Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Alhamdulilah pagi ini Omjay sudah berada di stasiun LRT Cikunir 1 menuju sekolah. Omjay belum boleh membawa mobil pribadi. Omjay memilih naik angkutan umum, salah satunya LRT. Di Balik Senyum Omjay itu ada yang tersembunyi. Sebuah Perjalanan Sunyi Melawan Vertigo dan Bayang-Bayang Stroke. Inilah kisah Omjay di kompasiana. Semoga bermanfaat buat pembaca kompasiana.

Pagi itu tampak biasa saja. Seperti hari-hari lainnya, hiruk pikuk kota Bekasi terus berjalan tanpa jeda. Orang-orang bergegas mengejar waktu, kendaraan saling berlomba, dan kehidupan seolah tak memberi ruang untuk berhenti.
Namun di sudut yang tak banyak diperhatikan, ada sebuah kisah yang diam-diam menyimpan luka. Sebuah kisah seorang guru, seorang penulis, seorang pejuang kehidupan. Nama panggilannya: Omjay.
Dari luar, wajahnya tampak tenang. Senyum tipis menghiasi bibirnya, seakan tidak ada beban yang ia pikul. Dengan peci khas Aceh di kepala dan tas sederhana di tangan, Omjay duduk di kursi angkutan umum, mencoba menjaga keseimbangan tubuhnya. Tidak banyak yang tahu, di balik senyum itu, dunia Omjay sedang berputar hebat.
https://youtu.be/zwpavVg6pyQ?si=oTmxO-x-EzycOZoO
Vertigo datang tanpa permisi.
Kepalanya terasa berputar seperti dunia yang kehilangan poros. Pandangannya kabur, tubuhnya limbung. Setiap gerakan kecil terasa seperti gelombang besar yang mengguncang. Namun hari itu, ia tetap memaksakan diri naik angkutan umum. Bukan karena kuat, tetapi karena keadaan memaksanya untuk tetap berjalan.
Di dalam angkutan itu, Omjay memilih diam. Omjay menunduk sejenak, menarik napas dalam-dalam, mencoba berdamai dengan rasa yang sulit dijelaskan.
Di sampingnya, orang-orang sibuk dengan dunia masing-masing. Ada yang menatap layar ponsel, ada yang terlelap, ada pula yang sekadar menunggu sampai tujuan. Tak ada yang tahu, bahwa di antara mereka, ada seseorang yang sedang berjuang melawan tubuhnya sendiri. Omjay tak ingin terlambat datang ke sekolah.