Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Bagi Omjay, ini bukan sekadar vertigo. Ada bayang-bayang lain yang lebih menakutkan: stroke. Penyakit yang datang diam-diam, tapi dampaknya bisa merenggut segalanya. Omjay tahu betul risiko itu.
Tubuhnya memberi sinyal, peringatan yang tidak bisa diabaikan. Namun sebagai seorang guru, Omjay terbiasa mengalahkan rasa sakit demi tanggung jawab. Tak boleh siswanya tertinggal pelajaran karena gurunya tak hadir di sekolah.
Di tengah guncangan itu, pikirannya melayang. Omjay teringat murid-muridnya. Teringat tulisan-tulisannya yang belum selesai. Teringat keluarga yang menunggunya di rumah. Ada begitu banyak alasan untuk tetap bertahan. Ada begitu banyak harapan yang belum ingin ia lepaskan.
Tangannya sempat berpegangan erat pada kursi. Bukan karena takut jatuh semata, tetapi karena ia sedang menahan sesuatu yang lebih besar: rasa rapuh. Seorang guru yang selama ini menguatkan orang lain, kini harus belajar menguatkan dirinya sendiri.
Air mata nyaris jatuh. Namun Omjay tahan. Bukan karena Omjay tidak ingin menangis, tetapi karena ia tahu, hidup tidak selalu memberi ruang untuk itu. Kadang, seseorang harus tetap tersenyum meski hatinya sedang berteriak.
Perjalanan itu terasa sangat panjang.
Setiap detik seperti menit, setiap menit seperti jam. Tubuhnya lelah, pikirannya penuh, tapi ia tetap bertahan. Hingga akhirnya, angkutan itu berhenti di tujuan. Dengan langkah perlahan, Omjay turun, mencoba menapak bumi yang masih terasa berputar.
Omjay berhenti sejenak. Menatap langit. Dan dalam diam, ia berbisik kepada dirinya sendiri, "Saya harus kuat."
Kisah Omjay ini bukan tentang kelemahan.
Ini tentang keberanian yang sering tidak terlihat. Tentang perjuangan yang tidak selalu mendapat tepuk tangan. Tentang seorang manusia yang memilih tetap berjalan, meski tubuhnya memohon untuk berhenti.
Omjay mengajarkan kita satu hal penting bahwa hidup bukan tentang seberapa kuat kita terlihat, tetapi seberapa mampu kita bertahan ketika tidak ada yang melihat.
Hari itu, Omjay memang naik angkutan umum dengan tubuh yang goyah. Namun sesungguhnya, ia sedang menempuh perjalanan yang jauh lebih berat yaitu perjalanan melawan rasa sakit, melawan ketakutan, dan melawan kemungkinan terburuk dalam hidupnya.