Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Bukan Iran yang Sendirian Tapi Justru Amerika-Israel yang Kian Terisolasi di Panggung Dunia

10 April 2026   15:24 Diperbarui: 10 April 2026   15:24 189 4 2

"Bukan Iran yang Sendirian: Justru Amerika--Israel yang Kian Terisolasi di Panggung Dunia". Iran Tidak Sendirian: Membaca Ulang "Kesepian" dalam Konflik Global. Inilah kisah Omjay atau Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay).

Tulisan ini saya hadirkan sebagai refleksi sekaligus tanggapan atas artikel yang ditulis oleh Luthfi Assyaukanie di harian Kompas berjudul "Iran Berperang Sendirian" (3 April 2026). Dalam tulisannya, Luthfi berargumen bahwa Iran tampak terisolasi dalam konflik mutakhir melawan Israel dan Amerika Serikat, bahkan menyebutnya sebagai bentuk strategic loneliness---kesendirian yang dipilih secara strategis, tetapi berujung pada kesalahan besar.

Ilustrasi Artikel/ChatGPt
Ilustrasi Artikel/ChatGPt

Namun, jika kita membaca lebih dalam dinamika sejarah dan geopolitik kawasan Timur Tengah, saya justru melihat bahwa kesimpulan tersebut terlalu terburu-buru. Bahkan, dapat dikatakan sebagai sebuah misjudgement---kesalahan dalam membaca realitas yang kompleks.

https://www.youtube.com/watch?v=RGfLrWMpuwg

Dua Kesendirian yang Berhadap-hadapan

Selama ini, narasi yang berkembang cenderung menempatkan Iran sebagai pihak yang "sendirian". Padahal, jika kita jujur membaca sejarah sejak berdirinya Israel pada 1948, konflik di kawasan ini justru memperlihatkan adanya dua bentuk kesendirian: Iran dan Israel.

Israel sendiri sejak awal berdiri telah berada dalam kondisi keterasingan eksistensial. Dibangun oleh komunitas Yahudi diaspora Eropa di tanah yang sebelumnya dihuni oleh bangsa Arab, Israel menghadapi resistensi yang tidak pernah benar-benar padam. Rasa terancam ini kemudian membentuk karakter kebijakan luar negeri dan militernya---selalu defensif sekaligus agresif, serta sangat bergantung pada kekuatan besar seperti Amerika Serikat.

Di sisi lain, Iran memiliki sejarah panjang keterasingan yang berbeda, tetapi tidak kalah kompleks. Sejak era Dinasti Safawiyah, Iran sebagai negara berideologi Syiah berada di tengah dominasi dunia Sunni. Tekanan eksternal semakin kuat ketika Iran menjadi ajang perebutan kekuatan global, mulai dari Rusia, Inggris, hingga Amerika.

Trauma sejarah seperti kudeta tahun 1953 terhadap Mohammad Mosaddegh---yang didukung Barat---menjadi luka mendalam bagi bangsa Iran. Puncaknya terjadi pada Revolusi Iran 1979 yang mengubah arah politik negara tersebut menjadi anti-hegemoni Barat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4