Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Ketika 100.000 Pembaca Tak Lagi Bermakna di Kompasiana

25 April 2026   19:00 Diperbarui: 26 April 2026   12:55 238 11 5

Omjay naik angkot K20 menuju Rumah/dokpri
Omjay naik angkot K20 menuju Rumah/dokpri

Ketika 100.000 Pembaca Tak Lagi Bermakna di Kompasiana. Inilah kisah Omjay setelah membaca komentar kakek Merza yang panjang dan bijaksana. Bagi yang belum membacanya bisa dibuka link di bawah ini.

https://video.kompasiana.com/wijayalabs/69eb7604ed64152e7b575453/mengapa-gopay-kompasiana-semakin-kecil?utm_source=Whatsapp&utm_medium=Refferal&utm_campaign=Sharing_Mobile

Kakek Merza menulis panjang sekali. Beliau menulis di kompasiana hampir setiap hari. Bahkan, pada bulan Maret 2026, beliau seperti sedang berlari dalam maraton kata-kata. 

Sebanyak 89 artikel berhasil beliau publikasikan di Kompasiana. Bukan sekadar angka, tetapi setiap tulisan lahir dari waktu, tenaga, pikiran, dan tentu saja menulis dengan hati.

Dan ketika Omjay melihat statistiknya, wow jujur saja, ada rasa bangga yang tak bisa disembunyikan. Kakek Merza memang blogger kompasiana yang luar biasa.


Lebih dari 100.000 pembaca.

Seratus ribu orang. Seratus ribu pasang mata.
Seratus ribu kemungkinan bahwa tulisan-tulisan itu dibaca, direnungkan, atau mungkin sekadar menjadi teman di sela kesibukan mereka. Namun rasa bangga itu perlahan berubah menjadi tanda tanya.

Dari 89 artikel, hanya dua yang masuk kategori Artikel Utama (AU).
Dan total K-Reward yang beliau terima? Alhamdulillah hanya Rp 29.400.

Omjay sempat diam cukup lama melihat angka itu. Bukan karena nominalnya semata. Bukan. Omjay tidak sedang mempermasalahkan uang dalam arti sempit. Tetapi karena angka itu seperti tidak mampu mewakili apa yang sebenarnya terjadi.

Jika dibagi rata, setiap artikel beliau "dihargai" sekitar Rp 330. Harga yang bahkan mungkin lebih kecil dari secangkir kopi sachet di warung. Lalu beliau teringat masa sebelumnya.

Di tahun 2025, beliau menulis lebih sedikit. Produktivitas beliau tidak seintens sekarang. Tetapi hasilnya jauh berbeda. Beliau rutin masuk dalam 10 besar penerima K-Reward bulanan. Nilainya ratusan ribu rupiah. Bahkan pernah melampaui Rp 600.000 dalam satu bulan.

Bukan hanya itu. Artikel beliau pun lebih sering tampil sebagai Headline. Setiap bulan, sekitar 10 tulisan beliau mendapat ruang istimewa. Di titik itu, beliau mulai menyadari sesuatu.

Beliau menulis di komentar tulisan Omjay. Yang berubah bukan saya. Bukan semangat saya. Bukan jumlah tulisan saya. Bahkan bukan jumlah pembaca saya. Yang berubah adalah cara sistem kompasiana menilai.

Dulu, beliau merasa ada hubungan yang cukup jelas antara jumlah pembaca dan penghargaan yang diberikan. Ketika tulisan dibaca banyak orang, ada semacam pengakuan bahwa tulisan itu memiliki dampak bagi penulisnya. Sekarang, rasanya berbeda.

Penilaian tampaknya lebih bertumpu pada interaksi: komentar dan rating dari sesama pengguna. Sekilas, ini terdengar wajar. Komunitas memang perlu hidup. Interaksi adalah denyut nadi sebuah platform.

Tetapi ada satu hal yang mungkin luput kita sadari bersama. Sebagian besar pembaca kita bukanlah mereka yang aktif berkomentar.

