Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Bagi sebagian orang, mungkin ini hal biasa. Namun bagi Omjay, keputusan itu terasa sangat berat. Omjay sedih sekali. Sebab harus membatalkan puasa. Dokter meminta Omjay segera meminum obat vertigonya.
Sebagai seorang guru yang terbiasa menanamkan nilai-nilai disiplin dan keteladanan kepada murid-muridnya, membatalkan puasa terasa seperti kekalahan kecil melawan diri sendiri. Tetapi Omjay sadar, Islam adalah agama yang penuh kasih sayang. Allah memberikan keringanan bagi hamba-Nya yang sedang sakit.
Dengan hati yang pasrah, Omjay pun beristirahat. Omjay merenung. Ramadan ternyata bukan hanya tentang kuat menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang keikhlasan menerima keterbatasan diri sebagai manusia.
Selain vertigo, Omjay juga harus berdamai dengan dua penyakit yang kini menjadi bagian dari hidupnya: darah tinggi dan diabetes. Kedua penyakit itu membuatnya harus lebih berhati-hati dalam memilih makanan dan minuman.
Sementara di luar sana banyak orang menunggu waktu berbuka dengan aneka gorengan, minuman manis, dan makanan lezat, Omjay justru harus menahan diri lebih kuat lagi.
Omjay memilih makanan yang sederhana. Mengurangi gula. Menghindari makanan yang terlalu berminyak. Bukan karena tidak ingin menikmati hidangan Ramadan, tetapi karena Omjay ingin tetap sehat agar bisa terus menjalankan ibadah dan mengabdi sebagai guru.
Di tengah keterbatasan itu, Ramadan justru terasa lebih dalam bagi Omjay. Malam-malamnya diisi dengan doa. Shalat malam menjadi lebih khusyuk. Zikir terasa lebih panjang.
Ada satu doa yang terus dipanjatkan Omjay hampir setiap malam:
“Ya Allah, izinkan aku mencapai derajat takwa.”
Omjay sadar, usia terus berjalan. Waktu yang dimiliki manusia tidak pernah bisa dipastikan. Karena itulah Ramadan tahun ini ingin Omjay jalani dengan lebih sungguh-sungguh.
Menjelang akhir Ramadan, suasana Lebaran mulai terasa di rumah Omjay. Anak-anak beserta cucunya mulai berbicara tentang baju baru, kue Lebaran, dan rencana silaturahmi ke keluarga. Rumah sederhana itu mulai terasa hangat dengan obrolan penuh harapan.