Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
"Bukan Iran yang Sendirian: Justru Amerika--Israel yang Kian Terisolasi di Panggung Dunia". Iran Tidak Sendirian: Membaca Ulang "Kesepian" dalam Konflik Global. Inilah kisah Omjay atau Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay).
Tulisan ini saya hadirkan sebagai refleksi sekaligus tanggapan atas artikel yang ditulis oleh Luthfi Assyaukanie di harian Kompas berjudul "Iran Berperang Sendirian" (3 April 2026). Dalam tulisannya, Luthfi berargumen bahwa Iran tampak terisolasi dalam konflik mutakhir melawan Israel dan Amerika Serikat, bahkan menyebutnya sebagai bentuk strategic loneliness---kesendirian yang dipilih secara strategis, tetapi berujung pada kesalahan besar.

Namun, jika kita membaca lebih dalam dinamika sejarah dan geopolitik kawasan Timur Tengah, saya justru melihat bahwa kesimpulan tersebut terlalu terburu-buru. Bahkan, dapat dikatakan sebagai sebuah misjudgement---kesalahan dalam membaca realitas yang kompleks.
https://www.youtube.com/watch?v=RGfLrWMpuwg
Dua Kesendirian yang Berhadap-hadapan
Selama ini, narasi yang berkembang cenderung menempatkan Iran sebagai pihak yang "sendirian". Padahal, jika kita jujur membaca sejarah sejak berdirinya Israel pada 1948, konflik di kawasan ini justru memperlihatkan adanya dua bentuk kesendirian: Iran dan Israel.
Israel sendiri sejak awal berdiri telah berada dalam kondisi keterasingan eksistensial. Dibangun oleh komunitas Yahudi diaspora Eropa di tanah yang sebelumnya dihuni oleh bangsa Arab, Israel menghadapi resistensi yang tidak pernah benar-benar padam. Rasa terancam ini kemudian membentuk karakter kebijakan luar negeri dan militernya---selalu defensif sekaligus agresif, serta sangat bergantung pada kekuatan besar seperti Amerika Serikat.
Di sisi lain, Iran memiliki sejarah panjang keterasingan yang berbeda, tetapi tidak kalah kompleks. Sejak era Dinasti Safawiyah, Iran sebagai negara berideologi Syiah berada di tengah dominasi dunia Sunni. Tekanan eksternal semakin kuat ketika Iran menjadi ajang perebutan kekuatan global, mulai dari Rusia, Inggris, hingga Amerika.
Trauma sejarah seperti kudeta tahun 1953 terhadap Mohammad Mosaddegh---yang didukung Barat---menjadi luka mendalam bagi bangsa Iran. Puncaknya terjadi pada Revolusi Iran 1979 yang mengubah arah politik negara tersebut menjadi anti-hegemoni Barat.
Kemandirian sebagai Strategi, Bukan Kesalahan
Dalam konteks ini, apa yang disebut sebagai "kesendirian" Iran sesungguhnya adalah hasil dari proses sejarah panjang yang membentuk karakter bangsa. Kemandirian bukanlah pilihan yang gegabah, melainkan strategi bertahan hidup.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Vali Nasr dalam bukunya Iran's Grand Strategy: A Political History (2025). Dalam karya tersebut, Nasr justru menegaskan bahwa Iran membangun kekuatannya melalui tiga pilar utama: kemandirian nasional, aliansi regional, dan perlawanan terhadap dominasi global.
Artinya, apa yang dilihat sebagai "kesepian" oleh sebagian pengamat, justru merupakan fondasi kekuatan Iran.
Fakta di Lapangan: Benarkah Iran Sendirian?
Jika kita melihat perkembangan konflik terbaru, narasi bahwa Iran berperang sendirian menjadi semakin sulit dipertahankan. Iran memang tidak didukung secara terbuka oleh banyak negara, tetapi memiliki jaringan aliansi non-negara yang signifikan, seperti kelompok-kelompok di Lebanon, Yaman, dan Irak.
Lebih dari itu, sikap negara-negara Arab yang tidak secara aktif membantu Amerika dan Israel menunjukkan adanya perubahan besar dalam peta politik kawasan. Mereka memilih berhati-hati, bahkan cenderung menjaga jarak dari konflik.
