Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Kisah omjay kali ini tentang Kereta LRT Pagi dan Air Mata Kehidupan. Sebuah kisah nyata yang ditulis oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) dan Guru Blogger Indonesia untuk Kompasiana tercinta.
https://youtu.be/sijCjYxClUg?si=q8Wg5j2qiBePNCKX
Saat itu Pukul 05.50 WIB. Suara lembut pengumuman terdengar dari dalam kereta LRT Jabodebek. Pintu perlahan menutup. Kereta mulai bergerak meninggalkan Stasiun Jatibening Baru menuju Dukuh Atas BNI.
Saya duduk tenang di salah satu kursi prioritas yang masih kosong. Alhamdulillah pagi ini Allah memberikan kemudahan. Tidak perlu berdiri berdesakan. Tidak perlu terburu-buru mengejar waktu.
Kereta melaju perlahan. Dari balik jendela, saya melihat langit pagi yang masih malu-malu menampakkan cahaya. Jakarta dan Bekasi baru saja bangun dari tidurnya.
Lalu Kereta LRT melewati Stasiun Jatibening Baru. Kemudian melintas di dekat Stasiun Kereta Cepat Halim. Tempat dimana saya pergi ke Bandung hanya setengah jam saja.
Hanya dua stasiun yang saya lewati sebelum tiba di Cawang dan melanjutkan perjalanan menuju Dukuh Atas.
Namun pagi ini, perjalanan yang singkat justru membawa saya pada perjalanan panjang dalam kenangan kehidupan. Ingatan saya kembali kepada masa yang silam.

Dulu saya hampir tidak pernah naik transportasi umum. Selama bertahun-tahun saya terbiasa mengendarai mobil pribadi ke sekolah, ke kampus, ke seminar, dan berbagai kegiatan pendidikan.
Saya merasa itulah kenyamanan. Saya merasa itulah kebahagiaan. Namun Allah memiliki cara-Nya sendiri untuk mengajarkan pelajaran hidup.
Beberapa bulan terakhir kesehatan saya menurun. Vertigo datang tanpa permisi. Tekanan darah naik turun. Diabetes harus terus dijaga.
Dokter meminta saya mengurangi aktivitas yang melelahkan, termasuk menyetir mobil sendiri.
Awalnya saya sedih. Sangat sedih. Saya merasa kehilangan sebagian kebebasan hidup saya.nSaya merasa seperti sedang "diturunkan kelasnya" oleh keadaan.
Dari yang biasa memegang setir sendiri, kini harus duduk sebagai penumpang. Dari yang bebas menentukan arah, kini harus mengikuti jalur yang sudah ditentukan.
Tetapi pagi ini saya tersenyum. Ternyata saya salah. Allah tidak sedang mengambil kebahagiaan saya. Allah sedang menggantinya dengan kebahagiaan yang berbeda.
Di dalam kereta LRT jabodebek pagi ini saya melihat banyak wajah. Semuanya penuh dengan cerita kehidupan manusia.
Ada ibu muda yang memangku anak kecilnya. Ada bapak tua yang membawa tas lusuh. Ada mahasiswa yang sibuk membaca materi kuliah. Ada pegawai yang masih mengantuk karena harus berangkat sebelum matahari terbit.
Mereka semua sedang berjuang. Mereka semua sedang membawa cerita kehidupannya masing-masing.
Tiba-tiba saya teringat almarhum ibu saya. Saya teringat bagaimana dahulu beliau bangun sebelum subuh.
Menyiapkan sarapan. Mencuci pakaian. Mengurus anak-anaknya. Semuanya ada enam orang. Ibu bekerja Tanpa pernah mengeluh. Tanpa pernah meminta penghargaan. Bahkan ketika lelah, beliau tetap tersenyum.
Kini setelah usia saya melewati setengah abad, saya baru memahami betapa besar pengorbanan seorang ibu. Semoga Allah SWT menempatkan ibu di surga.
Kaum hawa sering kali menangis diam-diam. Mereka menangis ketika anaknya sakit. Mereka menangis ketika suaminya kehilangan pekerjaan. Mereka menangis ketika orang tuanya mulai renta. Mereka menangis ketika merasa tidak dihargai.
Namun hebatnya, air mata itu sering disembunyikan di balik senyum. Mereka tetap memasak. Tetap bekerja. Tetap melayani keluarga. Tetap menjadi sumber kekuatan bagi orang-orang yang dicintainya. Padahal hati mereka sedang rapuh.
Kereta LRT terus melaju. Saya kembali menatap keluar jendela. Pagi semakin terang. Gedung-gedung tinggi mulai terlihat jelas. Lalu pikiran saya melayang kepada cucu tercinta, Tanaya Faza Atisa. Biasa dipanggil Tata. Sekarang sudah dua tahun.

