Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Menjelajah Dunia Imajinasi Melalui Seni Menulis Dongeng dan Cerita Anak di KBMN PGRI

29 April 2026   15:54 Diperbarui: 29 April 2026   16:37 133 3 0

Selain karakter, alur atau plot juga menjadi elemen penting. Dongeng yang baik memiliki alur yang jelas: pengenalan, konflik, klimaks, dan penyelesaian. Konflik tidak harus rumit, tetapi harus mampu menggugah rasa ingin tahu pembaca. Anak-anak, sebagai target utama cerita, sangat menyukai kisah yang sederhana namun penuh makna. Oleh karena itu, penulis dituntut untuk mampu menyederhanakan ide besar menjadi cerita yang mudah dipahami tanpa kehilangan nilai moralnya.

Pesan moral adalah ruh dari dongeng dan fabel. Setiap cerita seharusnya membawa pelajaran kehidupan. Baik itu tentang kejujuran, keberanian, persahabatan, atau rasa syukur. 

Namun, dalam penyampaiannya, pesan ini tidak boleh terasa menggurui. Justru harus mengalir secara alami melalui tindakan dan pengalaman tokoh dalam cerita. Di sinilah seni bercerita diuji: bagaimana menyampaikan nilai tanpa terasa memaksa.

Dalam diskusi atau pertemuan kelima, juga akan dibahas pentingnya penggunaan bahasa yang indah namun sederhana. Kata-kata dalam cerita anak harus mampu membangkitkan imajinasi, tetapi tetap mudah dicerna. 

Kalimat yang terlalu kompleks justru dapat menghilangkan daya tarik cerita. Sebaliknya, pilihan kata yang tepat dapat membuat pembaca seolah-olah melihat, mendengar, dan merasakan langsung apa yang terjadi dalam cerita.

Menariknya, peserta juga akan diajak untuk menggali ide dari hal-hal sederhana di sekitar. Tidak perlu menunggu inspirasi besar. Seekor kucing di halaman rumah, suara hujan di malam hari, atau percakapan kecil dengan anak bisa menjadi benih cerita yang luar biasa. Kuncinya adalah kepekaan dan keberanian untuk menuangkannya dalam tulisan.

Lebih jauh lagi, menulis dongeng ternyata juga menjadi sarana refleksi diri. Banyak penulis yang tanpa sadar memasukkan pengalaman pribadi, harapan, bahkan luka dalam cerita yang mereka tulis. Hal ini membuat dongeng menjadi lebih autentik dan menyentuh. Karena sejatinya, cerita yang baik adalah cerita yang lahir dari hati.

Pertemuan kelima KBMN PGRI ini juga akan menegaskan bahwa menulis adalah keterampilan yang bisa dilatih. Tidak harus menunggu sempurna untuk memulai. Justru dari keberanian untuk menulis, seseorang akan belajar memperbaiki, mengembangkan, dan menemukan gaya khasnya sendiri. Setiap tulisan adalah langkah menuju kematangan.

Semangat yang terasa malam itu akan begitu kuat. Para peserta tidak hanya belajar teori, tetapi juga termotivasi untuk langsung praktik. Banyak di antara mereka yang mulai menuliskan ide-ide sederhana, mengembangkan tokoh, bahkan merancang alur cerita. Ini menunjukkan bahwa literasi bukan sekadar wacana, tetapi gerakan nyata yang tumbuh dari kemauan untuk belajar dan berbagi.

Di akhir pertemuan, sebuah ajakan kembali ditegaskan: mari menulis dengan hati. Karena dongeng yang lahir dari hati akan sampai ke hati pula. Dunia anak-anak membutuhkan lebih banyak cerita yang membangun, menginspirasi, dan menguatkan karakter mereka. Dan para guru, penulis, serta pegiat literasi memiliki peran besar dalam mewujudkannya.

KBMN PGRI bukan hanya tempat belajar menulis, tetapi juga ruang bertumbuh bagi jiwa-jiwa kreatif yang ingin memberi makna melalui kata. Pertemuan kelima ini menjadi bukti bahwa dengan imajinasi, ketulusan, dan komitmen, setiap orang bisa menjadi pencipta dunia. Dalam dunia yang penuh keajaiban, harapan, dan nilai-nilai kehidupan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3