Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Guru dan Tunjangan Guru yang Tak Setara dengan Struktural

17 Maret 2026   10:47 Diperbarui: 17 Maret 2026   13:41 184 4 1

Buku pgri abadi karya omjay/dokpri
Buku pgri abadi karya omjay/dokpri

Kisah omjay kali ini diberi Judul: Guru dan Tunjangan yang Tak Setara: Kisah Omjay Menyuarakan Keadilan untuk Guru.

Di sebuah ruang kelas sederhana di Jakarta Timur, seorang guru berdiri di depan papan tulis dengan penuh semangat. 

Suaranya lantang menjelaskan pelajaran kepada para siswa. Di luar kelas, dunia pendidikan terus berubah dengan berbagai kebijakan baru. 

Namun di balik semua itu, ada satu kenyataan yang sering kali terasa pahit bagi para guru: ketidakadilan dalam penghargaan terhadap profesi mereka.

Kisah ini tidak jauh dari kehidupan Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd, yang akrab disapa Omjay, seorang guru yang telah mengabdikan hidupnya selama lebih dari tiga dekade di dunia pendidikan. 

Selama 34 tahun menjadi guru, Omjay telah melihat berbagai perubahan kebijakan pendidikan di Indonesia. Ada yang membawa harapan, tetapi ada pula yang menyisakan pertanyaan tentang keadilan bagi para guru.

Salah satu persoalan yang sering dibicarakan di kalangan guru PNS di DKI Jakarta adalah soal tunjangan kinerja. 

Secara administratif, para guru berstatus PNS fungsional. Mereka memiliki pangkat dan golongan yang sama dengan pegawai negeri lainnya. 

Namun dalam praktiknya, penghargaan yang diterima tidak selalu sebanding.

Misalnya, seorang guru dengan golongan III-D yang bekerja penuh waktu mengajar, menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), membuat bahan ajar, menilai tugas siswa, hingga membimbing kegiatan sekolah. 

Tugas guru tidak berhenti di kelas. Banyak guru yang harus membawa pekerjaan ke rumah. Mereka memeriksa tugas hingga larut malam, menyiapkan materi untuk esok hari, bahkan mengikuti pelatihan demi meningkatkan kompetensi.

Namun ketika berbicara tentang tunjangan kinerja, kenyataannya sering kali membuat hati para guru terasa miris. 

Guru PNS dengan golongan III-D di DKI Jakarta misalnya, menerima tunjangan sekitar Rp6 juta. 

Sementara itu, pegawai negeri yang bekerja di jabatan struktural, misalnya staf tata usaha di kantor pemerintahan daerah dengan golongan yang sama, bisa menerima tunjangan kinerja hingga sekitar Rp9 juta.

Perbedaan ini terasa mencolok bagi para guru. Mereka merasa bahwa tanggung jawab mendidik generasi bangsa seharusnya mendapat penghargaan yang tidak kalah dari jabatan struktural. 

Bahkan banyak yang berpendapat bahwa beban kerja guru justru semakin kompleks dari tahun ke tahun.

Omjay sering mendengar keluhan ini dari sesama guru. Saat bertemu dalam berbagai kegiatan pendidikan atau diskusi organisasi profesi, topik ini hampir selalu muncul. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3