Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Menjaga Niat di Tengah Kesibukan: Kisah Omjay yang Menyentuh Hati. Semoga bermanfaat buat pembaca setia kompasiana. Kisah ini omjay tuliskan setelah menonton video menjaga niat di tengah kesibukan yang disampaikan seorang siswi madrasah.
Pagi itu, seperti biasa, Omjay atau Dr. Wijaya Kusumah sudah duduk di depan halaman rumahnya. Tidak ada Secangkir kopi hangat menemani, sementara jari-jarinya mulai menari di atas keyboard ponsel jadulnya.
Jadwalnya Omjay hari itu padat merayap mulai dari: mengajar online, membimbing guru, menulis artikel, hingga menghadiri undangan webinar.
Sekilas, hidupnya tampak produktif, penuh prestasi, dan menginspirasi banyak orang. Namun, di balik semua kesibukan itu, ada satu hal yang terus Omjay jaga dengan penuh kesadaran: niat. Selain niat yang kuat Omjay juga tak lupa berolahraga.
https://youtu.be/kuE3-42KPmg?si=Hc-kChM4rEn_93fO
Awal yang Lurus
Omjay sering mengenang masa awal ketika mulai belajar menulis tahun 2007. Dulu, Omjay menulis bukan untuk terkenal, bukan untuk viral, apalagi untuk mendapatkan penghargaan.
Omjay menulis karena ingin berbagi. Omjay ingin ilmu yang Omjay dapatkan bermanfaat, dan ingin pengalamannya menjadi pelajaran bagi orang lain. Itulah mengapa Omjay rajin menulis setiap hari di kompasiana dan blog pribadinya di https://wijayalabs.com.
Saat itu, tulisannya sederhana. Pembacanya pun tidak banyak. Bahkan, sering kali tidak ada komentar sama sekali. Tapi hatinya justru terasa ringan. Omjay tidak terbebani ekspektasi. Omjay hanya fokus pada satu hal: menulis karena Allah SWT.
Namun waktu berjalan. Tulisan-tulisannya mulai dikenal. Banyak yang membagikan. Namanya sering disebut. Undangan datang dari berbagai tempat. Omjay mulai merasakan manisnya apresiasi. Omjay terbang berkeliling Indonesia. Dari Aceh hingga Papua sudah omjay jelajahi dengan santapan kulinernya yang lezat.
Di sinilah ujian sebenarnya dimulai. Omjay mulai diuji dengan kesuksesan demi kesuksesan hidup.

Saat Niat Mulai Bergeser
Suatu hari, Omjay menyadari ada yang berbeda dalam dirinya. Omjay mulai merasa kecewa ketika tulisannya sepi pembaca. Omjay mulai bertanya-tanya, "Kenapa artikel ini tidak viral?" atau "Mengapa tulisan saya tidak banyak dikomentari?"
Padahal dulu, Omjay tidak pernah memikirkan itu. Omjay menulis dan terus menulis setiap hari hingga tulisannya dirajut menjadi buku menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Omjay juga mulai lebih lama memilih judul artikel. Artikel bukan hanya agar menarik, tapi agar banyak diklik. Omjay mulai mengejar angka: jumlah pembaca, jumlah like, jumlah share. Pokoknya Omjay hanya ingin tulisannya dibaca banyak orang.
Hingga suatu malam, Omjay berhenti sejenak.
Omjay mulai menatap layar laptopnya yang masih terbuka. Artikel yang Omjay tulis belum selesai. Tapi bukan itu yang membuatnya gelisah. Hatinya terasa penuh, seolah ada sesuatu yang perlu diluruskan.
Dalam diam, Omjay bertanya pada dirinya sendiri:
"Saya menulis ini untuk siapa?"
Pertanyaan sederhana itu seperti mengetuk keras pintu hatinya.

