Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Triliunan Untuk MBG, Tapi Anak Hanya Dapat Sisa? Surat Terbuka Untuk Presiden Prabowo

13 April 2026   12:11 Diperbarui: 13 April 2026   13:24 289 8 4

Ilustrasi anggaran MBG/https://x.com/Boediantar4/status/2043292092592767181/photo/1
Ilustrasi anggaran MBG/https://x.com/Boediantar4/status/2043292092592767181/photo/1

Kisah Omjay kali ini tentang Anggaran Triliunan, Tapi Makanan yang Dinanti Justru Minim: Harapan Rakyat pada Program Gizi Nasional. Omjay membaca infonya di https://x.com/Boediantar4/status/2043292092592767181/photo/1

"Triliunan untuk MBG, Tapi Anak Hanya Dapat Sisa? Surat Terbuka Menyentuh untuk Presiden Prabowo"

Di tengah harapan besar masyarakat terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG), publik dikejutkan oleh data anggaran yang beredar. Angka yang mencapai triliunan rupiah itu seolah menjadi simbol keseriusan negara dalam memperbaiki kualitas gizi anak bangsa. Namun, di balik angka fantastis tersebut, terselip kegelisahan: mengapa justru porsi untuk makanan---yang menjadi inti program---terlihat paling kecil?


Data belanja Badan Gizi Nasional (BGN) tahun 2025 menunjukkan total anggaran sekitar Rp6,2 triliun. Namun, jika dicermati lebih dalam, alokasi terbesar justru mengalir ke kendaraan, dapur, perangkat lunak, hingga pelatihan. Sementara itu, anggaran untuk makanan hanya sekitar Rp242,8 miliar---angka yang terasa kontras dengan tujuan utama program ini. Belum ditambah BGN beli 21.000 motor listrik, berikut isi videonya di https://www.youtube.com/watch?v=dKIaBlFGl6o.


Pertanyaan sederhana pun muncul dari benak rakyat: untuk siapa sebenarnya program ini dibuat?

Bagi masyarakat kecil, khususnya para orang tua di pelosok negeri, MBG bukan sekadar program. Ia adalah harapan. Harapan agar anak-anak mereka bisa belajar dengan perut kenyang. Harapan agar generasi mendatang tumbuh sehat, cerdas, dan kuat menghadapi masa depan. Namun, ketika realitas anggaran tidak sejalan dengan esensi program, kepercayaan pun mulai goyah.

Kita tentu memahami bahwa sebuah program nasional membutuhkan infrastruktur. Kendaraan untuk distribusi, dapur untuk produksi, sistem digital untuk pengelolaan---semua itu penting. Namun, ketika proporsinya terasa timpang, publik berhak bertanya: apakah prioritasnya sudah tepat?

Dalam konteks ini, kritik bukanlah bentuk penolakan. Kritik adalah tanda cinta. Kritik adalah bentuk kepedulian rakyat kepada pemimpinnya. Dan kritik inilah yang ingin kita sampaikan dengan penuh hormat kepada Presiden Prabowo Subianto.

Bapak Presiden, rakyat percaya pada niat baik Anda. Program MBG adalah langkah besar yang menunjukkan keberpihakan kepada generasi muda. Namun, niat baik saja tidak cukup. Implementasi yang tepat sasaran adalah kunci keberhasilan.

Bayangkan seorang anak di desa terpencil. Ia datang ke sekolah dengan harapan mendapatkan makanan bergizi. Tapi jika anggaran lebih banyak terserap untuk hal-hal administratif dan operasional, maka yang sampai ke tangannya bisa jadi tidak sesuai harapan. Di sinilah letak kegelisahan itu.

Program sebesar ini seharusnya berani menempatkan makanan sebagai prioritas utama, bukan sekadar pelengkap. Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan anak-anak bukanlah kendaraan yang megah, bukan pula sistem yang canggih, melainkan sepiring makanan bergizi yang nyata di hadapan mereka.

Transparansi dan evaluasi menjadi hal yang sangat penting. Pemerintah perlu membuka ruang dialog dengan masyarakat, akademisi, dan praktisi gizi agar program ini benar-benar tepat guna. Anggaran harus dikaji ulang dengan pendekatan yang lebih berorientasi pada dampak langsung kepada penerima manfaat.

Selain itu, pelibatan masyarakat lokal juga bisa menjadi solusi. Mengapa tidak memberdayakan UMKM pangan lokal sebagai penyedia makanan? Selain lebih efisien, langkah ini juga dapat menggerakkan ekonomi daerah. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh anak-anak, tetapi juga oleh masyarakat luas.

Kita percaya, pemerintah memiliki niat untuk memperbaiki keadaan. Namun, tanpa koreksi yang jujur dan berani, program sebesar apa pun bisa kehilangan makna.

https://www.youtube.com/watch?v=xBiJTwGJaWE

Bapak Presiden, rakyat tidak menuntut kesempurnaan. Rakyat hanya berharap keadilan. Keadilan dalam alokasi anggaran, keadilan dalam prioritas kebijakan, dan keadilan dalam keberpihakan kepada mereka yang paling membutuhkan.

Semoga program MBG tidak hanya menjadi angka dalam laporan, tetapi benar-benar menjadi berkah bagi anak-anak Indonesia. Karena di balik setiap rupiah anggaran negara, ada harapan rakyat yang dititipkan. Dan harapan itu, jangan sampai mengecil---seperti porsi makanan yang kini dipertanyakan.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay/Kakek Jay

Guru Blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com

Omjay Guru Blogger Indonesia/dokpri
Omjay Guru Blogger Indonesia/dokpri

Berikut 6 tag SEO singkat yang kuat dan berpotensi viral:

  1. #MBGTriliunan
  2. #AnggaranGiziJanggal
  3. #KritikKebijakan
  4. #SuaraRakyat
  5. #GiziAnakBangsa
  6. #PrabowoDiuji

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3