Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Kisah omjay kali ini tentang Ketika Saran Seorang Sahabat Menyentuh Hati Bangsa dan Menggerakkan Guru untuk Menulis. Sebuah artikel yang dituliskan oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) dan Guru Blogger Indonesia.
Pagi hari itu udara Wanaraja Garut terasa begitu sejuk. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan. Burung-burung berkicau menyambut datangnya mentari. Seperti biasa, setelah menunaikan salat Subuh dan menikmati secangkir kopi hangat, Omjay membuka ponsel untuk membaca berbagai berita yang sedang menjadi perhatian masyarakat.
https://youtu.be/Jv8ys6DR4SU?si=-oBDHyRAAt8S0oU4
Salah satu berita yang menarik perhatian Omjay adalah saran yang disampaikan oleh Dino Patti Djalal kepada Presiden Prabowo Subianto. Beliau menyarankan agar perjalanan luar negeri dapat lebih selektif dan sebagian agenda komunikasi internasional memanfaatkan teknologi digital seperti konferensi video dan pertemuan daring.
Ketika membaca berita tersebut, Omjay tidak langsung berpikir soal politik atau diplomasi. Pikiran Omjay justru melayang kepada dunia pendidikan. Dunia yang telah Omjay jalani sejak tahun 1994. Dunia yang mengajarkan bahwa sebuah kritik atau saran yang tulus sering kali menjadi jalan menuju perbaikan.
Omjay teringat masa-masa awal menjadi guru. Saat itu usia masih muda, semangat sedang membara, dan ego kadang masih tinggi. Ketika mendapat kritik dari guru senior, hati terasa panas. Rasanya ingin segera membela diri. Namun perjalanan waktu mengajarkan sesuatu yang sangat berharga.
https://youtu.be/kOn8KLdZZnc?si=mIsVfu47HszB3NSp
Tidak semua orang mau mengingatkan kita. Tidak semua orang peduli terhadap kemajuan kita. Banyak yang memilih diam. Banyak yang hanya menjadi penonton. Bahkan tidak sedikit yang lebih suka membicarakan kekurangan orang lain di belakang daripada menyampaikan masukan secara langsung. Karena itulah, ketika seseorang menyampaikan kritik dengan niat baik, sesungguhnya ia sedang memberikan hadiah yang sangat mahal.
Hadiah berupa kepedulian. Hadiah berupa perhatian. Hadiah berupa kesempatan untuk menjadi lebih baik. Saat merenungkan hal itu, Omjay teringat pengalaman besar yang dialami dunia pendidikan ketika pandemi Covid-19 melanda. Siapa yang menyangka bahwa jutaan guru dan siswa Indonesia akhirnya belajar menggunakan teknologi digital?
Berbagai aplikasi yang sebelumnya terasa asing mendadak menjadi sahabat sehari-hari. Awalnya memang tidak mudah. Banyak guru kebingungan. Banyak siswa kesulitan. Banyak orang tua harus beradaptasi. Namun perlahan kita belajar.
Kita menemukan bahwa teknologi bukan musuh. Teknologi adalah alat. Alat yang dapat mempermudah pekerjaan manusia bila digunakan dengan bijak. Sebagai Guru Blogger Indonesia, Omjay merasakan langsung manfaat teknologi tersebut.
Dulu jika ingin berbagi ilmu kepada guru-guru di berbagai daerah, Omjay harus naik pesawat, kereta, bus, atau kendaraan lainnya. Perjalanan membutuhkan biaya, tenaga, dan waktu yang tidak sedikit.
Sekarang? Cukup membuka laptop. Cukup membuka ruang Zoom. Ribuan guru dari Aceh hingga Papua dapat belajar bersama dalam satu ruangan virtual. Ilmu tetap tersampaikan. Persahabatan tetap terjalin. Semangat belajar tetap menyala.
Dari pengalaman itulah Omjay semakin yakin bahwa teknologi harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Namun ada satu hal yang sering membuat Omjay prihatin.
Banyak guru aktif menggunakan media sosial. Banyak guru rajin mengirim pesan di WhatsApp. Banyak guru membuat status Facebook setiap hari. Tetapi belum memiliki blog pribadi. Padahal blog adalah rumah digital yang akan menyimpan seluruh karya kita dalam jangka panjang.
