Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Saya merasa itulah kenyamanan. Saya merasa itulah kebahagiaan. Namun Allah memiliki cara-Nya sendiri untuk mengajarkan pelajaran hidup.
Beberapa bulan terakhir kesehatan saya menurun. Vertigo datang tanpa permisi. Tekanan darah naik turun. Diabetes harus terus dijaga.
Dokter meminta saya mengurangi aktivitas yang melelahkan, termasuk menyetir mobil sendiri.
Awalnya saya sedih. Sangat sedih. Saya merasa kehilangan sebagian kebebasan hidup saya.nSaya merasa seperti sedang "diturunkan kelasnya" oleh keadaan.
Dari yang biasa memegang setir sendiri, kini harus duduk sebagai penumpang. Dari yang bebas menentukan arah, kini harus mengikuti jalur yang sudah ditentukan.
Tetapi pagi ini saya tersenyum. Ternyata saya salah. Allah tidak sedang mengambil kebahagiaan saya. Allah sedang menggantinya dengan kebahagiaan yang berbeda.
Di dalam kereta LRT jabodebek pagi ini saya melihat banyak wajah. Semuanya penuh dengan cerita kehidupan manusia.
Ada ibu muda yang memangku anak kecilnya. Ada bapak tua yang membawa tas lusuh. Ada mahasiswa yang sibuk membaca materi kuliah. Ada pegawai yang masih mengantuk karena harus berangkat sebelum matahari terbit.
Mereka semua sedang berjuang. Mereka semua sedang membawa cerita kehidupannya masing-masing.
Tiba-tiba saya teringat almarhum ibu saya. Saya teringat bagaimana dahulu beliau bangun sebelum subuh.
Menyiapkan sarapan. Mencuci pakaian. Mengurus anak-anaknya. Semuanya ada enam orang. Ibu bekerja Tanpa pernah mengeluh. Tanpa pernah meminta penghargaan. Bahkan ketika lelah, beliau tetap tersenyum.