Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Kisah Omjay kali ini tentang Anggaran Triliunan, Tapi Makanan yang Dinanti Justru Minim: Harapan Rakyat pada Program Gizi Nasional. Omjay membaca infonya di https://x.com/Boediantar4/status/2043292092592767181/photo/1
"Triliunan untuk MBG, Tapi Anak Hanya Dapat Sisa? Surat Terbuka Menyentuh untuk Presiden Prabowo"
Di tengah harapan besar masyarakat terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG), publik dikejutkan oleh data anggaran yang beredar. Angka yang mencapai triliunan rupiah itu seolah menjadi simbol keseriusan negara dalam memperbaiki kualitas gizi anak bangsa. Namun, di balik angka fantastis tersebut, terselip kegelisahan: mengapa justru porsi untuk makanan---yang menjadi inti program---terlihat paling kecil?
Data belanja Badan Gizi Nasional (BGN) tahun 2025 menunjukkan total anggaran sekitar Rp6,2 triliun. Namun, jika dicermati lebih dalam, alokasi terbesar justru mengalir ke kendaraan, dapur, perangkat lunak, hingga pelatihan. Sementara itu, anggaran untuk makanan hanya sekitar Rp242,8 miliar---angka yang terasa kontras dengan tujuan utama program ini. Belum ditambah BGN beli 21.000 motor listrik, berikut isi videonya di https://www.youtube.com/watch?v=dKIaBlFGl6o.
Pertanyaan sederhana pun muncul dari benak rakyat: untuk siapa sebenarnya program ini dibuat?
Bagi masyarakat kecil, khususnya para orang tua di pelosok negeri, MBG bukan sekadar program. Ia adalah harapan. Harapan agar anak-anak mereka bisa belajar dengan perut kenyang. Harapan agar generasi mendatang tumbuh sehat, cerdas, dan kuat menghadapi masa depan. Namun, ketika realitas anggaran tidak sejalan dengan esensi program, kepercayaan pun mulai goyah.
Kita tentu memahami bahwa sebuah program nasional membutuhkan infrastruktur. Kendaraan untuk distribusi, dapur untuk produksi, sistem digital untuk pengelolaan---semua itu penting. Namun, ketika proporsinya terasa timpang, publik berhak bertanya: apakah prioritasnya sudah tepat?
Dalam konteks ini, kritik bukanlah bentuk penolakan. Kritik adalah tanda cinta. Kritik adalah bentuk kepedulian rakyat kepada pemimpinnya. Dan kritik inilah yang ingin kita sampaikan dengan penuh hormat kepada Presiden Prabowo Subianto.