Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Betapa banyak orang yang mampu membeli kendaraan mewah, tetapi sulit berbagi dengan sesama. Betapa banyak yang terlihat kaya, tetapi miskin kepedulian. Idul Adha mengajarkan bahwa hidup bukan tentang memiliki sebanyak-banyaknya, tetapi tentang memberi sebanyak-banyaknya.
Setelah sholat Id selesai, Omjay berjabat tangan dengan banyak sahabat dan tetangga. Wajah-wajah mereka terlihat bahagia. Tidak ada perbedaan jabatan, status sosial, ataupun kekayaan. Semua berdiri sama di hadapan Allah SWT.
Inilah keindahan Islam.
Ketika manusia sujud bersama, semua kesombongan runtuh.
Sesampainya di rumah, keluarga berkumpul menikmati hidangan sederhana. Canda tawa kecil terdengar hangat. Anak-anak bercerita tentang pengalaman mereka saat melihat sapi kurban. Istri Omjay sibuk menyiapkan makanan sambil tersenyum.
Momen sederhana seperti itulah yang sering kali paling dirindukan ketika waktu berlalu.
Omjay kemudian teringat pesan orang tua dahulu:
"Jangan menunggu kaya untuk membahagiakan keluarga. Hadirmu yang tulus sudah menjadi kebahagiaan terbesar mereka."
Kalimat itu terasa begitu dalam.
Di zaman sekarang, banyak orang sibuk bekerja hingga lupa pulang secara emosional kepada keluarganya. Badannya ada di rumah, tetapi pikirannya tetap berada di kantor, media sosial, atau urusan dunia lainnya.
Idul Adha mengingatkan Omjay untuk kembali memeluk keluarga dengan hati.
Ketika proses penyembelihan hewan kurban dimulai di lingkungan sekitar, Omjay melihat begitu banyak warga bergotong royong. Ada yang membantu memotong daging, ada yang membagikan kantong kurban, ada yang membersihkan lokasi, dan ada pula yang menyiapkan makanan untuk para panitia.
Di situlah Omjay kembali melihat indahnya kebersamaan.
Kurban bukan hanya ibadah individual, tetapi juga ibadah sosial yang memperkuat persaudaraan.
Omjay terharu melihat senyum warga yang menerima daging kurban. Mungkin bagi sebagian orang itu hal biasa. Namun bagi sebagian lainnya, daging kurban adalah makanan istimewa yang belum tentu bisa dinikmati setiap hari.
Kadang kebahagiaan terbesar bukan saat menerima, tetapi saat melihat orang lain tersenyum karena pemberian kita.
Di tengah suasana Idul Adha itu, Omjay merenung cukup lama.
Hidup ini ternyata sangat singkat.
Manusia datang dan pergi silih berganti. Jabatan suatu hari akan selesai. Harta suatu saat akan ditinggalkan. Popularitas pun tidak akan dibawa ke liang kubur.
Yang akan tetap tinggal hanyalah amal kebaikan dan cinta yang pernah diberikan kepada sesama.
Karena itu, Omjay ingin menjadikan Idul Adha bukan hanya seremoni tahunan, tetapi momentum memperbaiki diri. Menjadi suami yang lebih baik. Menjadi ayah yang lebih hadir bagi anak-anak. Menjadi guru yang lebih tulus mendidik murid-muridnya. Menjadi manusia yang lebih bermanfaat bagi orang lain.
Sore harinya, keluarga kembali berkumpul. Aroma sate dan gulai memenuhi rumah. Anak-anak tertawa riang. Suasana terasa hangat dan penuh cinta.
Omjay sadar, inilah harta yang sesungguhnya.
Bukan rekening yang besar. Bukan rumah megah. Bukan kendaraan mewah.
Tetapi keluarga yang masih bisa berkumpul, bercanda, dan saling mendoakan.
Sebab tidak semua orang masih memiliki kesempatan itu.
Ada yang Idul Adha tahun ini kehilangan ayahnya. Ada yang kehilangan ibunya. Ada yang harus merayakan hari raya di rumah sakit. Ada pula yang merayakan Idul Adha dalam kesendirian.
Karena itulah, Omjay belajar untuk tidak menunda bersyukur.
Sebelum malam tiba, Omjay kembali memandang langit sambil mendengar gema takbir yang masih berkumandang dari kejauhan. Hati terasa tenang.
Dalam diam, Omjay berbisik:
"Ya Allah, jika suatu hari nanti Engkau mengambil semua yang kumiliki, jangan pernah Engkau ambil rasa syukur dan cinta dalam keluargaku."
Idul Adha akhirnya mengajarkan satu hal yang sangat penting bagi Omjay:
Keluarga adalah tempat pulang terbaik. Keikhlasan adalah kekuatan terbesar. Dan berbagi adalah jalan menuju keberkahan hidup.
Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H.
Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita, melapangkan hati kita untuk saling berbagi, serta menjaga keluarga kita dalam cinta, kesehatan, dan keberkahan.
Barakallah fiikum.
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd
Omjay Guru Blogger Indonesia
[Blog Omjay Guru Blogger Indonesia]
https://wijayalabs.com
