Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Ketika Saya Menjadi Guru Senior: Belajar Memahami, Bukan Menghakimi. Dulu Saya Mengira Guru Senior Itu Malas, Ternyata Saya yang Belum Paham. Inilah kisah Omjay kali ini yang berangkat ke sekolah dengan menggunakan jasa KRL.

Dulu, saya adalah guru yang penuh semangat. Energi terasa tak ada habisnya. Setiap ada program baru dari pemerintah, saya berada di barisan terdepan. Setiap pelatihan saya ikuti. Setiap aplikasi pendidikan saya coba. Setiap lomba saya incar. Saya merasa inilah bentuk pengabdian terbaik: bergerak cepat, berinovasi tanpa henti, dan selalu menjadi yang pertama.
Di masa itu, saya sering memandang guru-guru senior dengan sudut pandang yang sederhana---bahkan cenderung sempit. Ketika melihat mereka duduk tenang di ruang guru saat ada sosialisasi program baru, saya menganggap mereka kurang peduli. Ketika mereka tidak antusias mencoba platform pembelajaran terbaru, saya menilai mereka malas berubah. Dalam pikiran saya saat itu, mereka adalah penghambat kemajuan.
Namun waktu adalah guru terbaik.
Kini, ketika saya berada di posisi yang dulu saya nilai, perspektif itu runtuh dengan sendirinya. Apa yang dulu saya anggap sebagai kemalasan, ternyata adalah sesuatu yang jauh lebih dalam: kelelahan yang tidak kasat mata, kelelahan yang terbangun dari pengalaman panjang---sebuah kelelahan sistemik.
Saya mulai memahami bahwa menjadi guru selama puluhan tahun bukan sekadar mengajar. Itu adalah perjalanan panjang menyaksikan perubahan demi perubahan yang seringkali hanya berbeda nama, tetapi tidak berbeda makna. Setiap pergantian kebijakan membawa istilah baru, pendekatan baru, bahkan jargon baru. Namun di lapangan, banyak hal tetap berjalan dengan pola yang hampir sama.
Guru senior telah melalui berbagai fase itu. Mereka pernah berada di posisi saya---penuh semangat, penuh harapan, dan penuh keyakinan bahwa perubahan besar sedang terjadi. Namun, berkali-kali mereka melihat bagaimana program yang dielu-elukan akhirnya memudar, tergantikan oleh program baru yang juga dijanjikan sebagai solusi.
Pengalaman itu membentuk cara pandang.
Apa yang terlihat sebagai sikap apatis, seringkali justru merupakan bentuk kedewasaan dalam menyikapi realitas. Mereka tidak lagi mudah terpesona oleh istilah-istilah baru. Mereka tidak lagi terjebak dalam euforia sesaat. Mereka memilih bersikap selektif, bukan karena tidak peduli, tetapi karena ingin tetap fokus pada hal yang paling penting: pembelajaran siswa.
Ada perubahan mendasar dalam cara berpikir seorang guru ketika memasuki fase senior.
Jika dulu pertanyaannya adalah, "Bagaimana saya bisa terlihat inovatif?", kini berubah menjadi, "Apakah ini benar-benar membantu siswa saya memahami pelajaran?"
Jika dulu energi dicurahkan untuk mengikuti semua hal baru, kini energi dijaga untuk hal yang paling berdampak. Jika dulu ukuran keberhasilan adalah pengakuan dan sertifikat, kini ukuran keberhasilan adalah senyum dan pemahaman siswa di kelas.
Menjadi guru senior juga mengajarkan bahwa energi bukanlah sesuatu yang bisa digunakan tanpa batas. Ada titik di mana seseorang harus mulai memilih: mana yang perlu diikuti, dan mana yang cukup disadari saja. Bukan karena menyerah, tetapi karena memahami prioritas.
Banyak guru senior memilih untuk tidak terlalu terlibat dalam program-program yang bersifat seremonial. Mereka bukan menolak perubahan, tetapi mereka belajar membedakan antara perubahan yang substansial dan perubahan yang hanya administratif.
Mereka tahu bahwa pendidikan sejatinya tidak terjadi di ruang rapat atau dalam laporan panjang. Pendidikan terjadi di ruang kelas---dalam interaksi sederhana antara guru dan siswa, dalam penjelasan yang sabar, dalam perhatian yang tulus, dan dalam kehadiran yang utuh.
Saya mulai menyadari bahwa diamnya mereka bukanlah tanda berhenti bergerak. Itu adalah bentuk lain dari gerak---gerak yang lebih tenang, lebih terarah, dan lebih bermakna.
Mereka memilih menjaga kewarasan. Mereka memilih menjaga semangat agar tidak habis oleh tuntutan yang terus berubah. Mereka memilih tetap hadir secara utuh untuk siswa, dibandingkan habis energi untuk hal-hal yang tidak langsung berdampak.
https://www.youtube.com/watch?v=ip6HwNr1w4o
Kini saya belajar untuk tidak lagi menghakimi.
Saya belajar bahwa setiap fase dalam kehidupan guru memiliki tantangannya sendiri. Guru muda dengan semangatnya adalah penggerak perubahan. Guru senior dengan kebijaksanaannya adalah penjaga arah agar perubahan tetap bermakna.
Keduanya bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk saling melengkapi.
Untuk rekan-rekan guru muda, teruslah berlari. Dunia pendidikan memang membutuhkan energi, ide, dan keberanian untuk mencoba hal baru. Namun, jangan lupa untuk sesekali menoleh dan belajar dari mereka yang telah lebih dulu berjalan jauh.
Dan untuk para guru senior, terima kasih. Diam Anda bukanlah ketidakpedulian, tetapi pelajaran tentang ketenangan. Sikap Anda bukanlah penolakan, tetapi bentuk kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman panjang.
Kini saya memahami satu hal penting: Menjadi guru bukan tentang siapa yang paling cepat berlari, tetapi siapa yang mampu bertahan paling lama dengan tetap menjaga hati.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan soal program yang silih berganti, melainkan tentang manusia yang terus belajar memahami manusia lainnya. Dan di situlah makna sejati menjadi seorang guru.
Salam Blogger Persahabatan
Omjay
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com