Mereka datang dari luar. Dari Google. Dari media sosial. Mereka membaca dalam diam. Tidak login. Tidak meninggalkan jejak berupa komentar atau rating. Namun bukan berarti mereka tidak penting. Justru merekalah mayoritas. 

Merekalah yang membuat angka 100.000 itu menjadi nyata. Merekalah yang mungkin tersenyum, mengangguk, atau bahkan tergerak hatinya setelah membaca. Tetapi dalam sistem yang ada sekarang, mereka seperti tidak pernah hadir. Seolah-olah pembaca yang tidak berkomentar adalah pembaca yang tidak ada.

Di sinilah hati Kakek Merza mulai terusik. Untuk siapa sebenarnya kita menulis? Apakah kita menulis untuk mendapatkan komentar dari sesama penulis? Ataukah kita menulis untuk menjangkau sebanyak mungkin orang yang membutuhkan tulisan kita?

Jika pembaca yang datang diam-diam itu tidak lagi dihitung sebagai bagian penting, maka ada sesuatu yang terasa hilang. Dalam dunia digital, kita sering mendengar satu kata kunci: trafik.

Trafik adalah napas. Trafik adalah aliran kehidupan sebuah platform. Dari sanalah nilai ekonomi terbentuk. Dari sanalah keberlanjutan bisa dijaga. Namun ketika trafik tidak lagi menjadi faktor utama dalam penghargaan, maka terjadi semacam jarak antara realitas dan sistem.

Kakek Merza tidak mengatakan bahwa sistem sekarang salah. Tidak sesederhana itu. Beliau sangat percaya setiap perubahan pasti memiliki alasan. Mungkin ingin mendorong interaksi. Mungkin ingin membangun komunitas yang lebih erat. Namun, ketika keseimbangan itu hilang, dampaknya mulai terasa bagi kompasiana tercinta.

Penulis bisa saja mulai berubah arah. Bukan lagi menulis untuk memberi manfaat luas, tetapi menulis untuk memancing komentar.
Bukan lagi mengejar kualitas yang berdampak, tetapi mengejar respons yang terlihat. Dan tanpa sadar, kita bisa masuk ke dalam ruang gema. Tempat di mana kita saling membaca, saling mengomentari, tetapi perlahan menjauh dari pembaca di luar sana.

Kakek Merza menulis komentar ini bukan untuk mengeluh. Beliau menulis ini karena memang peduli. Beliau percaya Kompasiana adalah rumah bagi banyak penulis hebat. Tempat di mana ide, gagasan, dan pengalaman dibagikan dengan tulus.

Beliau juga percaya, pembaca---baik yang bersuara maupun yang diam---adalah bagian yang tidak terpisahkan dari ekosistem ini. Mungkin sudah saatnya kita kembali melihat ke dalam. Menata ulang keseimbangan.

Menggabungkan kembali dua hal yang sama pentingnya: interaksi dan jangkauan. Karena pada akhirnya, tulisan yang baik bukan hanya yang ramai dikomentari, tetapi juga yang mampu menjangkau, menyentuh, dan memberi makna---meski tanpa suara.

Demikianlah kisah Omjay tentang komentar Kakek Merza yang panjang. Ketika 100.000 Pembaca Tak Lagi Bermakna di Kompasiana. Ketika beliau melihat angka 100.000 itu lagi, beliau mencoba mengubah cara pandangnya.

Mungkin benar, sistem pengelola kompasiana belum sepenuhnya mampu menangkap nilai itu. Tetapi bukan berarti nilai itu tidak ada. Seratus ribu pembaca tetaplah seratus ribu pembaca. Dan bagi beliau, itu bukan angka kecil. Itu adalah alasan untuk terus menulis. Meski sunyi dan beliau sangat menikmatinya seperti Omjay yang rajin menulis setiap hari di kompasiana.

Salam blogger persahabatan

Omjay/Kakek Jay

Guru Blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com

Omjqy guru blogger indonesia/dokpri
Omjqy guru blogger indonesia/dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4