Status Facebook bisa tenggelam. Pesan WhatsApp bisa hilang. Video TikTok bisa lewat begitu saja. Namun tulisan di blog akan tetap tersimpan dan dapat dibaca kembali bertahun-tahun kemudian. Omjay masih menyimpan tulisan-tulisan lama yang dibuat puluhan tahun lalu melalui blog pribadi.
Tulisan-tulisan itu menjadi saksi perjalanan hidup. Menjadi dokumentasi pengalaman. Menjadi jejak pengabdian. Menjadi warisan ilmu. Karena itulah Omjay selalu mengajak para guru untuk memiliki blog pribadi melalui https://blogger.com yang gratis.
Mengapa Blogger? Karena blog itu gratis. Mudah digunakan. Terhubung dengan akun Google. Dapat diakses kapan saja dan dari mana saja. Bahkan seorang guru yang belum pernah membuat website sekalipun dapat belajar membuat blog hanya dalam hitungan menit.
Bayangkan jika setiap guru Indonesia memiliki blog pribadi. Mereka bisa menulis pengalaman mengajar. Mereka bisa membagikan modul pembelajaran. Mereka bisa menuliskan praktik baik di kelas. Mereka bisa mendokumentasikan karya siswa. Mereka bisa menyimpan refleksi kehidupan yang penuh hikmah.
Lama-kelamaan tulisan-tulisan itu akan menjadi buku. Lama-kelamaan tulisan-tulisan itu akan menjadi sumber inspirasi. Lama-kelamaan tulisan-tulisan itu akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
Omjay sendiri merasakan keajaiban blog. Dari blog, Omjay dikenal banyak orang. Dari blog, Omjay mendapat kesempatan berbicara di berbagai daerah. Dari blog, Omjay berkesempatan belajar ke Jepang dan Tiongkok. Dari blog, Omjay bertemu sahabat-sahabat hebat dari seluruh Indonesia. Dari blog, Omjay belajar bahwa menulis bukan sekadar merangkai kata.
Menulis adalah cara mengabadikan ilmu dan pengala na itu Omjay selalu mengatakan:
"Tulisan saya adalah tabungan. Blog saya adalah banknya. Buku-buku saya adalah hasil panennya."
Kembali kepada berita yang dibaca pagi itu, Omjay mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau mendengar. Guru yang besar adalah guru yang mau belajar.
Pemimpin yang besar adalah pemimpin yang tidak alergi terhadap kritik. Penulis yang besar adalah penulis yang terus membuka diri terhadap masukan. Begitu pula guru yang ingin berkembang.
Mulailah menulis. Mulailah berbagi. Mulailah mendokumentasikan pengalaman. Jangan menunggu sempurna. Jangan menunggu pandai. Jangan menunggu pensiun.
Mulailah hari ini. Buatlah blog pribadi di Blogger. Tulislah satu paragraf. Besok tulis lagi. Lusa tulis lagi. Teruslah menulis setiap hari. Karena perjalanan terjauh bukanlah perjalanan ke luar negeri.
Perjalanan terjauh adalah perjalanan menuju kebijaksanaan. Dan salah satu kendaraan terbaik menuju kebijaksanaan itu adalah menulis. Mari para guru Indonesia, milikilah rumah digital sendiri.
Jangan hanya menjadi pembaca. Jangan hanya menjadi penonton. Jadilah penulis. Jadilah inspirasi. Jadilah guru yang meninggalkan jejak kebaikan melalui tulisan.Menulislah setiap hari.
Simpan tulisanmu di blog. Karena suatu hari nanti, tulisan-tulisan itulah yang akan bercerita tentang siapa dirimu kepada dunia.Semoga artikel ini dapat menggerakkan semakin banyak guru untuk memiliki blog pribadi dan menjadikan blog sebagai sarana berbagi ilmu, refleksi, serta warisan pemikiran yang bermanfaat sepanjang hayat.
Salam blogger persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

https://youtube.com/shorts/R1g1QJYFYGg?si=bcQbZS7ZzKCqX9eq