Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Ketika 100.000 Pembaca Tak Lagi Bermakna di Kompasiana

25 April 2026   19:00 Diperbarui: 26 April 2026   12:55 219 10 5

Jika dibagi rata, setiap artikel beliau "dihargai" sekitar Rp 330. Harga yang bahkan mungkin lebih kecil dari secangkir kopi sachet di warung. Lalu beliau teringat masa sebelumnya.

Di tahun 2025, beliau menulis lebih sedikit. Produktivitas beliau tidak seintens sekarang. Tetapi hasilnya jauh berbeda. Beliau rutin masuk dalam 10 besar penerima K-Reward bulanan. Nilainya ratusan ribu rupiah. Bahkan pernah melampaui Rp 600.000 dalam satu bulan.

Bukan hanya itu. Artikel beliau pun lebih sering tampil sebagai Headline. Setiap bulan, sekitar 10 tulisan beliau mendapat ruang istimewa. Di titik itu, beliau mulai menyadari sesuatu.

Beliau menulis di komentar tulisan Omjay. Yang berubah bukan saya. Bukan semangat saya. Bukan jumlah tulisan saya. Bahkan bukan jumlah pembaca saya. Yang berubah adalah cara sistem kompasiana menilai.

Dulu, beliau merasa ada hubungan yang cukup jelas antara jumlah pembaca dan penghargaan yang diberikan. Ketika tulisan dibaca banyak orang, ada semacam pengakuan bahwa tulisan itu memiliki dampak bagi penulisnya. Sekarang, rasanya berbeda.

Penilaian tampaknya lebih bertumpu pada interaksi: komentar dan rating dari sesama pengguna. Sekilas, ini terdengar wajar. Komunitas memang perlu hidup. Interaksi adalah denyut nadi sebuah platform.

Tetapi ada satu hal yang mungkin luput kita sadari bersama. Sebagian besar pembaca kita bukanlah mereka yang aktif berkomentar.

Mereka datang dari luar. Dari Google. Dari media sosial. Mereka membaca dalam diam. Tidak login. Tidak meninggalkan jejak berupa komentar atau rating. Namun bukan berarti mereka tidak penting. Justru merekalah mayoritas. 

Merekalah yang membuat angka 100.000 itu menjadi nyata. Merekalah yang mungkin tersenyum, mengangguk, atau bahkan tergerak hatinya setelah membaca. Tetapi dalam sistem yang ada sekarang, mereka seperti tidak pernah hadir. Seolah-olah pembaca yang tidak berkomentar adalah pembaca yang tidak ada.

Di sinilah hati Kakek Merza mulai terusik. Untuk siapa sebenarnya kita menulis? Apakah kita menulis untuk mendapatkan komentar dari sesama penulis? Ataukah kita menulis untuk menjangkau sebanyak mungkin orang yang membutuhkan tulisan kita?

Jika pembaca yang datang diam-diam itu tidak lagi dihitung sebagai bagian penting, maka ada sesuatu yang terasa hilang. Dalam dunia digital, kita sering mendengar satu kata kunci: trafik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4