Beberapa hari yang lalu cucu saya genap berusia dua tahun. Melihatnya tertawa membuat hati saya hangat. Melihatnya berlari kecil membuat saya lupa pada segala rasa sakit yang pernah saya alami.
Saat memandang wajah cucu saya, saya sadar bahwa hidup bukan tentang apa yang kita miliki. Hidup adalah tentang siapa yang kita cintai dan siapa yang mencintai kita.
Mobil bisa rusak. Jabatan bisa berakhir. Harta bisa habis. Tetapi cinta keluarga akan selalu tinggal di hati.
Saya juga teringat masa-masa sulit ketika harus menjalani perawatan di rumah sakit. Rasanya sudah banyak rumah sakit saya datangi. Mulai dari rumah sakit Immanuel Bandung lalunrumah sakit harum Kalimalang dan rumah sakit antam medika.
Berbaring di ranjang rumah sakit membuat saya memahami satu hal.nTidak ada yang lebih mahal daripada kesehatan.
Ketika sehat, kita sering mengeluh. Ketika sakit, kita baru sadar bahwa bangun pagi tanpa rasa nyeri adalah nikmat luar biasa.
Ketika sehat, kita sibuk mengejar dunia. Ketika sakit, kita hanya berharap bisa kembali berjalan normal.
Saya pernah merasakan itu. Karena itulah sekarang saya lebih banyak bersyukur. Terima kasih ya Allah atas segala nikmat yang telah engkau berikan kepada hambamu yang hina ini.
Kereta LRT ini mulai mendekati tujuan. Para penumpang bersiap turun. Sebagian merapikan tasnya.bSebagian memeriksa telepon genggamnya. Sebagian lagi masih memejamkan mata.
Saya menutup laptop sejenak. Lalu menatap wajah-wajah di sekitar saya. Entah mengapa pagi ini hati saya terasa sangat lembut.
Saya sadar bahwa setiap orang yang ada di dalam kereta ini sedang berjuang dengan caranya masing-masing.
Mungkin ada yang sedang menghadapi masalah ekonomi. Mungkin ada yang sedang merawat orang tua yang sakit. Mungkin ada yang sedang kehilangan orang yang dicintainya. Mungkin ada yang sedang menyimpan air mata yang tidak pernah dilihat siapa pun.
Namun mereka tetap melangkah. Tetap berangkat. Tetap berjuang. Tetap berharap. Mereka berusaha menjemput rezekinya masing-masing.
Pagi ini Allah SWT kembali mengajarkan saya sebuah pelajaran sederhana. Bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Kadang kita harus kehilangan sesuatu agar bisa menemukan sesuatu yang lebih berharga. Saya telah kehilangan kenyamanan menyetir mobil. Namun saya telah menemukan ketenangan dalam perjalanan kereta LRT yang dibangun saat pemerintahan Jokowi.
Saya kehilangan sebagian kekuatan fisik. Namun saya menemukan kekuatan hati yang lebih besar. Saya kehilangan beberapa hal yang dulu saya banggakan. Namun saya menemukan rasa syukur yang jauh lebih indah. Terima kasih ya Allah.
Ketika kereta LRT berhenti dan pintu terbuka, saya mengucapkan pelan dalam hati. "Ya Allah, terima kasih atas perjalanan hidup ini."
Jika hari ini Anda sedang bersedih, bersabarlah. Jika hari ini Anda sedang menangis, yakinlah bahwa Allah mendengar tangisan Anda. Jika hari ini Anda merasa sendiri, percayalah bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Dan jika hari ini Anda masih bisa bangun pagi, berjalan, bernapas, serta memeluk orang-orang yang Anda cintai, maka sesungguhnya Anda adalah orang yang sangat kaya. Karena kebahagiaan sejati bukan terletak pada apa yang kita miliki. Melainkan pada hati yang mampu bersyukur atas apa yang masih Allah titipkan kepada kita.
Dari dalam kereta LRT Jabodebek menuju Dukuh Atas, Omjay menulis dengan hati. Bekasi -- Jakarta, Pukul 06.00 WIB. Tak terasa air mata ini menetes pelan-pelan di pipi tembem yang mulai menua dan melupa.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com




Nantikan peluncuran empat buku terbaru Omjay tanggal 17 Juni 2026 pukul 18.30 wib di zoom.