Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Liputan Kegiatan KBMN PGRI Pertemuan Keempat Bersama Pegiat Literasi Masyarakat

29 April 2026   11:19 Diperbarui: 29 April 2026   14:30 176 5 2

narsum dan moderator pertemuan keempat KBPM PGRI/dokpri
narsum dan moderator pertemuan keempat KBPM PGRI/dokpri

Kisah Omjay kali ini tentang liputan Pegiat Literasi Melalui Taman Baca Masyarakat (TBM). TBM telah banyak menghidupkan Cahaya Pengetahuan di Tengah Masyarakat. Buku adalah jendela dunia. Anak-anak menjadi sennag membaca di TBM. Dari Sudut Kampung ke Perubahan Bangsa: Kisah Pegiat TBM Menyalakan Revolusi Literasi.

Temu penulis kbmn pgri

Pertemuan literasi pada Senin malam, 27 April 2026, menjadi ruang refleksi yang hangat dan penuh inspirasi. Dengan tema "Pegiat Literasi Melalui Taman Baca Masyarakat (TBM)", kegiatan ini dipandu oleh moderator yang komunikatif, Ibu Aam Nurhasanah, serta menghadirkan narasumber yang berpengalaman, Bapak Bambang Purwanto. Diskusi ini membuka wawasan peserta tentang pentingnya peran pegiat literasi dalam membangun budaya membaca di tengah masyarakat yang terus berubah di era digital.

Pegiat literasi pada dasarnya adalah individu atau kelompok yang secara aktif menggerakkan kegiatan membaca, menulis, dan belajar. Mereka bukan sekadar penggerak kegiatan, tetapi juga agen perubahan sosial. Dalam realitas kehidupan masyarakat saat ini, di mana gawai lebih menarik dibanding buku, kehadiran pegiat literasi menjadi sangat penting. Mereka hadir sebagai jembatan antara masyarakat dan dunia pengetahuan.

Salah satu sarana utama yang digunakan oleh para pegiat literasi adalah Taman Baca Masyarakat (TBM). TBM bukan hanya sekadar tempat menyimpan buku, tetapi merupakan ruang hidup yang menghadirkan harapan. Di dalamnya, anak-anak belajar mengeja mimpi, remaja menemukan jati diri, dan orang dewasa memperluas wawasan. TBM menjadi ruang inklusif yang dapat diakses oleh siapa saja tanpa batasan.

Tujuan utama TBM sangat mulia. Pertama, meningkatkan minat baca masyarakat yang masih tergolong rendah. Kedua, menyediakan akses bacaan yang mudah dijangkau, terutama di daerah yang minim fasilitas pendidikan. Ketiga, menumbuhkan budaya literasi yang berkelanjutan. Dan keempat, mendukung konsep belajar sepanjang hayat, di mana proses belajar tidak berhenti di bangku sekolah saja.

Dalam praktiknya, peran pegiat literasi sangatlah kompleks. Mereka tidak hanya mengelola TBM secara administratif, tetapi juga menjadi motor penggerak kegiatan. Mereka harus mampu menyediakan koleksi buku yang menarik, merancang program kegiatan yang kreatif, serta membangun jejaring kerja sama dengan berbagai pihak. Peran ini menuntut dedikasi tinggi, kreativitas, dan ketulusan.

Berbagai kegiatan menarik dapat dilakukan di TBM. Misalnya, kegiatan membaca bersama yang sederhana namun berdampak besar dalam menumbuhkan kebiasaan membaca. Ada juga pelatihan menulis cerita dan puisi yang dapat mengasah kreativitas anak-anak dan remaja. Kegiatan mendongeng menjadi cara efektif untuk menanamkan nilai moral sejak dini. Selain itu, diskusi buku, lomba literasi, hingga kelas keterampilan juga dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.

Manfaat keberadaan TBM sangat nyata. TBM mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat secara umum. Anak-anak terbantu dalam proses belajar mereka, terutama bagi yang memiliki keterbatasan akses terhadap buku pelajaran. Tidak hanya itu, TBM juga mendorong lahirnya kreativitas dan kemampuan berpikir kritis. Bahkan, dalam banyak kasus, TBM menjadi pusat kegiatan masyarakat yang mempererat hubungan sosial antarwarga.

Namun, perjalanan TBM tidak selalu mulus. Banyak tantangan yang harus dihadapi oleh para pegiat literasi. Keterbatasan koleksi buku menjadi masalah klasik yang sering ditemui. Selain itu, dukungan dana yang minim juga menjadi kendala dalam pengembangan program. Rendahnya minat baca masyarakat menjadi tantangan tersendiri yang membutuhkan pendekatan kreatif. Ditambah lagi, kurangnya relawan atau tenaga pengelola membuat beban kerja semakin berat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3