Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Kisah Omjay kali ini tentang air mata di ujung Ramadhan dan belanja persiapan lebaran idul Fitri. Omjay tidak beli apa apa. Hanya belanja online saja. Beli baju Koko untuk dipakai di hari Raya idul Fitri. Anak anak yang membelikannya secara online. Kakak dan Adik Omjay datang ke rumah menjenguk Omjay yang sedang sakit di rumah.

Air Mata di Ujung Ramadan: Kisah Omjay Menjemput Lebaran dengan Hati yang Lebih Dekat kepada Allah SWT.
Bulan suci Ramadan selalu membawa cerita berbeda bagi setiap orang. Ada yang menyambutnya dengan penuh kegembiraan, ada pula yang menjalaninya dengan ujian yang menguji kesabaran. Tahun ini, Ramadan bagi Wijaya Kusumah, atau yang akrab disapa Omjay, menjadi perjalanan spiritual yang penuh makna sekaligus haru.
Ketika hati terasa lelah oleh ujian hidup, kadang kita hanya butuh satu renungan untuk mengingat kembali tujuan hidup. Video ceramah ini sering membuat orang menangis karena mengingatkan kita pada orang tua, dosa-dosa masa lalu, dan betapa Allah masih memberi kesempatan untuk bertobat di bulan Ramadan.
Bagi Omjay, Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ramadan adalah waktu untuk kembali mendekat kepada Allah SWT, menata hati, memperbaiki diri, dan berharap mencapai derajat takwa sebagaimana tujuan utama puasa itu sendiri.
Namun, Ramadan tahun ini tidak dijalani Omjay dengan kondisi tubuh yang sepenuhnya kuat. Penyakit darah tinggi dan diabetes masih dialami Omjay. Luka diabetes akibat kecelakaan mbil beberapa waktu lalu masih belum sembuh.
Di tengah kesibukan sebagai guru yang telah mengabdikan diri lebih dari tiga dekade di dunia pendidikan, tubuh Omjay memberikan tanda bahwa usia dan kesehatan tidak bisa diabaikan. Suatu pagi di bulan Ramadan, vertigo yang sudah lama menjadi “tamu tak diundang” kembali datang.
Dunia terasa berputar. Kepala terasa berat. Langkah pun menjadi goyah. Omjay muntah-muntah di kamar mandi sekolah. Hari itu, dengan berat hati, Omjay harus membatalkan puasanya. Ini adalah hari pertama di Ramadan tahun ini ketika Omjay tidak mampu melanjutkan ibadah puasa karena kondisi kesehatan.
Bagi sebagian orang, mungkin ini hal biasa. Namun bagi Omjay, keputusan itu terasa sangat berat. Omjay sedih sekali. Sebab harus membatalkan puasa. Dokter meminta Omjay segera meminum obat vertigonya.
Sebagai seorang guru yang terbiasa menanamkan nilai-nilai disiplin dan keteladanan kepada murid-muridnya, membatalkan puasa terasa seperti kekalahan kecil melawan diri sendiri. Tetapi Omjay sadar, Islam adalah agama yang penuh kasih sayang. Allah memberikan keringanan bagi hamba-Nya yang sedang sakit.
Dengan hati yang pasrah, Omjay pun beristirahat. Omjay merenung. Ramadan ternyata bukan hanya tentang kuat menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang keikhlasan menerima keterbatasan diri sebagai manusia.
Selain vertigo, Omjay juga harus berdamai dengan dua penyakit yang kini menjadi bagian dari hidupnya: darah tinggi dan diabetes. Kedua penyakit itu membuatnya harus lebih berhati-hati dalam memilih makanan dan minuman.
Sementara di luar sana banyak orang menunggu waktu berbuka dengan aneka gorengan, minuman manis, dan makanan lezat, Omjay justru harus menahan diri lebih kuat lagi.
Omjay memilih makanan yang sederhana. Mengurangi gula. Menghindari makanan yang terlalu berminyak. Bukan karena tidak ingin menikmati hidangan Ramadan, tetapi karena Omjay ingin tetap sehat agar bisa terus menjalankan ibadah dan mengabdi sebagai guru.
Di tengah keterbatasan itu, Ramadan justru terasa lebih dalam bagi Omjay. Malam-malamnya diisi dengan doa. Shalat malam menjadi lebih khusyuk. Zikir terasa lebih panjang.
Ada satu doa yang terus dipanjatkan Omjay hampir setiap malam:
“Ya Allah, izinkan aku mencapai derajat takwa.”