Momen Refleksi yang Mengubah
Malam itu menjadi titik balik bagi Omjay. Omjay teringat sabda Rasulullah :
"Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya."
Kalimat itu begitu dalam. Omjay akhirnya menyadari, betapa mudahnya niat berubah tanpa disadari. Kesibukan, pencapaian, dan apresiasi manusia bisa perlahan menggeser tujuan awal yang lurus.
Omjay pun mengambil wudhu. OMJAY shalat dua rakaat. Dalam sujudnya, OMJAY memohon agar hatinya kembali diluruskan. OMJAY tidak ingin semua yang telah ia lakukan menjadi sia-sia hanya karena niat yang keliru.
Sejak saat itu, Omjay mulai membiasakan satu hal sederhana namun bermakna besar: mengecek niat sebelum memulai aktivitas.
Sebelum menulis, Omjay bertanya dalam hati: "Apakah ini untuk berbagi manfaat atau sekadar mencari pengakuan?"
Sebelum mengajar, Omjay bertanya: "Apakah ini untuk mendidik dengan ikhlas atau hanya menjalankan kewajiban?"
Sebelum menerima undangan narasumber, Omjay bertanya: "Apakah ini jalan untuk kebaikan atau hanya mengejar popularitas?"
Omjay Menjaga Niat di Tengah Kesibukan
Sebagai seorang guru, penulis, dan narasumber, kesibukan Omjay tidak pernah berkurang. Bahkan semakin hari, semakin banyak tanggung jawab yang ia emban. Tapi kini, ia memiliki kompas yang selalu ia pegang: niat yang lurus.
Omjay sadar, menjaga niat bukan pekerjaan sekali jadi. Ia adalah proses seumur hidup. Hati manusia mudah berubah. Hari ini ikhlas, besok bisa saja tergelincir.
Karena itu, Omjay tidak pernah merasa aman. Omjay terus belajar merendahkan diri. Omjay tidak lagi terlalu larut dalam pujian, dan tidak terlalu hancur oleh kritik.
Disinilah Omjay mulai menikmati proses, bukan hanya hasil. Omjay merasa lebih tenang, karena yang ia cari bukan lagi penilaian manusia, melainkan ridha Allah SWT.
Pelajaran untuk Kita Semua
Kisah Omjay adalah cermin bagi kita. Di era yang serba cepat ini, kita sering sibuk mengejar banyak hal: target, pencapaian, pengakuan, bahkan popularitas. Tanpa disadari, kita lupa bertanya:
"Ini semua untuk siapa?"
Padahal, nilai sebuah amal tidak hanya dilihat dari besar atau kecilnya, tetapi dari niat yang melatarbelakanginya.
Mengajar bisa menjadi ibadah, jika niatnya karena Allah. Menulis bisa menjadi ladang pahala, jika tujuannya untuk berbagi manfaat.
Bahkan pekerjaan sederhana pun bisa bernilai besar, jika dilakukan dengan niat yang benar.
Sebaliknya, amal yang tampak besar bisa menjadi kosong jika niatnya hanya untuk dunia. SEBAB niatnya sudah berubah.

Menutup dengan Renungan
Di tengah kesibukan yang tak pernah berhenti, mari kita belajar dari kisah Omjay. Luangkan waktu sejenak setiap hari untuk mengecek hati kita.
Tidak perlu lama. Cukup beberapa detik untuk bertanya: "Apakah yang saya lakukan ini sudah karena Allah?"
Karena pada akhirnya, bukan banyaknya aktivitas yang akan menyelamatkan kita, tetapi keikhlasan di dalamnya.
Saat niat terjaga, lelah terasa ringan. Saat niat lurus, langkah terasa bermakna. Dan saat niat benar, setiap amal---sekecil apa pun---akan bernilai besar di hadapan-Nya.
Tetaplah sibuk, tapi jangan lupa menjaga niat.
Sebab di sanalah letak keberkahan hidup yang sesungguhnya. Barakallah fiikum.
Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger indonesia
Blog https:///wijayalabs.com
