politik. Hubungan antar tokoh nasional tidak selalu sederhana. Ada sejarah panjang, ada pengalaman masa lalu, dan ada perbedaan pandangan yang kadang belum sepenuhnya selesai.
Ibu Megawati Soekarnoputri bukan tokoh biasa. Beliau adalah Presiden ke-5 Republik Indonesia dan juga putri Proklamator bangsa. Pengaruhnya dalam politik nasional masih sangat besar hingga hari ini.
Karena itu, ketidakhadirannya tentu menimbulkan berbagai spekulasi.
Ada yang mengatakan karena agenda lain.
Ada yang menduga karena pertimbangan politik.
Ada pula yang menilai hubungan politik yang belum sepenuhnya mencair.
Namun sejatinya, hanya beliau sendiri yang tahu alasan sebenarnya.
Dari Politik ke Pelajaran Hidup
Sebagai guru, saya sering mengatakan kepada murid-murid saya bahwa hidup ini seperti sebuah kelas besar. Setiap peristiwa adalah pelajaran.
Pertemuan para presiden itu mengajarkan kita tentang pentingnya komunikasi dan silaturahmi. Ketidakhadiran seseorang juga mengajarkan kita tentang hak setiap individu untuk mengambil keputusan.
Tidak semua undangan harus dihadiri.
Tidak semua pertemuan harus dipaksakan.
Dalam kehidupan sehari-hari pun demikian.
Kadang ada teman yang tidak datang ke acara reuni.
Kadang ada keluarga yang tidak hadir dalam pertemuan besar.
Bukan berarti hubungan mereka putus. Bisa jadi hanya soal waktu, kesempatan, atau pertimbangan pribadi.
https://www.youtube.com/watch?v=imymNvJcuio
Bangsa Besar Butuh Keteladanan
Indonesia adalah bangsa besar. Kita memiliki sejarah panjang dengan berbagai tokoh hebat yang pernah memimpin negeri ini.
Bayangkan jika semua presiden dan mantan presiden duduk bersama dalam satu meja, berbicara tentang masa depan Indonesia. Betapa indahnya pemandangan itu bagi rakyat.
Itu sebabnya publik selalu berharap agar para tokoh bangsa tetap menjaga komunikasi, apa pun perbedaan yang pernah terjadi.
Karena rakyat sebenarnya tidak ingin melihat konflik berkepanjangan.
Rakyat ingin melihat keteladanan.
Harapan Seorang Guru
Sebagai seorang guru yang setiap hari mendidik generasi muda, saya selalu berharap para pemimpin bangsa memberikan contoh terbaik.
Anak-anak kita belajar dari apa yang mereka lihat.
Jika para pemimpin bisa duduk bersama meski berbeda pandangan, maka anak-anak kita akan belajar tentang toleransi dan kedewasaan.
Namun jika perbedaan terus dipelihara, anak-anak juga akan menirunya.
Karena itu, pertemuan para presiden sebenarnya bukan sekadar agenda politik. Ia adalah simbol persatuan bangsa.
Indonesia Lebih Besar dari Perbedaan
Kita mungkin tidak tahu jawabannya secara pasti.
Namun satu hal yang pasti, Indonesia terlalu besar untuk dipisahkan oleh perbedaan.
Sebagai guru, saya percaya bahwa sejarah bangsa ini selalu bergerak menuju rekonsiliasi. Cepat atau lambat, para tokoh bangsa akan kembali duduk bersama demi kepentingan rakyat.
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan siapa yang hadir atau tidak hadir.
Yang paling penting adalah bagaimana semua pemimpin bangsa tetap memikirkan masa depan Indonesia.
Dan sebagai guru blogger, saya hanya bisa berharap satu hal sederhana:
Semoga suatu hari nanti, kita melihat semua presiden dan mantan presiden Indonesia duduk bersama, tersenyum, dan berkata kepada rakyatnya:
"Kita mungkin pernah berbeda, tapi kita selalu satu untuk Indonesia."
Sebagai guru, saya percaya waktu akan selalu menemukan jalannya. Cepat atau lambat, semua tokoh bangsa akan kembali duduk bersama. Karena Indonesia tidak dibangun oleh satu orang saja, melainkan oleh hati-hati besar yang sama-sama mencintai negeri ini. Dan ketika hari itu tiba, mungkin rakyat hanya akan tersenyum haru sambil berkata: akhirnya para pemimpin kita kembali memeluk Indonesia dengan satu hati.
Pada akhirnya, sejarah tidak mencatat siapa yang datang atau siapa yang absen dalam sebuah pertemuan. Sejarah hanya mengingat siapa yang tetap mencintai Indonesia dengan tulus. Dan sebagai guru yang setiap hari menanamkan harapan kepada generasi muda, saya percaya bangsa ini akan selalu menemukan jalannya menuju persatuan.
Karena bangsa ini terlalu besar untuk dipisahkan oleh perbedaan. Cepat atau lambat, waktu akan mempertemukan kembali hati-hati yang pernah berjauhan. Dan ketika para pemimpin bangsa kembali saling menggenggam tangan, rakyat hanya ingin melihat satu hal sederhana: Indonesia tetap berdiri kokoh karena persatuan
Demikianlah Kisah Omjay: Mengapa Mantan Presiden Megawati Tidak Hadir di Pertemuan Mantan Presiden RI Bersama Prabowo Subianto? Semoga bisa menjadi rujukan untuk kita semuanya agar Indonesia selalu damai dan sejehtera.
Salam Blogger Persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia
https://www.youtube.com/watch?v=F9gNfJu8Fp8