Omjay sadar, usia terus berjalan. Waktu yang dimiliki manusia tidak pernah bisa dipastikan. Karena itulah Ramadan tahun ini ingin Omjay jalani dengan lebih sungguh-sungguh.
Menjelang akhir Ramadan, suasana Lebaran mulai terasa di rumah Omjay. Anak-anak beserta cucunya mulai berbicara tentang baju baru, kue Lebaran, dan rencana silaturahmi ke keluarga. Rumah sederhana itu mulai terasa hangat dengan obrolan penuh harapan.
Namun Omjay tahu, kondisi ekonomi keluarga tidak selalu memungkinkan untuk merayakan Lebaran secara mewah. Tahun ini, Omjay tidak membeli banyak pakaian baru. Tidak ada belanja besar. Tidak ada kemewahan.
Anak-anaknya hanya membelikannya satu hadiah sederhana: sebuah baju koko baru. Ketika menerima baju itu, Omjay terdiam beberapa saat. Matanya berkaca-kaca.
Baju koko itu mungkin sederhana. Harganya mungkin tidak mahal. Namun bagi Omjay, hadiah itu terasa jauh lebih berharga daripada pakaian mahal. Di balik baju itu ada cinta anak-anaknya. Ada perhatian. Ada rasa hormat kepada seorang ayah yang telah mengabdikan hidupnya sebagai guru selama puluhan tahun.
Di dalam hati, Omjay berdoa dengan lirih.
“Ya Allah, terima kasih atas keluarga kecil yang Engkau titipkan kepadaku.”
Lebaran tahun ini mungkin tidak akan dipenuhi kemewahan. Tidak ada pesta besar. Tidak ada hidangan berlebihan. Namun Omjay yakin, Lebaran akan tetap meriah.
Bukan karena pakaian baru. Bukan karena makanan yang melimpah. Tetapi karena hati yang bersih setelah menjalani Ramadan. Karena keluarga yang saling mencintai. Karena doa-doa yang dipanjatkan sepanjang malam.
Omjay percaya, kemenangan sejati di hari Idul fitri bukanlah tentang siapa yang paling mewah merayakannya. Kemenangan sejati adalah ketika hati menjadi lebih dekat kepada Allah.
Ketika seseorang mampu memaafkan. Ketika seseorang mampu bersyukur. Dan ketika seseorang menyadari bahwa hidup ini hanyalah perjalanan singkat menuju keabadian.
Di penghujung Ramadan ini, Omjay hanya memiliki satu harapan sederhana. Semoga Allah menerima semua amal ibadahnya. Semoga penyakit yang Omjay alami menjadi penghapus dosa.
Dan semoga Lebaran tahun ini benar-benar menjadi hari kemenangan bagi dirinya dan keluarganya. Karena pada akhirnya, bagi seorang guru seperti Omjay, kebahagiaan tidak selalu datang dari kemewahan dunia.
Kadang, kebahagiaan itu justru hadir dari hal-hal yang sangat sederhana. Sebuah doa. Sebuah pelukan keluarga. Dan sebuah baju koko dari anak-anak tercinta.
Air mata pun jatuh pelan di sudut mata Omjay. Bukan karena kesedihan. Tetapi karena rasa syukur yang begitu dalam kepada Allah SWT.
Ramadan telah mengajarkan satu hal penting kepadanya: Bahwa kebahagiaan sejati selalu lahir dari hati yang dekat dengan Tuhan.
Di malam-malam terakhir Ramadan, Omjay menatap baju koko pemberian anak-anaknya yang tergantung rapi di lemari. Bukan harga yang membuatnya terharu, tetapi cinta yang tersimpan di baliknya. Dengan mata berkaca-kaca ia berdoa dalam hati, “Ya Allah, jika Ramadan ini adalah Ramadan terakhirku, terimalah semua ibadahku yang sederhana ini.”
Di tengah tubuh yang tak lagi sekuat dulu, Omjay hanya ingin satu hal: pulang kepada-Mu dalam keadaan Engkau ridha. Dan ketika takbir Idul fitri nanti berkumandang, mungkin yang paling deras mengalir bukanlah hidangan di meja makan, melainkan air mata syukur seorang guru tua yang merasa Allah masih memberinya kesempatan untuk menjadi lebih dekat kepada-Nya.
Demikianlah kisah Omjay tentang air mata di ujung Ramadan dan belanja lebaran idul Fitri. Semoga Ramadan bercerita ini bermanfaat buat pembaca kompasiana tercinta.
Salam blogger persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru blogger Indonesia
