Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
https://youtu.be/8rEh7R-LqfM?si=_F8vATaCf-Gt0e7C
Pengalaman Kecil tentang Toleransi di Hari Besar. Inilah kisah Omjay yang diberikan judul "Ketika Sepiring Kue Lebaran Mengajarkan Arti Toleransi Sejati". Semoga bermanfaat buat pembaca kompasiana.
Ramadan selalu membawa kenangan tersendiri bagi Omjay. Bukan hanya tentang ibadah, menahan lapar, atau menanti datangnya hari kemenangan.
Lebih dari itu, Ramadan dan hari raya Idul Fitri menghadirkan potongan-potongan kecil kehidupan yang diam-diam membentuk cara pandang Omjay tentang arti toleransi.
Kenangan itu bermula saat Omjay masih duduk di bangku sekolah dasar. Tinggal di sebuah lingkungan sederhana, dengan tetangga yang beragam latar belakang agama dan budaya, menjadi warna tersendiri dalam hidupnya.
Di kanan rumahnya tinggal Pak Made yang beragama Hindu, sementara di sebelah kiri ada keluarga Bu Maria yang beragama Katolik. Namun, bagi Omjay kecil, semua itu bukanlah sekat melainkan jembatan kebersamaan.
Setiap kali Ramadan tiba, suasana kampung berubah. Anak-anak berlarian menjelang waktu berbuka, ibu-ibu sibuk menyiapkan hidangan, dan suara azan magrib menjadi penanda kebahagiaan sederhana.
Omjay kecil menjalani puasa dengan penuh semangat, meski terkadang tergoda oleh aroma masakan dari dapur tetangga.
Namun, yang paling membekas dalam ingatan Omjay bukanlah rasa lapar atau haus, melainkan momen menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Beberapa hari sebelum Lebaran, Bu Maria selalu datang membawa kue-kue buatan tangannya. Dengan senyum hangat, ia mengetuk pintu rumah Omjay dan berkata, "Ini buat persiapan Lebaran ya, Nak. Semoga puasanya lancar."
Omjay kecil sering kali bertanya dalam hati, mengapa Bu Maria yang tidak berpuasa justru begitu peduli? Mengapa ia selalu hadir dalam kebahagiaan yang secara agama bukan miliknya?
Pertanyaan itu belum terjawab saat itu. Namun, hatinya merasakan sesuatu dan sebuah kehangatan yang sulit dijelaskan.
Hari Lebaran pun tiba. Seperti biasa, Omjay mengenakan baju terbaiknya. Omjay kecil pergi salat Id bersama ayahnya, lalu berkeliling bersilaturahmi ke rumah tetangga. Salah satu rumah yang tak pernah terlewat adalah rumah Pak Made dan Bu Maria.
Di rumah Pak Made, Omjay disambut dengan ramah. Meski berbeda keyakinan, Pak Made selalu mengucapkan, "Selamat Lebaran ya, Omjay. Mohon maaf lahir batin." Sebuah kalimat sederhana, tetapi penuh makna.
Di rumah Bu Maria, suasana lebih hangat lagi. Kue-kue yang dulu ia berikan kini tersaji di meja, dan Omjay diminta untuk mencicipi semuanya. Mereka tertawa bersama, berbagi cerita, tanpa pernah membahas perbedaan.
Di situlah, tanpa disadari, Omjay kecil belajar tentang toleransi.
Bukan dari buku pelajaran, bukan dari ceramah panjang, tetapi dari tindakan nyata. Dari sepiring kue, dari senyuman tulus, dari ketulusan hati untuk saling menghargai.
Waktu terus berjalan. Omjay tumbuh dewasa, menjadi seorang guru, dan menjalani kehidupan dengan berbagai dinamika. Namun, kenangan kecil itu tetap melekat kuat dalam ingatannya.
Kini, setiap kali Ramadan tiba dan Lebaran menjelang, Omjay selalu teringat pada Bu Maria dan Pak Made. Ia pun berusaha menanamkan nilai yang sama kepada murid-muridnya.
Dalam sebuah kesempatan mengajar, Omjay pernah bertanya kepada siswa-siswanya, "Apa arti toleransi menurut kalian?"
Beragam jawaban muncul. Ada yang mengatakan menghormati, ada yang menyebut saling menghargai, dan ada pula yang menjawab hidup berdampingan.
Omjay tersenyum, lalu menceritakan kisah masa kecilnya.
Omjay bercerita tentang sepiring kue Lebaran dari tetangga yang berbeda agama. Tentang ucapan selamat yang tulus dari Pak Made. Tentang kebersamaan yang tidak dibatasi oleh keyakinan.
Suasana kelas menjadi hening. Beberapa siswa terlihat terharu. Mungkin karena mereka menyadari bahwa toleransi bukanlah sesuatu yang rumit. Toleransi hadir dalam hal-hal kecil yang sering kita abaikan.
Omjay kemudian berkata, "Toleransi itu bukan sekadar kata. Ia adalah tindakan. Ia adalah keikhlasan untuk berbagi kebahagiaan, meski kita berbeda."
Hari itu, Omjay merasa bahwa ia tidak hanya mengajar, tetapi juga mewariskan nilai kehidupan.
Di tengah dunia yang sering kali dipenuhi perbedaan dan perdebatan, kisah kecil tentang toleransi menjadi sangat berharga. Ia mengingatkan kita bahwa kebersamaan tidak harus selalu sama, dan perbedaan bukanlah alasan untuk menjauh.
Kini, setiap Lebaran tiba, Omjay selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi tetangganya. Omjay datang tanpa memandang latar belakang mereka. Omjay dan istri datang membawa kue, berbagi cerita, dan yang terpenting, membawa semangat kebersamaan.
Karena bagi Omjay, toleransi tidak perlu dimulai dari hal besar. Cukup dari langkah kecil seperti mengetuk pintu tetangga, memberikan senyuman, atau berbagi sepiring kue. Dan mungkin, dari hal kecil itulah, dunia yang lebih damai bisa perlahan tercipta.
Penutup:
Di suatu sudut kenangan, Omjay menyadari-bahwa pelajaran hidup paling berharga sering kali datang dari hal sederhana. Sepiring kue Lebaran dari tangan yang berbeda keyakinan itu, ternyata mampu mengajarkan satu hal penting: bahwa cinta dan toleransi tidak mengenal batas. Dan ketika hati manusia saling terbuka, perbedaan bukan lagi jurang, melainkan jembatan menuju keindahan kehidupan bersama.
Salam blogger persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia
