Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Kisah Omjay kali ini tentang Perjuangan Guru TIK sampai ke gedung DPR. Kami bergerak Dari Ruang Kelas Hingga Gedung DPR Demi Masa Depan Pendidikan Digital. Saat itu pemerintah menghapus mata pelajaran TIK dalam kurikulum 2013. Aki Tri mengirimkan kembali foto kenangan kami bersama menteri pendidikan dan kebudayaan waktu itu.
https://youtu.be/U0GJXa778ao?si=N7tvTfJNq4x0KUFZ
Perjuangan guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Indonesia bukanlah kisah yang singkat dan mudah. Ia adalah perjalanan panjang yang penuh liku, dimulai dari ruang-ruang kelas sederhana hingga akhirnya menapaki lorong-lorong kekuasaan di Gedung DPR.
Foto yang ditampilkan Wijaya Kusumah - omjay di Kompasiana berasal dari aki Tri di wa group pengurus Kogtik. Foto lama itu mengingat Omjay tentang sejarah perjuangan guru TIK.

Foto dari aki Tri yang ditampilkan menjadi saksi bisu sebuah momen bersejarah: ketika para guru TIK bersatu, melangkah bersama, dan menyuarakan aspirasi mereka langsung kepada pemangku kebijakan, termasuk Menteri Pendidikan saat itu, Mohammad Nuh.
Semua bermula ketika kebijakan penghapusan mata pelajaran TIK dari kurikulum nasional menimbulkan kegelisahan besar di kalangan guru. Banyak guru TIK merasa kehilangan peran, bahkan sebagian terancam kehilangan jam mengajar yang berdampak pada kesejahteraan mereka. Lebih dari itu, mereka melihat adanya potensi kemunduran dalam kesiapan generasi muda menghadapi era digital.
Bagi para guru TIK, mata pelajaran ini bukan sekadar soal mengoperasikan komputer. Ia adalah gerbang awal bagi siswa untuk memahami dunia digital, berpikir logis, hingga mengenal dasar-dasar coding dan literasi teknologi. Menghapus TIK sama saja dengan menutup sebagian pintu masa depan anak bangsa. Sekarang pelajaran TIK berganti nama menjadi Informatika.
Kesadaran inilah yang kemudian menyatukan para guru dari berbagai daerah. Dengan semangat gotong royong, mereka mengorganisir diri, berdiskusi, dan merumuskan langkah strategis. Tidak sedikit dari mereka yang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan biaya pribadi untuk memperjuangkan hak mereka dan masa depan pendidikan Indonesia.
https://youtu.be/TokD_3R_Rn0?si=JtLlzu4OtfXRsxsW
Perjalanan menuju Gedung DPR bukanlah hal yang mudah. Sebagian guru harus menempuh perjalanan jauh dari daerah, meninggalkan keluarga dan tanggung jawab mengajar sementara waktu. Namun, semangat mereka tidak surut. Mereka datang bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai representasi ribuan guru TIK di seluruh Indonesia.
Sesampainya di Jakarta, mereka tidak sekadar datang untuk "mengeluh". Mereka datang dengan data, argumentasi, dan solusi. Mereka ingin didengar, bukan dikasihani.
Dalam berbagai forum diskusi dan audiensi, mereka menyampaikan pentingnya TIK sebagai mata pelajaran mandiri, bukan sekadar disisipkan dalam mata pelajaran lain. Mereka datangi DPR untuk menyampaikan aspirasinya. Alhamdulillah kami diterima dengan baik oleh sekjen DPR.
Puncak dari perjuangan ini adalah ketika mereka mendapatkan kesempatan untuk bertemu langsung dengan Menteri Pendidikan dan kebudayaan, Mohammad Nuh. Dalam pertemuan tersebut, para guru menyampaikan aspirasi mereka dengan penuh semangat namun tetap santun. Mereka menjelaskan bahwa di era globalisasi, kemampuan teknologi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Menteri Pendidikan dan kebudayaan saat itu menyambut baik aspirasi tersebut. Dialog yang terjadi menjadi bukti bahwa komunikasi antara pemerintah dan guru sangat penting dalam merumuskan kebijakan pendidikan yang tepat. Meskipun tidak semua tuntutan langsung terpenuhi, pertemuan tersebut membuka jalan bagi perubahan kebijakan di masa mendatang.
Perjuangan ini tidak berhenti di Gedung DPR. Para guru TIK terus bergerak, melakukan sosialisasi, pelatihan, dan bahkan inovasi pembelajaran di sekolah masing-masing. Mereka membuktikan bahwa meskipun kebijakan berubah, semangat untuk mengajar dan mencerdaskan anak bangsa tidak pernah padam.
Dari perjuangan ini, kita belajar bahwa guru bukan hanya pengajar di kelas, tetapi juga agen perubahan. Mereka memiliki peran strategis dalam membentuk arah pendidikan nasional. Ketika mereka bersatu dan bergerak, suara mereka mampu menggema hingga ke pusat kekuasaan.
Kisah Omjay ini juga menjadi pengingat bahwa kebijakan pendidikan seharusnya tidak dibuat secara sepihak. Suara guru sebagai pelaku utama di lapangan harus menjadi pertimbangan utama. Karena pada akhirnya, merekalah yang paling memahami kebutuhan siswa dan tantangan nyata di dunia pendidikan.
Hari ini, ketika kita melihat perkembangan teknologi yang semakin pesat mulaindari kecerdasan buatan hingga transformasi digital. Kini kita semakin menyadari bahwa perjuangan guru TIK kala itu bukanlah sesuatu yang berlebihan. Justru mereka adalah orang-orang yang telah melihat jauh ke depan, ketika banyak pihak masih ragu.
Perjuangan mereka adalah bukti bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian untuk bersuara. Dari ruang kelas sederhana hingga Gedung DPR, mereka telah menorehkan sejarah. Dan sejarah itu akan terus dikenang sebagai salah satu tonggak penting dalam perjalanan pendidikan Indonesia menuju era digital.
Semoga semangat para guru TIK ini terus hidup dan menginspirasi generasi pendidik berikutnya. Karena sejatinya, pendidikan bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang masa depan yang sedang kita bangun bersama.
Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com