Bandingkan dengan invasi Amerika ke Irak tahun 2003 yang melibatkan puluhan negara sekutu. Dalam konflik saat ini, dukungan militer terhadap Amerika dan Israel justru sangat minim. Banyak negara Eropa bersikap kritis, dan opini publik global pun menunjukkan penolakan terhadap perang.
Data dari Pew Research Center bahkan menunjukkan mayoritas warga Amerika tidak mendukung keterlibatan negaranya dalam konflik ini. Ini adalah indikator penting bahwa legitimasi perang semakin melemah.
Perspektif Hukum Internasional: Siapa yang Terisolasi?
Pandangan ini diperkuat oleh Zezen Zaenal Mutaqin, ahli hukum internasional dan dosen di Universitas Islam Internasional Indonesia. Menurutnya, kegagalan Amerika Serikat dalam menggalang dukungan sekutu untuk membuka Selat Hormuz adalah indikator nyata bahwa posisi mereka justru semakin terisolasi.
Ketika Amerika meminta bantuan pasukan kepada sekutunya, tidak ada satu pun negara yang secara nyata merespons dengan keterlibatan militer langsung. Fakta ini tidak bisa dianggap sepele. Dalam hukum internasional, legitimasi tindakan militer sangat ditentukan oleh dukungan kolektif dan persepsi global terhadap keadilan tindakan tersebut.
Artinya apa? Justru Amerika dan Israel sedang berada dalam posisi "kesepian" yang sesungguhnya---terisolasi secara politik, moral, dan bahkan hukum internasional.
Sebaliknya, Iran justru menuai simpati luas, terutama dari negara-negara di belahan bumi selatan (Global South). Negara-negara ini sudah lama menyimpan kekecewaan terhadap praktik dominasi dan intervensi negara adidaya. Konflik ini menjadi semacam titik akumulasi dari kejenuhan tersebut.
Siapa yang Sebenarnya Sendirian?
Pertanyaan penting yang perlu kita ajukan adalah: siapa yang sebenarnya lebih "sendirian"?
Ketika Amerika dan Israel kesulitan mendapatkan dukungan internasional, bahkan dari sekutu tradisionalnya, maka narasi kesendirian Iran menjadi tidak relevan. Justru, dalam banyak hal, Amerika dan Israel tampak semakin terisolasi secara moral dan politik.
Di sisi lain, Iran memperoleh simpati dari banyak negara berkembang atau Global South yang selama ini merasa menjadi korban dominasi kekuatan besar.
Pelajaran bagi Kita
Sebagai bangsa Indonesia, kita perlu membaca konflik ini dengan kepala dingin dan hati yang jernih. Dunia tidak lagi hitam-putih. Label "sendirian" atau "terisolasi" tidak selalu mencerminkan kenyataan yang sebenarnya.
Dalam konteks pendidikan---yang selalu saya tekankan sebagai ruang pembebasan berpikir---kita harus mengajarkan kepada generasi muda untuk tidak mudah menerima satu narasi tanpa kritik. Membaca berbagai perspektif adalah kunci untuk memahami dunia yang kompleks.
Tulisan Luthfi Assyaukanie tentu penting sebagai bagian dari diskursus publik. Namun, perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dan justru memperkaya cara kita melihat realitas.
Penutup
Iran mungkin tampak "sendirian" di permukaan, tetapi sejarah dan realitas menunjukkan bahwa kesendirian itu adalah ilusi. Di baliknya, terdapat strategi, jaringan, dan simpati global yang tidak bisa diabaikan.
Dalam dunia yang penuh kepentingan, tidak ada negara yang benar-benar sendiri. Yang ada hanyalah cara kita membaca dan memahami posisi mereka.
Dan di sinilah pentingnya literasi---bukan hanya membaca teks, tetapi juga membaca konteks.
Karena sering kali, yang tampak sepi... justru sedang mengumpulkan kekuatan.
Salam Blogger Persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia

Berikut 6 tag SEO yang berpotensi viral: