Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Saya Omjay, atau Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd memberikan materi semanrat atau workshop, Omjay sering mengatakan bahwa menulis tidak mengenal usia. Menulis adalah tentang hati yang terus hidup. Selama seseorang masih memiliki pengalaman, selama masih ada kenangan, gagasan, dan pelajaran hidup, maka sesungguhnya bahan tulisan tidak akan pernah habis.
Banyak orang muda punya tenaga, tetapi belum tentu punya pengalaman. Sebaliknya, para senior memiliki pengalaman hidup yang sangat kaya. Pengalaman itu mahal. Pengalaman itu berharga. Dan pengalaman itu akan hilang begitu saja bila tidak dituliskan.
Bayangkan berapa banyak ilmu yang pernah diajarkan selama puluhan tahun mengajar. Berapa banyak kisah siswa yang menginspirasi. Berapa banyak metode pembelajaran yang pernah dicoba. Semua itu sebenarnya dapat menjadi buku yang sangat berharga bagi generasi berikutnya.
Sayangnya, banyak orang merasa minder ketika memasuki usia senja. Mereka berkata:
"Saya sudah tua." "Saya sudah tidak produktif." "Siapa yang mau membaca tulisan saya?"
Padahal sejarah membuktikan banyak karya besar lahir di usia matang. Ada penulis yang baru menerbitkan buku pertamanya di usia 60 tahun. Ada pula guru pensiunan yang justru menjadi produktif setelah tidak lagi sibuk mengajar setiap hari. Mengapa? Karena mereka akhirnya memiliki waktu untuk merenung dan menulis.
Masalah terbesar sebenarnya bukan usia. Masalah terbesar adalah kehilangan motivasi. Motivasi itu seperti api. Jika tidak dijaga, motivasi itu akan padam perlahan. Karena itu, api semangat menulis harus terus disiram dengan inspirasi, komunitas, dan tujuan hidup yang jelas.
Ada beberapa kiat sederhana agar semangat menulis tumbuh kembali di usia senja. Berikut ini adalah beberapa kitanya eh kiatnya, yaitu:
Pertama, jangan berpikir harus langsung menulis buku tebal.
Mulailah dari tulisan pendek. Tulis pengalaman mengajar satu halaman saja. Tulis kisah lucu bersama siswa. Tulis kenangan saat pertama kali menjadi guru. Dari tulisan kecil itu, lama-lama akan terkumpul menjadi buku yang indah.
Kedua, jangan menunggu sempurna.