Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Bukan Iran yang Sendirian Tapi Justru Amerika-Israel yang Kian Terisolasi di Panggung Dunia

10 April 2026   15:24 Diperbarui: 10 April 2026   15:24 174 4 2

Ketika Amerika meminta bantuan pasukan kepada sekutunya, tidak ada satu pun negara yang secara nyata merespons dengan keterlibatan militer langsung. Fakta ini tidak bisa dianggap sepele. Dalam hukum internasional, legitimasi tindakan militer sangat ditentukan oleh dukungan kolektif dan persepsi global terhadap keadilan tindakan tersebut.

Artinya apa? Justru Amerika dan Israel sedang berada dalam posisi "kesepian" yang sesungguhnya---terisolasi secara politik, moral, dan bahkan hukum internasional.

Sebaliknya, Iran justru menuai simpati luas, terutama dari negara-negara di belahan bumi selatan (Global South). Negara-negara ini sudah lama menyimpan kekecewaan terhadap praktik dominasi dan intervensi negara adidaya. Konflik ini menjadi semacam titik akumulasi dari kejenuhan tersebut.

Siapa yang Sebenarnya Sendirian?

Pertanyaan penting yang perlu kita ajukan adalah: siapa yang sebenarnya lebih "sendirian"?

Ketika Amerika dan Israel kesulitan mendapatkan dukungan internasional, bahkan dari sekutu tradisionalnya, maka narasi kesendirian Iran menjadi tidak relevan. Justru, dalam banyak hal, Amerika dan Israel tampak semakin terisolasi secara moral dan politik.

Di sisi lain, Iran memperoleh simpati dari banyak negara berkembang atau Global South yang selama ini merasa menjadi korban dominasi kekuatan besar.

Pelajaran bagi Kita

Sebagai bangsa Indonesia, kita perlu membaca konflik ini dengan kepala dingin dan hati yang jernih. Dunia tidak lagi hitam-putih. Label "sendirian" atau "terisolasi" tidak selalu mencerminkan kenyataan yang sebenarnya.

Dalam konteks pendidikan---yang selalu saya tekankan sebagai ruang pembebasan berpikir---kita harus mengajarkan kepada generasi muda untuk tidak mudah menerima satu narasi tanpa kritik. Membaca berbagai perspektif adalah kunci untuk memahami dunia yang kompleks.

Tulisan Luthfi Assyaukanie tentu penting sebagai bagian dari diskursus publik. Namun, perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dan justru memperkaya cara kita melihat realitas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4