Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Pengurus PGRI Provinsi Jawa Barat mengiirmkan ucapan selamat hari pendidikan nasional atau Hardiknas. Temanya adalah menguatkan Partisipasi Semesta: Semangat Hari Pendidikan Nasional 2026 dari PGRI Jawa Barat. Inilah kisah Omjay hari ini.
https://youtube.com/shorts/AkUxRMDvado?si=4ywGdiBLTYscxG5s
Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2026 kembali menjadi momentum penting untuk merefleksikan perjalanan panjang dunia pendidikan di Indonesia. Banyak orang merayakannya dengan meriah. Tahun ini Omjay merayakannya di rumah saja. Sementara kawan lainnya, diajak makan-makan bersama para pejabat.

Dalam gambar yang beredar dari PGRI Provinsi Jawa Barat, tampak dua sosok pemimpin pendidikan berdiri tegap mengenakan seragam batik khas PGRI, yaitu ketua H. Akhmad Juhana dan Sekertaris Dede Hidayat. Kehadiran mereka bukan sekadar simbol organisasi, tetapi representasi dari komitmen kuat para guru dalam membangun pendidikan yang bermutu untuk semua.
Dengan mengusung tema "Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu Untuk Semua", PGRI Jawa Barat mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak tinggal diam. Pendidikan bukan hanya urusan guru di kelas, melainkan tanggung jawab bersama orang tua, masyarakat, pemerintah, hingga dunia usaha.
Tema ini terasa sangat relevan di tengah tantangan pendidikan saat ini. Era digital, perkembangan kecerdasan buatan, serta perubahan sosial yang begitu cepat menuntut sistem pendidikan untuk terus beradaptasi. Namun, adaptasi itu tidak akan berhasil tanpa keterlibatan semua pihak. Di sinilah makna "partisipasi semesta" menjadi kunci utama.
https://www.youtube.com/watch?v=lUyQ0XAIepghttps://www.youtube.com/watch?v=lUyQ0XAIepg
Guru sebagai Garda Terdepan
Dalam konteks ini, peran guru tetap menjadi pusat perhatian. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pembimbing, inspirator, dan agen perubahan. Sosok seperti H. Akhmad Juhana mencerminkan dedikasi panjang dalam memperjuangkan hak dan kualitas guru. Sementara itu, Dede Hidayat menunjukkan pentingnya manajemen organisasi yang kuat dalam menggerakkan roda pendidikan.
Guru di era sekarang dituntut lebih dari sekadar menyampaikan materi. Mereka harus mampu membangun karakter, menanamkan nilai, serta membekali siswa dengan keterampilan abad 21 seperti berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif. Tidak mudah, tetapi itulah tantangan yang harus dihadapi.
Sayangnya, masih banyak guru yang menghadapi keterbatasan, baik dari sisi fasilitas, kesejahteraan, maupun dukungan kebijakan. Oleh karena itu, peringatan Hardiknas seharusnya tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi momentum untuk memperjuangkan perubahan nyata.
Partisipasi Semesta: Dari Wacana ke Aksi
Partisipasi semesta berarti semua pihak mengambil peran sesuai kapasitasnya. Orang tua tidak lagi menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada sekolah. Mereka harus hadir sebagai mitra guru di rumah. Masyarakat juga perlu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang anak.
Pemerintah memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan kebijakan pendidikan berpihak pada kualitas dan pemerataan. Sementara itu, dunia usaha dapat berkontribusi melalui program CSR, beasiswa, maupun kemitraan dengan sekolah.
Di sisi lain, teknologi juga dapat menjadi jembatan partisipasi. Platform digital memungkinkan kolaborasi lintas wilayah, memperluas akses belajar, dan membuka peluang inovasi pembelajaran. Namun, teknologi harus dimanfaatkan secara bijak agar tidak justru menciptakan kesenjangan baru.
Pendidikan Bermutu untuk Semua
Frasa "untuk semua" menegaskan bahwa pendidikan harus inklusif. Tidak boleh ada anak yang tertinggal karena faktor ekonomi, geografis, atau sosial. Pendidikan di daerah terpencil harus mendapatkan perhatian yang sama dengan di kota besar.
PGRI Jawa Barat melalui pesan Hardiknas ini seolah ingin mengingatkan bahwa kualitas pendidikan tidak boleh hanya dinikmati oleh segelintir orang. Pendidikan adalah hak setiap warga negara, dan negara wajib memenuhinya.
Namun, kualitas tidak hanya diukur dari nilai akademik. Pendidikan bermutu juga mencakup pembentukan karakter, integritas, dan kepedulian sosial. Anak-anak Indonesia harus tumbuh menjadi manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia.
Refleksi dan Harapan
Melihat visual dalam gambar tersebut, ada pesan kuat yang ingin disampaikan: kebersamaan dan keseriusan. Dua tokoh berdiri sejajar, mengenakan seragam yang sama, menunjukkan bahwa perjuangan pendidikan adalah perjuangan kolektif.
Hari Pendidikan Nasional 2026 seharusnya menjadi titik refleksi. Sudah sejauh mana kita berkontribusi dalam dunia pendidikan? Apakah kita hanya menjadi penonton, atau sudah ikut terlibat?
Harapannya, semangat yang digaungkan oleh PGRI Jawa Barat ini tidak hanya berhenti pada slogan. Ia harus menjadi gerakan nyata yang dirasakan dampaknya oleh siswa di seluruh penjuru negeri.
Karena pada akhirnya, masa depan Indonesia ditentukan oleh kualitas pendidikannya hari ini. Dan kualitas pendidikan tidak akan tercapai tanpa partisipasi kita semua.
Mari kita jadikan Hardiknas 2026 sebagai momentum untuk bergerak bersama. Dari guru, untuk bangsa. Dari pendidikan, untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.
Salam Blogger Persahabatan
Omjay/Kakek Jay
