Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana


Focus, Majalah terkemuka Jerman, pernah menobatkan Sumba sebagai "The best beautiful Island in the World;" karena keindahan alam dan "misterius magis kearifan lokal." Di Negeri Seribu Bukit ini, sangat banyak paduan alam, unsur budaya, keramahan rakyat sehingga menjadi tarik siapa pun. Karena Sumba memiliki hamparan padang sabana luas, pantai berpasir putih, dan warisan budaya megalitikum yang eksotis.
Namun, keindahan Sumba yang mendunia tersebut, tak sebanding dengan "keindahan perlindungan dan kesejahteraan Anak-anak," terutama di wilayah terpencil. Bahkan, isolasi geografis serta "kebiasaan budaya," mempermudah praktek kejahatan Predator Child Grooming.
Kasus Predator Child Grooming di daratan Sumba menunjukkan anomali yang sangat berbahaya karena bersembunyi di balik relasi kuasa dan kedekatan emosional. Sehingga, pulau Sumba bukan sekadar wilayah eksotis, tapi menjadi medan tempur perlindungan anak yang sangat menantang. Misalnya,
Jejak Digital menunjukkan bahwa seiring meluasnya akses internet di Sumba Barat Daya dan Sumba Timur, terjadi peningkatan digital grooming (pendekatan lewat media sosial) 15% pada awal 2026. Dalam artian Predator Child Grooming melakukan barter dikirim kuota dan uang pada anak dan remaja putri, dengan imbalan konten asusila (foto atau video diri).
Dari lebih dari 500 (diyakini hanya sebagian kecil yang dilaporkan atau terungkap ke publik) kasus kekerasan seksual (terhadap anak-anak) di NTT (data 2025), dengan modus Child Grooming, juga terjadi di Sumba. Banyak kasus di pedalaman Sumba Tengah dan Sumba Barat berakhir dengan penyelesaian adat tanpa pemulihan psikologis terhadap korban. Bahkan,
Ketika mengawali Kampanye Anti Predator Child Grooming, hingga saat ini, tak seorang pun yang bisa membantah Saya bahwa kejahatan yang dilakukan oleh Penjahat tersebut berdampak pada rusaknya totalitas diri korban serta merusak peradaban.
Saya tak menakutkan siapa pun; tapi berdasarkan data KemenPPPA bahwa, jumlah kekerasan seksual terhadap anak mencapai 18000 kasus (dan yang dilaporkan; sementara puluhan ribu lainnya tak mencapai ranah hukum); maka ke depan, ada ratusan ribu, bahkan jutaan, perempuan dewasa dengan beban "stigma mengalami pelecehan seksual berat" ada di sekitar Anda dan Saya. Mungkin saja, nantinya, mereka adalah isteri atau menantu Anda dan Saya. Dan, akhirnya, Anda dan Saya ikut merasakan penderitaan serta luka-luka batin korban Predator Child Grooming. "Anda Masih Diam terhadap kejahatan Predator Child Grooming!?"

Kembali ke Endemi Predator Child Grooming di NTT, Klaster Sumba. Sumba sedang dalam kondisi waspada tinggi. Jika perlindungan tidak diperketat, keindahan Sabana Sumba terus ternoda oleh kehadiran penjahat kemanusiaan yang menghancurkan peradaban dari dalam rumah.
Agaknya aparat Pemda di Daratan Sumba, juga melihat ke masa depan; mereka juga tak mau peradaban Sumba hancur karena kejahatan Predator Child Grooming. Sehingga, Pemerintah Daerah di Sumba, berupaya melenyapkan para Predator Child Grooming. Upaya tersebut antara lain,
"Saya Memaksa"semua Anak Sumba, termasuk mereka yang di Diaspora, harus menjawab panggilan moral, "Menjaga Kehormatan Adat dari Penjarah Kemanusiaan."
Sumba, dengan eksotisme sabana, stepa, pantai, dan keluhuran adat adalah salah satu wajah peradaban NTT seta Indonesia sangat berharga. Namun, di balik semua keindahan tersimpan kerentanan sosial dan ekonomi tajam. Sumba bukan sekadar destinasi; Sumba adalah "Halaman Rumah Saya" yang sementara disusupi oleh Predator Kemanusiaan (Predator Child Grooming dan Predator Humantraficking).
Di tanah Marapu, Predator Child Grooming melakukan aksi dengan cara licin dan licik. Mereka merayu anak-anak (calon korban) dan "mengambil hati" seluruh keluarga besar. Penjahat Kelamin itu memposisikan diri sebagai pahlawan ekonomi, memberikan bantuan dana, hewan ternak, atau biaya pendidikan, hanya untuk mendapatkan akses agar bisa menghancurkan masa depan (calon) korban. Itu adalah penghinaan terhadap nilai luhur Sumba. Perlindungan anak dari Predator harus dijadikan bagian dari "Harga Diri Adat." Jika mereka dirusak, maka martabat seluruh kampung telah dilecehkan. Jika Keagungan Adat Sumba untuk menjaga martabat manusia, maka membiarkan Predator merusak anak-anak; maka itu adalah pengkhianatan terhadap leluhur.
Oleh itu, semua Anak-anak Tanah Marapu harus menyadari bahwa "kemiskinan" yang masih ada di kantong-kantong gelap di Sumba adalah pintu masuk utama Predator membinasakan peradaban. Menjaga anak Sumba bisa berarti menjaga kehormatan adat.
Jangan biarkan "Eksotisme Sumba" menjadi kedok bagi kejahatan kemanusiaan. Anda dan Saya stop masa bodoh. Sumba yang terbuka (Rumah Terbuka) bukan berarti mudah untuk dihancurkan.
Mari bersatu menjaga halaman rumah
Sumba, April 2026
Opa Jappy | Penggagas Kampanye Anti Predator Child Grooming