Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Bukan Iran yang Sendirian Tapi Justru Amerika-Israel yang Kian Terisolasi di Panggung Dunia

10 April 2026   15:24 Diperbarui: 10 April 2026   15:24 174 4 2

Kemandirian sebagai Strategi, Bukan Kesalahan

Dalam konteks ini, apa yang disebut sebagai "kesendirian" Iran sesungguhnya adalah hasil dari proses sejarah panjang yang membentuk karakter bangsa. Kemandirian bukanlah pilihan yang gegabah, melainkan strategi bertahan hidup.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Vali Nasr dalam bukunya Iran's Grand Strategy: A Political History (2025). Dalam karya tersebut, Nasr justru menegaskan bahwa Iran membangun kekuatannya melalui tiga pilar utama: kemandirian nasional, aliansi regional, dan perlawanan terhadap dominasi global.

Artinya, apa yang dilihat sebagai "kesepian" oleh sebagian pengamat, justru merupakan fondasi kekuatan Iran.

Fakta di Lapangan: Benarkah Iran Sendirian?

Jika kita melihat perkembangan konflik terbaru, narasi bahwa Iran berperang sendirian menjadi semakin sulit dipertahankan. Iran memang tidak didukung secara terbuka oleh banyak negara, tetapi memiliki jaringan aliansi non-negara yang signifikan, seperti kelompok-kelompok di Lebanon, Yaman, dan Irak.

Lebih dari itu, sikap negara-negara Arab yang tidak secara aktif membantu Amerika dan Israel menunjukkan adanya perubahan besar dalam peta politik kawasan. Mereka memilih berhati-hati, bahkan cenderung menjaga jarak dari konflik.

Bandingkan dengan invasi Amerika ke Irak tahun 2003 yang melibatkan puluhan negara sekutu. Dalam konflik saat ini, dukungan militer terhadap Amerika dan Israel justru sangat minim. Banyak negara Eropa bersikap kritis, dan opini publik global pun menunjukkan penolakan terhadap perang.

Data dari Pew Research Center bahkan menunjukkan mayoritas warga Amerika tidak mendukung keterlibatan negaranya dalam konflik ini. Ini adalah indikator penting bahwa legitimasi perang semakin melemah.

Perspektif Hukum Internasional: Siapa yang Terisolasi?

Pandangan ini diperkuat oleh Zezen Zaenal Mutaqin, ahli hukum internasional dan dosen di Universitas Islam Internasional Indonesia. Menurutnya, kegagalan Amerika Serikat dalam menggalang dukungan sekutu untuk membuka Selat Hormuz adalah indikator nyata bahwa posisi mereka justru semakin terisolasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4