Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Buat Apa Sih Kita Menulis? Inilah Kisah Omjay yang Menyentuh Hati pembaca kompasiana tercinta.
Suatu malam yang sunyi, Omjay duduk sendirian di depan laptopnya. Jam dinding sudah menunjukkan lewat tengah malam, tetapi jemarinya masih setia menari di atas keyboard.
Tidak ada honor menanti, tidak ada kontrak penerbitan, dan tidak ada jaminan tulisannya akan dibaca banyak orang. Namun, Omjay tetap menulis. Omjay niatkan untuk berbagi.
Di sela-sela keheningan itu, Omjay pernah bertanya pada dirinya sendiri, "Buat apa sih aku menulis?"
Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya tidak selalu mudah. Banyak orang menulis untuk uang. Tidak sedikit pula yang menulis agar dikenal, agar namanya muncul di media, agar dianggap hebat dan pintar.
Omjay tidak menolak bahwa semua itu adalah hal yang wajar. Manusia memang membutuhkan pengakuan dan penghidupan. Tetapi, dalam perjalanan hidupnya sebagai guru dan pegiat literasi, Omjay menemukan bahwa alasan terdalam untuk menulis jauh lebih dalam daripada sekadar uang atau popularitas.

Omjay masih ingat ketika pertama kali menulis di blog tahun 2007. Tulisan-tulisannya tidak langsung mendapat komentar.
Tidak ada yang membagikan tulisannya. Bahkan, kadang Omjay sendiri merasa seperti berbicara di ruang kosong. Namun Omjay tetap menulis.
Omjay banyak menulis tentang pengalaman mengajar, tentang murid-muridnya, tentang kegelisahan seorang guru yang ingin pendidikan di negeri ini menjadi lebih baik.
Suatu hari, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Seorang guru dari daerah terpencil menulis, "Terima kasih, Pak. Tulisan Bapak membuat saya semangat kembali mengajar. Saya merasa tidak sendirian."
Saat membaca pesan itu, mata Omjay berkaca-kaca. Omjay memang tidak mendapatkan uang dari tulisan tersebut. Omjay juga tidak menjadi terkenal karena satu artikel itu.
Namun, Omjay menyadari bahwa tulisannya telah menyentuh hati seseorang, bahkan mungkin mengubah hari dan semangat hidup orang lain.
Sejak saat itu, Omjay mengerti: menulis bukan sekadar soal dilihat banyak orang, tetapi tentang menyentuh satu hati pun sudah cukup berarti.
Ada masa di mana Omjay mengalami kesulitan hidup. Saat kesehatan menurun, saat pekerjaan menumpuk, bahkan ketika Omjay harus beristirahat di rumah sakit, Omjay tetap memikirkan tulisan.
Bukan karena dikejar deadline, tetapi karena menulis adalah cara baginya untuk berbicara dengan dunia. Menulis adalah terapi, tempat Omjay mencurahkan rasa syukur, kesedihan, dan harapan.
Banyak orang mengira menulis itu harus menghasilkan uang agar dianggap berhasil. Omjay tidak menolak bahwa menulis bisa menjadi sumber rezeki.
Omjay pun pernah merasakan kebahagiaan saat tulisannya dimuat dan mendapat honor. Namun, Omjay selalu mengingatkan dirinya sendiri bahwa jika menulis hanya untuk uang, maka semangat itu akan mudah padam ketika uang tidak datang.
Begitu juga dengan popularitas. Menjadi dikenal memang menyenangkan, tetapi ketenaran sering kali tidak abadi. Nama bisa naik dan turun, tetapi tulisan yang tulus akan tetap hidup di hati pembacanya, bahkan ketika nama penulisnya sudah dilupakan.
Seperti almarhum buya Hamka yang tulisannya masih dibaca banyak orang walaupun orangnya sudah lama tiada.
Omjay pernah berkata kepada murid-muridnya,
"Menulislah bukan agar kalian terkenal, tetapi agar kalian dikenang karena kebaikan yang kalian bagikan."
Dalam setiap tulisannya, Omjay mencoba menyisipkan nilai-nilai kehidupan. Omjay menulis tentang kejujuran, tentang kesabaran, tentang perjuangan menjadi guru di tengah keterbatasan.
Omjay percaya bahwa tulisan adalah warisan. Jika suatu hari Omjay sudah tidak lagi mengajar, tidak lagi hadir di ruang kelas, tulisannya masih bisa berbicara kepada generasi berikutnya.
Omjay membayangkan, mungkin suatu hari nanti, seorang anak muda akan membaca tulisannya dan menemukan semangat baru. Mungkin ada seorang guru yang hampir menyerah, lalu kembali bangkit setelah membaca kisahnya.
Bagi Omjay, kemungkinan kecil itu sudah cukup menjadi alasan untuk terus menulis. Luruskan niat menulis supaya hati penulisnya bertemu dengan hati pembaca.
Suatu ketika, seorang teman bertanya,
"Omjay, kalau tidak dibayar, kenapa masih rajin menulis?"
Omjay tersenyum. Omjayntidak langsung menjawab. Omjay hanya membuka salah satu artikelnya dan menunjukkan kolom komentar yang berisi ucapan terima kasih dari para pembaca. Lalu ia berkata pelan,
"Ini bayaran yang tidak bisa dihitung dengan uang."
Menulis bagi Omjay adalah ibadah. Omjay percaya bahwa setiap kata yang membawa kebaikan akan menjadi amal jariyah. Selama tulisannya masih dibaca dan menginspirasi, selama itu pula pahala mengalir.
Keyakinan inilah yang membuat Omjay tetap menulis, bahkan di saat tubuh lelah dan pikiran penat. Omjay tetap menulis walaupun dibantu kecerdasan buatan atau AI.
Di penghujung malam, sebelum menutup laptopnya, Omjay sering berdoa dalam hati,
"Ya Allah, jika tulisanku bisa menjadi jalan kebaikan bagi orang lain, izinkan aku terus menulis."
Maka, ketika kita bertanya, buat apa sih kita menulis? Jawabannya bisa berbeda bagi setiap orang. Ada yang menulis untuk uang, ada yang menulis untuk terkenal, dan itu tidak salah. Namun, kisah Omjay mengajarkan bahwa menulis juga bisa menjadi jalan untuk berbagi, menguatkan, dan meninggalkan jejak kebaikan di dunia.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak uang yang kita dapat dari tulisan, dan bukan seberapa terkenal nama kita karenanya.
Hal yang lebih penting adalah: berapa banyak hati yang pernah kita sentuh melalui kata-kata yang kita tuliskan. Memulislah dengan hati agar hati bertemu dengan hati.
Salam blogger persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru blogger indonesia
